Jilbab Traveler LSIK: Film Romance yang Bikin Baper

"Kamu mencuri mimpiku, dan aku suka...," ujar Rania Timur Samudra, sembari menatap syahdu ke arah lelaki berambut awut-awutan yang baru saja lepas dari frustasi yang mendalam di depannya. Tidak ada sentuhan fisik dalam adegan yang berlangsung di puncak bukit yang indah di Korea Selatan. Namun, suasana romans yang santun menguar dan menembus hingga ke tulang sumsum (sedikit lebay, hehe). Kalimat yang diucapkan Rania itu, ternyata merupakan inti dari film berdurasi sekitar dua jam ini... Lha, kok? Baca saja review sederhana ini untuk mendapat jawabannya, ya... nah, kalau ternyata dalam review ini belum didapatkan jawaban yang memuaskan, saya anjurkan Anda nonton filmnya, hehe. Soalnya, sebagai pe-review, ada etika tidak boleh bikin spoiler, getooo.

Pas memutuskan nonton film ini, saya memutuskan untuk tidak menyetel mindset pada ekspektasi berlebihan. Asal bisa mendapat pencerahan sekaligus hiburan yang segar, itu sudah cukup bagi saya. Sebab, kalau bicara selera, sejatinya saya menyukai film-film rumit dan detail, dengan tema-tema yang agak mikir, dan itu sulit saya dapatkan dari film-film dalam negeri. Karena Forum Lingkar Pena merupakan salah satu komunitas yang secara resmi mendukung film ini (logo FLP dipasang gede di akhir film lhooo...), plus rekomendasi dari teman-teman SuFi (Suka Film hehe) yang saya kantongi, itulah yang membuat film ini masuk pilihan saya. JTSLIK tetap tak tergantikan meski berbarengan dengan film ini ada sederet film lain. Sabtu Bersama Bapak dan Rudie Habibie, itu saingan beratnya. Film lain, saya kurang tertarik.

Hari Selasa, 12 Juli 2016, jam 11.00 saya mengajak anak sulung saya, Anis meluncur ke Bioskop, rencananya sih mau ambil show yang jam 12.00. Datang lebih awal karena lokasi bioskop 21 Solo Square ada di jalur utama yang dilewati arus balik, hampir dipastikan macet. Sampai di 21 Solo Square on time sih, tapi ternyata antre tiket lumayan wow, membentuk 3 "ular panjang" yang dibatasi tali oleh petugas. Kebanyakan para remaja yang mau nonton film-film macam ILY from 38.000 Ft  atau Koala Kumal, banyak juga penonton keluarga yang memilih Rudie Habibie dan Sabtu Bersama Bapak. Tapi studio 5 tempat JTSLIK diputar juga nyaris penuh. Lumayan juga... untuk mendapatkan 2 tiket saya harus nunggu 30 menit. 

"Film sudah jalan setengah jam, Bu," ujar petugas tiket sambil tersenyum ramah.
"Ambil show berikutnya saja, Mi," bisik Anis. Saya mengiyakan. Anis tertawa senang. Modus tuh anak! Sebab satu setengah jam menunggu, pasti akan kami gunakan untuk main ke Toko Buku Gramedia yang ada di lantai bawah bioskop. Dan memang benar dugaan Anis. Kami main ke sana, dan dia sukses merayu saya untuk membayari dua buku pilihannya.

Di Antara Dua Cinta
Oke, jadi akhirnya kami nonton show yang jam 14.15. Film dimulai dengan pembuka yang mengharukan, tentang tiga bocah bernama Tia, Rani dan Eron yang berkejaran dengan kereta api yang "membawa pergi mimpi-mimpi mereka". Haru, karena tiga bocah itu adalah sosok yang saya kenal baik di alam nyata. Tia adalah Helvy Tiana Rosa, Rani adalah Asmarani Rosalba (Asma Nadia) dan Eron adalah si bungsu. Ya, Jilbab Traveler Love Spark in Korea ini memang novel semi biografi dari Asma Nadia. "Jilbab Traveler" mungkin lebih tepat ditujukan sebagai julukan Asma Nadia, bocah yang sejak kecil sakit-sakitan karena memiliki masalah pada paru-paru, jantung, gegar otak, dan tumor, dan bahkan karena itu dia tidak mampu meraih gelar sarjana. Namun, kerja keras dan karya yang dihasilkan, dia mampu terbang mengelilingi 60 negara dan 288 kota di dunia. Tidak semua cerita di sini merupakan biografi, sebagian fiksi... atau mungkin impian Mbak Asma Nadia sendiri, hahaha.

