Mengukir Akhir

Mungkin cukup bisa dinalar, tatkala banyak orang yang justru pulas tertidur saat sesuatu mendekati akhir, sehingga yang tersisa hanya segelintir. Saya pun termasuk orang yang sulit beristiqomah mengerjakan sesuatu sampai akhir. Dahulu, saya pernah dinasihat oleh Om saya, untuk selalu mengerjakan sesuatu dengan tuntas. Sebab, sehebat apapun karyamu, kalau finishingnya jelek, ya tak akan memikat. Betapa enaknya kau membuat adonan donat, tanpa topping yang cakep, tanpa sentuhan akhir yang menawan, donatmu tak akan dilirik orang. Seberapa bagus ide-idemu, tanpa editing yang elok, karya akan terasa begitu berantakan.

Ya, banyak orang begitu bersemangat mengerjakan sesuatu di awal. Namun kurang konsisten. Berhangat-hangat kotoran ayam. Baru beberapa saat, kalor pun lenyap, tersisalah onggokan menjijikan. 

Seperti juga beramal di bulan Ramadhan. Lihatlah, di hari-hari pertama, masjid-masjid dibanjiri jamaah, seringkali takmir sampai harus menggelar tikar atau membuat tenda di halaman untuk menampung jamaah. Namun, berjalan satu pekan, jamaah mulai berkurang dan akhirnya kembali seperti sebelum bulan Ramadhan, sepi… Sementara, berkebalikan dengan masjid, mal-mal ramai, jamaah berhimpitan, rela antre bermeter puluhan hanya demi sekeranjang belanjaan berstatus diskonan.

Banyak orang melenakan akhir. Bosan, malas, atau... kehabisan tenaga. Ya, seperti kita mendaki gunung. Awalnya begitu gagah. Begitu melewati tanjakan-tanjakan, tenaga terkuras, akhirnya lemas. Dan kita kurang azzam untuk melakukan segala cara agar bisa sampai puncak, meski harus merangkak. 

Padahal, di akhir itulah penentuan status kita, tak hanya di mata manusia, tetapi juga di mata-Nya. Kau bisa saja menjadi bintang lari marathon saat start. Tetapi ketika kemudian kepayahan dan tidak bisa mencapai finish, kita tidak mungkin jadi juara. Kita mungkin punya masa lalu yang begitu cemerlang. Penuh amal gemilang. Tapi, apalah artinya semua itu jika kita menempuh akhir yang buruk.

Jangan lalai denga akhir, sebab itulah yang akan menjadikan nilai kita seperti, tak hanya di depan manusia, tetapi juga di mata-Nya. Kita mungkin punya riwayat hidup yang sungguh buruk. Terseok-seok saat mengambil ancang-ancang, berbekal seadanya, compang-camping bak kertas yang telah berlekak-lekuk. Tapi, kita akan tersenyum jika ternyata berhasil keluar dari gelapnya hidup dan menempuh akhir yang indah.

Terlebih jika akhir itu berarti akhir kehidupan. Allah berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).” (Adh-Dhuha: 4).

Jadi, mari kita mengukir akhir, tak peduli seberapa buruk awalanmu. Al-Imam Ibnu Al-Jauziy rahimahullah berkata, "Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish, dia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan, maka jangan sampai kuda lebih cerdas darimu. Karena sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya. Untuk itu, jika kamu termasuk dari yang buruk dalam penyambutan, maka semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan."

Mari raih sisa-sisa Ramadhan dengan sepenuh semangat dan kegembiraan. Mari mengukir akhir... 
Agar senyum tersungging di bibir... Sebab Kata Ibnu Taimiyah, "Yang akan menjadi ukuran adalah kesempurnaan akhir dari sebuah amal, dan bukan buruknya permulaan."

Sudilah kiranya Sobat membaca puisi sederhana saya ini di pungkasan renungan pendek ini.

MENGUKIR AKHIR

Sungguh, Tuan dan Puan
Inilah padang penuh berlian
Benderang, sungguh menawan
Membentang di muara Ramadhan

Sepuluh hari terakhir
Amalan akhiratmu, ayolah ukir
Hasrat dunia, sementara parkir
Agar tersenyum di hari akhir

Kurangi rehat
Perbanyak munajat
Jadikan sajadah alas jidat
dan lisan berbasah ayat

Mari mengukir akhir, Sahabat…

Solo, 27 Juni 2016

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengukir Akhir"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!