Mengenal KH Sholeh Darat: Guru Para Ulama dan Pahlawan

Suatu hari saya melihat suami tampak asyik membaca novel. Begitu serius dan menikmati. Kadang-kadang beliau manggut-manggut seperti baru mendapatkan pencerahan. Tumben suami saya bisa tekun sekali membaca novel. Penasaran saya lirik judulnya “Penakluk Badai.” Oh, wajar, itu memang novel bagus. Novel tentang biografi KH Hasyim Asy’ari, pendiri Ormas Islam Terbesar di Indonesia. 

Meski pernah membaca banyak komentar positif tentang novel tersebut, saya belum membacanya. Maka, begitu novel tebal itu ada di tangan suami, segera saya nge-take giliran baca. Hanya butuh waktu tiga hari untuk mengkhatamkannya, tentu saja karena saya membacanya di sela-sela aktivitas saya yang lumayan padat.

Panggung sejarah negeri ini, ternyata bukan hanya milik Sukarno Hatta. Begitu kesan pertama yang membingkas kuat di benak saya. Ada banyaaaak sekali tokoh besar yang selama ini kurang dipublikasikan. Maka, novel tersebut menginspirasi saya untuk mulai membuat tulisan singkat tentang nama-nama yang memiliki jasa besar untuk negeri ini, namun kurang dikenal. Meski novel tersebut berkisah tentang KH Hasyim Asy’ari, saya akan memulai dari guru beliau yang fenomenal, yaitu Mbah Sholeh Darat.

Wahai pembaca, siapa di antara Anda yang mengenal nama Mbah Sholeh Darat? Mungkin ada beberapa yang sudah familiar, bahkan tahu betul sepak terjang beliau. Tapi, saya yakin, yang baru mendengar pun tak kalah banyak jumlahnya.

Ya, serius! KH Muhammad Sholeh bin Umar As-Shamarani, atau yang dikenal sebagai Mbah Sholeh Darat (disebut Sholeh Darat karena beliau tinggal di kampung Melayu Darat, Semarang) adalah tokoh yang membuat saya sangat terkesan. Saya tahu, bahwa seorang  guru yang pintar, ikhlas dan bersahaja itu memiliki kemuliaan besar. Namun, guru yang berhasil mencetak nama-nama besar, guru besar, tokoh besar dan pahlawan besar, dia adalah guru yang luar biasa. Nah, Mbah Sholeh Darat ini, menurut saya merupakan satu dari sedikit guru yang luar biasa. 

Apa indikasinya? Hampir semua tokoh muslim yang hidup di zaman itu, ternyata pernah menjadi murid beliau. Selain KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah juga berguru pada beliau. Bagi saya, fakta ini menarik. Dua orang pendiri 2 ormas terbesar di negeri ini ternyata memiliki guru yang sama. Dalam novel ini bahkan diceritakan bahwa Darwis (nama kecil KH Ahmad Dahlan), ternyata bersahabat akrab dengan Hasyim saat berada di Ponpes Kyai Sholeh Darat. Hasyim sangat menghormati Darwis yang lebih tua darinya, begitu pun, Darwis sangat menyayangi Hasyim.

Begitu pula sejumlah nama ulama-ulama tersohor di tanah air seperti KH Mahfudz Tremas (pendiri Ponpes Tremas Pacitan, tempat mondok mantan presiden SBY), Kyai Idris (pendiri pondok pesantren Jamsaren, ponpes tertua di Solo), KH. Bisri Syamsuri (Pendiri Pesantren Mamba’ul Ma’arif Jombang), KH. Zarkasyi (pendiri Ponpes An-Nawawi Purworejo), KH Munawir (Ponpes Krapyak Yogyakarta), dan KH Abdul Wahab Chasbullah (Ponpes Tambak Beras Jombang).

Guru RA KArtini
Jangan dilupakan juga, bahwa Raden Ajeng Kartini, tokoh perempuan pelopor pendidikan yang sangat terkenal itu, juga merupakan salah satu murid beliau. Kartini sangat terkesan, karena Kiai Sholeh mengajarinya terjemah dan tafsir Al-Quran, sesuatu yang selama ini sangat didambakan. Sejak kecil, Kartini merasa penasaran dengan terjemah Al-Quran, dan pernah menanyakan arti ayat-ayat Al-Quran kepada salah seorang gurunya. Bukannya diajari baik-baik, Kartini malah dimarahi dan dianggap kurang ajar.

Ketika saya mencoba browsing, ternyata Belanda saat itu memang melarang dilakukannya penerjemahan Al-Quran. Dan banyak ulama saat itu mengharamkan penerjemahan Al-Quran. Menurut mereka, Al-Quran itu sangat suci, sehingga dilarang diterjemahkan dalam bahasa apapun. Hal tersebut menjadi pertanyaan besar di benak Kartini, dan kegalauan hatinya dia curhatkan kepada sahabatnya, Stella. 

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya. Begitu petikan surat Kartini kepada Estell "Stella" Zeehandelaar.

Oleh karena itu, Kartini sangat terkesan ketika Kyai Sholeh ternyata mengajarinya sesuatu yang sangat dia cari selama ini. Sebanyak 13 juz terjemah Al-Quran dan tafsirnya, mulai dari Al-Fatihah hingga Ibrahim ditulis oleh Kyai Sholeh dan dihadiahkan kepada RA Kartini. Tafsir dan Terjemah itulah yang kemudian diberi judul Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an, yang merupakan kitab terjemah dan tafsir Al-Quran pertama di nusantara. 

