Musibah Bernama: The Loss of ‘Adab’

Suatu hari, saya stalking di wall seorang aktivis. Cukup lama waktu saya tersedot ke sana. Oh, ternyata sedang ada diskusi yang “panas” di sana. Belasan orang saling beradu argumentasi. Awalnya sih, terlihat ilmiah. Lama-lama jadi debat kusir. Dan akhirnya semakin kehilagan kendali sehingga keluarlah kalimat-kalimat yang tidak layak disampaikan. Perihnya, belasan orang tersebut ternyata bukan orang-orang bodoh. Mereka berilmu, dan aktif dalam pergerakan Islam di negeri ini. Kasus-kasus semacam itu tidak satu dua kali saya lihat. Adu argumen, adu dalil, bahkan adu fatwa dan adu jotos. Saling blokir, saling remove, juga saling melaporkan akun media sosial.

Di manakah letak Islam yang katanya damai, penuh kesejukan dan rahmatan lil ‘alamin? Mengapa begitu masuk ke sebuah organisasi keislaman, kita sepertinya sangat gerah melihat perbedaan dan dengan segera ingin “menghajarnya”? Demikian juga, seringkali kita tidak menghormati yang lebih tua, dan menabrak unggah-ungguh alias tata karma yang berlaku. Lisan kita terlalu mudah protes dan tajam, sampai-sampai tak sadar telah menyakiti orang lain.

Ada satu pemikiran menarik dari Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, tokoh pemikir muslim terkemuka sekaligus pendiri The International Institute of  Islamic Thought and Civiliation (ISTAC), Malaysia. Menurut beliau, bencana terbesar yang menimpa kaum muslimin adalah the loss of adab, alias  hilangnya adab. Adab merupakan syarat terbentuknya adil. Lawan dari adil adalah zalim. Jadi, hilangnya adab membuat kita cenderung tidak adil alias zalim. 

Dalam KBBI, adab didefinisikan sebagai kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan, akhlak. Menurut para fuqaha, adab adalah melaksanakan sesuatu, berbahasa, bertingkah laku dengan benar dan bagus, dan senantiasa menghiasi diri dengan hiasan orang-orang yang memiliki keutamaan. Imam Bukhari bahkan menulis kitab khusus tentang adab berjudul al- Adab al-Mufrad yang berisi hadits-hadits Rasulullah tentang adab. 

Sedangkan menurut Prof Al-Attas sendiri, adab adalah amalan, tindakan, dan perbuatan yang benar.  “Adab is coming from hikmah,”  tulisnya. Adab lebih luas daripada akhlak, karena cakupan interaksinya juga lebih luas. 

KH Hasyim Asy’ari menyebutkan bahwa “syariat mewajibkan adab; barangsiapa tidak beradab, maka dia tidak bersyariat.” (Husaini, 2015: 170). 

Berabad-abad Islam berjaya di muka bumi karena para pejuangnya tidak meninggalkan adab. Adab membuat kaum muslim saling bersatu, dan lawan pun terpesona pada keindahannya. Segala sesuatu ada adabnya. Bahkan dalam masalah peperangan.

Namun, konsep adab kemudian rusak begitu kaum muslimin beriteraksi dengan konsep keilmuan ala barat. Masyarakat barat lebih menekankan nilai-nilai kehidupan pada kebebasan, individualisme, pragmatisme dan mendewakan logika dan ilmu sebagai solusi kehidupan. 

Konsep barat tersebut ‘berseteru’ dengan konsep adab dalam islam.  Sebab, dalam islam, adab lebih didahulukan dari ilmu.  Para salafus shalih mengajarkan kepada kita betapa adab adalah tanda tingginya ilmu, wara’ dan tawadhu’ seseorang.  Karena itulah, Imam Malik pernah menasihati seorang pemuda, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Imam Ibnul Mubarak berkata:  “Aku belajar adab selama 30 tahun, dan aku belajar ilmu selama 20 tahun.”

Sementara, Imam Ibnu Hanifah mengungkapkan, “Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlak luhur mereka.” 

Jika melihat fenomena saat ini, tampaknya pernyataan Prof Al-Attas di atas tak bisa kita bantah. Kita melihat jelas, bagaimana kaum muslimin saling menyerang, mengkafirkan, berkhianat, menelikung, menggembosi dan sebagainya. Kita hancur bukan karena diserang, namun karena saling berpecah belah dan membusuk. Ya, sedang ada sebuah bahaya besar menimpa kaum muslimin berupa  the loss of adab. Mari jangan hanya diam!




Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Musibah Bernama: The Loss of ‘Adab’"

  1. Jadi ingat sila pancasila, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Perlu penataran P4 lagi? ^_^

    ReplyDelete
  2. Luar biasa, sangat setuju. Adab menjadi salah satu pembeda yang nyata antara muslim dan non muslim.

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!