Rania (diperankan dengan apik oleh Bunga Citra Lestari), penulis terkemuka Indonesia, sang jilbab traveler, memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena sang ayah sakit. Namun, begitu bertemu, sang ayah justru menyuruhnya pergi ke Kawah Ijen, Baluran dengan misi mencari sesuatu yang akan menjadi pelabuhan jiwa. Sang ayah sangat percaya, karena di sanalah dia bertemu dengan perempuan yang akhirnya dia nikahi dan menjadi ibu bagi Rania dan kedua kakaknya, Eron dan Tia.

Rania pun pergi ke Baluran. Dan begitu adegan berpindah ke sana, saya langsung dibuat terpana dengan pemandangan Kawah Ijen. Duh, bagaimana mungkin sebagai orang Indonesia saya belum menjelajahi tempat seeksotis itu? Masuk agenda deh... next time. Yaa... jika Rania bertemu cinta sejatinya di sana, setidaknya saya bisa menguatkan cinta sejati saya dengan kanda tercinta ... cieee.... :-D

Jadi, siapa sosok yang ditemui Rania di Baluran? Apakah fotografer asal Korea yang cuek berambut gondrong awut-awutan namun ganteng dan apa adanya bernama Hyun Geun (Morgan Oey) yang dia jumpai di sana? Atau Ilhan (Giring Ganesha), pemuda santun, dewasa dan baik hati yang menjemputnya untuk mengabarkan bahwa sang ayah telah tiada?

Konflik yang akhirnya berkembang di film ini memang akhirnya Rania yang terjebak pada dua lelaki yang sama-sama menginginkannya menjadikannya belahan jiwa. Siapa yang akhirnya Rania pilih? Si X. Tetapi, takdir dan dorongan hati membawa Rania menjatuhkan hati ke si Y. Salah satu "takdir" adalah ketika Rania akhirnya mendapat undangan mengikuti Writers in Residence di Gangwon, Korea Selatan. Gang Won, tempat indah di mana Rania menjelajahi keindahan alam di sana, tetapi juga harus berhadapan dengan sebuah kenyataan yang pahit.

Siapa X dan siapa Y? Akan terjawab ketika Anda menonton filmnya...

Berbagai Kelebihan
Bicara kelebihan, mungkin subjektif, alias berbeda-beda antara saya dengan pembaca sekalian. Nanti kita bisa saling sharing, ya.... tetapi, menurut saya, view alias pemandangan yang digeber di film ini menduduki pesona pertama, alias juara di mata saya. Selain pesona Baluran, pemandangan Gang Won, dari suasana kota, pedesaan, bukit, lembah hingga salju yang keren juga diumbar tanpa pelit. Begitu memanjakan mata. Setting yang indah bisa menjadi "wakil mata untuk memandang dan kaki untuk menjejak" bagi orang-orang seperti saya yang memiliki keterbatasan, di antaranya masih momong anak-anak kecil, untuk menjelajah dunia. 

Oke... itu soal view. Kedua, soal akting. Saya mengapresiasi Bunga Citra Lestari dan Morgan Oey yang cukup total dalam berakting. BCL sukses memerankan Rania yang cerdas, baik hati, santun dan agak peragu alias tidak berani mengambil keputusan. Morgan Oey sukses memerankan fotografer cuek yang apa adanya. Sementara aktifng Giring Ganesha agak datar, mungkin karena perannya sebagai Ilhan memang karakternya relatif  begitu-begitu saja.Namun, peran yang paling saya sukai justru Dewi Yul yang bahasa tubuhnya mampu dengan apik memerankan seorang ibu yang sangat memahami siapa anaknya. Sedangkan peran yang berhasil menyegarkan suasana adalah akting Ringgo Agus (sebagai Alvin) yang cukup mampu "mengatur suhu" film ini. Alvin yang kocak, seakan sebuah variabel mediasi, tak berperan langsung, namun keberadaannya cukup dominan, dan sukses membuat para penonton terus ger-geran sepanjang film  ditayangkan.

Jalan cerita film ini sebenarnya relatif "easy", khususnya bagi pecinta kerumitan dan plot yang kompleks macam saya. Tapi ke-easy-an itu bikin saya malah fokus menikmati plot, dan feel yang dibangun juga dapat. Bahasa gampangnya, saya ikut baper gitu... hehe.

