Mengintip Semesta dari Teleskop NASA, eh CASA

Matahari dari balik teleskop. Koleksi Pribadi.

Suasana Pondok Pesantren Modern Assalam, Pabelan, Kartosura, sore itu sangat ramai. Di bangunannya yang megah dan asri, wajah-wajah para orang tua santri baru tampak bersemangat mengantar putra-putrinya untuk mondok di sana. Saya, suami, lengkap dengan 4 bocah saya sudah stand by di masjid, menunggu Mas Muflih Arisa Adnan, salah satu alumni Assalam sekaligus pegiat CASA (Club Astronomy Santri Assalam--singkatanya terkesan mirip NASA yak, hehe), yang masih berstatus sebagai mahasiswa pasca sarjana jurusan Teknik Kimia King Fahd University of Petroleum & Minerals, Dahran, Saudi Arabia. Mas Adnan ini merupakan salah satu alumni santri Assalam yang mendapatkan kepercayaan ikut mengelola CASA.

Yup, itu dia Mas Adnan, yang ganteng seperti Ridho Roma (sst, dia masih saudara lho, dengan kami), sudah datang. Tak sabar anak-anak berjalan menuju Observatorium Assalam yang berlokasi di belakang Aula Assalam Center. “Kita akan naik ke lantai 6, yaa…,” ujar Mas Adnan. Wiiih, lantai 6 tanpa lift? Meski menggendong si kecil Fatihan, saya tetap bersemangat.

Untungnya, di setiap lantai, ada ruang-ruang ber-AC yang berisi aneka peralatan dan kegiatan para santri yang bergabung di CASA. Misalnya, di lantai 4, kami bisa melihat foto-foto hasil peneropongan para santri yang dicetak ukuran besar. Ada planet-planet, galaksi, nebula dan sebagainya. Subhanallah. Dari foto-foto yang terpajang, teori bumi datar yang akhir-akhir ini sedang rame “dipaksakan” untuk diyakini, patah sudah. Ustadz AR Sugeng Riyadi, Pembina CASA yang juga hadir di sana hanya tersenyum tipis saat saya bertanya soal isu bumi datar. “Nggak usah teori macam-macam, datang saja saat rukyah hilal jelang puasa, nanti terlihat bukti jelas sekali bahwa bumi bulat.”

Di lantai 5, kami akan meneropong matahari. “Apa nggak silau, Mas?” Tanya Rama, anak saya nomor dua, yang terlihat paling antusius.
Mas Adnan sedang merangkai teleskop. Foto: koleksi pribadi
“Pakai ini, Dik!” jawab Mas Adnan, sambil memperlihatkan benda bulat pipih. “Ini filter matahari. Kalau tanpa ini, kertas saja bisa terbakar, apalagi mata kita.”

Suami saya kemudian menjelaskan teknik membuat api dengan mengarahkan lensa ke matahari untuk membentuk titik api. Saya yang agak lupa-lupa ingat teori itu ikut manggut-manggut.

Mas Adnan pun merangkai teleskop yang telah dikalibrasi dan dimasuki database, sehingga lensanya dengan otomatis bisa bergerak mengikuti posisi matahari. “Nah, sudah siap nih, teleskopnya, siapa mau meneropog matahari?”

Anis dan Rama menjadi yang pertama, berebut mereka meneropong matahari. “Kok kayak telor ceplok, ya Mi!” teriak mereka, girang. Ipan cemberut karena tidak mendapatkan giliran pertama. Namun cemberutnya segera pudar setelah akhirnya dia berkesempatan meneropong.

Yeiiiy, akhirnya neropong jugaaa...
Satu persatu dari kami pun mencoba mencicipi kemewahan mengintip semesta, termasuk saya. Hmmm, matahari sedang bersih dari aneka spot. Berwarna orange cerah. Indah sekali. Mas Adnan kemudian menyarankan saya untuk memotret dengan menempelkan kamera HP ke teleskop. Oh, ternyata susah juga ya, mendapatkan foto yang bagus. HP selalu goyah, sehingga gambarnya hilang, atau pudar saat saya mencoba menjepretnya. Namun, setelah berusaha berkali-kali, akhirnya saya dapatkan juga foto yang lumayan bagus, meski apa yang saya lihat dari balik teleskop jelas jauuuuh lebih bagus
.
“Berapa harga satu teleskop ini, Mas?” tanyaku pada Mas Adnan, iseng.
“Sekitar 40 juta rupiah, Bulik,” jawabnya.