RA Kartini sangat tertarik dan mempelajari dengan sebaik-baiknya hadiah dari sang guru tersebut. Kumpulan surat-surat beliau bahkan diberi judul “Door Duisternis Toot Licht” dan oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Sejatinya, kalimat itu berasal dari firman Allah “minadz-dzulumati illa nuur” yang terdapat dalam Al-Baqarah: 257.

Kisah bergurunya RA Kartini kepada Kyai Sholeh ini baru terbuka setelah diceritakan oleh cucu Kyai Sholeh Darat, Nyonya Fadhila Sholeh. Sumber DARI SINI.

Putera Sang Pejuang yang Produktif Menulis

Banyak orang menganggap keilmuan Mbah Sholeh Darat ini menyamai tokoh ulama besar  Syekh Nawawi Al-Bantani, ulama asal Banten yang menjadi Imam di Masjidil Haram. Beliau lahir di Jepara, sekitar tahun 1820 /1235 H. Saat Perang Diponegoro pecah, beliau masih usia 5 tahun. Ayah beliau, KH Umar, adalah ulama yang bergabung bersama Pangeran Diponegoro saat perang melawan Belanda, dan mendapat medan pertempuran pesisir utara Pulau Jawa.

Kyai Umar mendidik puteranya untuk bisa menjadi ulama besar. Saat masih bocah, Kyai Umar menjadi guru untuk puteranya tersebut. Baru setelah beranjak remaja, Kyai Umar menyuruh sang putera berguru pada sejumlah ulama nusantara seperti Haji Muhammad Saleh Asnawi Kudus, Kyai Haji Ishaq Damaran, Kyai Haji Abu Abdillah Muhammad Hadi Banguni dan sebagainya, Kyai Sholeh pun pergi ke Mekah untuk berhaji dan menetap beberapa tahun untuk belajar agama. Di tanah suci, beliau berguru kepada banyak ulama besar seperti ulama-ulama besar, antara lain Syekh Muhammad al-Muqri, Syekh Muhammad ibn Sulaiman Hasbullah al-Makki, Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan, Syekh Ahmad Nahrawi, Sayyid Muhammad Salen ibn Sayyid Abdur Rahman az-Zawawi, Syekh Zahid, Syekh Umar asy-Syami, Syekh Yusuf al-Mishri dan lain-lain. 

Setelah sekian lama belajar di Mekah, Kyai Sholeh pun kemudian mengajar, khususnya sejumlah murid asal Melayu yang merantau untuk mencari ilmu di Mekah.

Sepulang dari Tanah Suci, beliau mendirikan pondok pesantren di Semarang, dan sejumlah murid berguru di sana. Murid-muridnya sebagian besar kemudian meneruskan jejak sebagai ulama besar, sebagaimana tersebut di atas.

Kyai Sholeh Darat juga merupakan seorang penulis yang produktif. Beliau menulis puluhan kitab, di antaranya Majmu’ah Asy-Syari’ah Al-Kafiyah li Al-Awam, Al-Hakim, Kitab Munjiyat, Kitab Batha’if At-Thaharah, dan Kitab Faidhir Rahman.

Peran penting beliau dalam sejarah adalah penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa, sesuatu yang sebenarnya dilarang oleh Belanda. Penjajah itu khawatir jika ajaran Al-Quran dipahami oleh rakyat Indonesia, maka akan muncul bibit-bibit perlawanan terhadap mereka. Susah-payahnya Belanda meredam perlawanan Perang Diponegoro, Imam Bonjol dan kemudian Aceh membuat para ilmuwan Belanda mencoba mencari jawab, apa sebenarnya yang membuat mereka sedemikian kuat melakukan perlawanan. Jawabnya, karena internalisasi ajaran Al-Quran yang begitu kuat, khususnya dalam masalah Jihad fii Sabilillah.

Agar tidak dicurigai, penulisan terjemah Al-Quran pun dilakukan dengan huruf Arab Pegon, yaitu aksara Arab dengan bahasa Jawa. Inilah yang kemudian membuat kalangan Islam mulai memahami ajaran agamanya, dan kemudian mendasari mereka untuk melakukan pembelaan terhadap tanah airnya yang terjajah.

Subscribe to receive free email updates:

10 Responses to "Mengenal KH Sholeh Darat: Guru Para Ulama dan Pahlawan"

  1. iya benar, banyak kaum ulama yg besar jasanya namun tak terekspos catatan sejarah. Lebaran kemaren saya mengunjungi museum gentala arasy di Jambi, di situ ada banyak catatan ttg kaum ulama yg besar jasanya dlm pendidikan islam di Jambi termasuk kitab2 yg mereka tulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan tugas para penulis dan jurnalis muslim untuk mencatat ulang kiprah mereka

      Delete
  2. sering dengar namanya, tapi belum tahu ada novel tentang kisahnya. Jadi penasaran ingin baca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau novelnya tentang KH Hasyim Asy'ari, salah satu muridnya. Tapi nama KH Sholeh Darat ada di dalamnya

      Delete
  3. Bikin bukunya, Mbak... Kumpulan kisah pejuang muslim untuk anak-anak...

    ReplyDelete
  4. Bagus. Cuma saya agak bingung dengan tahun lahir beliau 1903 (seumuran Sukarno), padahal Kyai Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah tahun 1912, sehingga umur beliau baru 9 tahun, jauh lebih muda dari pada Kyai Dahlan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih atas koreksinya
      Yang betul Mbah Sholeh lahir sekitar tahun 1820 /1235 H
      Sudah saya edit

      Delete
  5. Tentang KH. Hasyim Asyari, saya jadi penasaran dengan novel penakluk badai itu. Ulama2 kita di masa lalu, masya Allah keilmuannya ya... Dan kebanyakan beliau2 itu juga menuliskan ilmunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Habis ini, insyaAllah saya akan membuat profil KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!