Terakhir, pesan pesan dakwah film ini sebenarnya kental, tetapi terasa begitu smooth, tidak menggurui, manis. Misal isu tentang Palestina yang dikemas dalam sudut pandang seorang traveler. Jika dicermati, Palestina bahkan menjadi penentu dari keputusan Rania memilih Y. (Siapa Y? Sekali lagi, tonton saja filmnya, hehe...). Namun pentingnya nilai Palestina dalam film ini tidak diorasikan sebagaimana khotbah Jumat, akan tetapi berjalan begitu alami dan masuk dalam alur cerita ini. Begitu juga dengan bagaimana Hyun Geun yang akhirnya menyadari bahwa sebagai muslim alkohol itu haram, memilih meninggalkan soju (minuman keras khas Korea Selatan) yang selama ini menjadi tradisi dan sangat lekat dalam kehidupannya dan kehidupan masyarakat Korea Selatan pada umumnya. Berbagai isu yang menyerang Islam, juga dijawab oleh para penyambung lidah Islam di film itu, baik Rania maupun Hyun Geun, bahkan Alvin, dengan cerdas dan santun.

Beberapa Kritik dan Saran
Salah satu komentar dari seorang teman ketika saya mengajak sharing tentang film ini adalah: "Ini sekuel Assalamu'alaikum Beijing, harusnya judulnya Assalamu'alaikum Korea," begitu candanya. Maksudnya, film ini begitu banyak kemiripan dengan salah satu novel Asma Nadia yang difilmkan dan sempat booming itu, apalagi tokoh lelakinya juga diperankan Morgan Oey. 

Saya juga merasakan ada beberapa kejanggalan dalam logika. Pertama, merasa janggal dengan ibu-ibu yang diasuh oleh Ilhan dan Rania lewat sebuah organisasi pemberdayaan perempuan. Katanya Kejar Paket C, tapi kok pelajarannya latihan membaca? Kejar Paket C kan setara SMA. Berarti pesertanya harus lulusan SMP atau Kejar Paket B, yang pastinya harus sudah bisa membaca dan menulis dengan lancar.

Janggal yang selanjutnya adalah kemunculan Alfin sebagai staf kedutaan besar RI Korea yang ternyata menjadi guide Rania di acara Writers in Residence. Ya bisa aja sih, dilogis-logiskan. Misalnya, diam-diam Alfinlah yang ternyata merekomendasikan Rania untuk ikut Writers in Residence di Korsel. Tapi ini membuat alur dalam film ini terkesan Lo lagi Lo lagi..." Eh, ngomong-ngomong soal Writers in Residence di Korsel nih..., saya berdoa semua suatu saat menyusul Mbak Asma Nadia dan mbak Sinta Yudisia yang telah sukses jadi alumni program tersebut. Aminkan, dong! :-D

Saya juga agak menyayangkan tentang kurangnya sorotan aktivitas Rania sebagai penulis. Jarang ada tuh, profesi penulis diangkat dalam sebuah film. Mestinya berbagai isu pentig dunia kepenulisan dan literasi bisa dikampanyekan di film ini.

Lepas dari itu, menurut saya, "Jilbab Traveler Lovespark in Korea" ini sangat pantas ditonton, melebihi ekspektasi saya saat baru berencana nonton. Filmnya menghibur, alurnya bikin seger, view menarik dan kisah cintanya... dewasa. Maksudnya tidak childish

"Cinta itu rumit, ya Mi..." ujar Anis, yang memang sudah mulai menginjak usia ABG. 
"Tidak, asal kita memiliki cukup kebijaksanaan dan kedewasaan dalam menyikapi," ujar saya. Ya, cukup kebijaksanaan dan kedewasaan. Karena cinta itu adalah upaya membuat yang kita cintai senantiasa bahagia. Dan, cinta tak selalu harus memiliki.

Jadi, siapa yang akhirnya memiliki Rania? Hyun Geun atau Ilhan? Kalau Anda jadi Rania, Anda pilih siapa?

Yuk ah nonton segera. Keburu turun layar!

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Jilbab Traveler LSIK: Film Romance yang Bikin Baper"

  1. Ya, porsi mengejar cita-cita, kepenulisan, dan percintaan tidak seimbang. Bumbu cinta lebih dominan... Namun di sisi lain film ini jadi alternatif film cinta yang layak tonton, bahkan untuk anak-anak jelang puber

    ReplyDelete
  2. masih sering menanti film dari novel mbak afra,
    de winst , sebuah sekuel yang membangkitkan semangat nasionalisme pemuda indonesia.,
    yang sudah mulai turun mental kebangkitannya..

    salute buat mbak afra., semoga segera difilmkan

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!