Wow! Lumayan mihil. Padahal tadi, di ruangan saya lihat ada beberapa kotak besi berisi rangkaian teleskop. Menurut Ustadz Sugeng, total dana yang dikucurkan untuk membuat Observatorium Assalam mencapai sekitar setengah Milyar. Itu belum gedungnya yang lantai enam. Untuk sebuah instansi swasta, pondok pesantren pula (tapi ponpesnya Assalam, lho…), dengan jenjang pendidikan hanya MTs dan SMA/MA/SMK, ini sebuah terobosan luar biasa. Sebuah perguruan tinggi saja belum tentu punya.
“Benar-benar sebuah idealisme yang luar biasa ya, Ustadz,” puji saya, salut.

“Ya, cara untuk mendekatkan diri santri dengan kemahabesaran Allah SWT, dengan seperti ini,” ujar Ustadz Sugeng. Ya, betul sekali. Sebab, ayat-ayat Allah, bukan hanya yang tertera di kitab suci, tetapi juga yang terbentang di alam semesta.

Mempelajari astronomi sungguh banyak memberi hikmah. “Anda tahu, kalender yang ada di rumah-rumah kita, dibuat dari pergerakan tiga benda langit, yaitu bulan, matahari dan bumi. Dan selama ini, tidak pernah salah. Ya, kecuali 10 hari di kalender Masehi yang pernah dihapus dari kalender untuk menyesuaikan diri.” Papar Ustadz Sugeng. “Jadi, dari 2016 tahun masehi, hanya membutuhkan penyesuaian 10 hari.”

“Sepuluh hari yang dihapus?” saya tertarik untuk menelisik lebih lanjut.

“Ya, 10 hari dihapus dari kalender yakni 4 Oktober 1582 langsung diikuti dengan tanggal 15 Oktober 1582 di keesokan harinya.”

Ketika saya mencoba searching, memang pada Pada abad ke-16, equinox bergeser 10 hari, bulan baru bergeser 10 hari dari perhitungan kalender, sehingga berdasarkan Rekomendasi Paus Gregorius XIII: 10 hari dihapus dari kalender, 4 Oktober 1582 langsung diikuti dengan tanggal 15 Oktober 1582 di keesokan harinya (sumber: KLIK SINI). Equinox adalah salah satu fenomena astronomi yang rutin, dua kali setahun. Fenomena Equinox muncul karena sumbu utara-selatan Bumi tidak tegak lurus terhadap garis lintasan orbit Bumi terhadap Matahari (sumber: KLIK SINI).

Keberadaan Observatorium Assalam memang cukup menarik perhatian publik Solo akhir-akhir ini. Khususnya jelang Ramadhan dan Syawal, Observatorium Assalam menjadi salah satu pihak yang paling banyak dijadikan rujukan terkait dengan rukyah hilal yang mereka lakukan menggunakan peralatan canggih yang mereka miliki.

“Kenapa tidak mengambil kuliah di bidang astronomi saja?” Tanya saya pada Mas Adnan yang S1 dan S2-nya justru mengambil Teknik Kimia.
“Kalau dia ambil astronomi, dia tidak akan belajar kimia,” gurau Ustadz Sugeng.
“Hobbi, seringkali membuat kita lebih “gila” mempelajari sesuatu, Bulik,” kata Adnan.
Hm… ini quotes yang harus berbalik ke saya. Saya juga tidak belajar sastra secara formal, tapi saya bisa gila-gilaan dalam menulis dan membaca karya-karya sastra.

Oke, sebuah sore yang tak akan terlupakan dalam hidup saya. Kami pun berpamitan kepada Mas Adnan dan Ustadz Sugeng. Anak-anak menuruni tangga dengan wajah cerah dan penuh semangat.
“Bi, sekarang cita-citaku tidak dokter lagi, tapi mau jadi astronot!” kata Ipan, anak ketiga kami (5 tahun), mantap. Suamiku hanya nyengir mendengar celoteh Ipan.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Mengintip Semesta dari Teleskop NASA, eh CASA"

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!