Karena Tubuhmu Punya Hak Atasmu

Beberapa waktu yang lalu, kita dikejutkan oleh meninggalnya seorang copywriter yang sangat mendadak setelah 30 jam kerja tanpa henti. "Spent the half night writing copy and finishing up a 23-page deck with a glass of vodka/red bull mix," tulis sang copywriter di akun twitternya sebelum meninggal. Saya membayangkan betapa si copywriter itu memiliki passion yang sangat tinggi di profesi yang dia geluti, dan tentu saja, workaholic.

Saya juga memiliki teman penulis yang sangat "gila" kerja. Pernah beliau memberikan sebuah naskah novel setebal sekitar seratus halaman ke penerbit tempat saya bekerja. Dan dia bilang, bahwa novel itu dia tulis dalam waktu dua hari non stop, nyaris tanpa tertidur kecuali hanya beberapa kejap. Teman saya tersebut memang luar biasa semangat kerjanya. Setelah kemudian melanglang buana di rimba kepenulisan, dia semakin larut dalam kerja ritme tingginya. Namun, beberapa tahun terakhir saya mendengar kesehatan beliau drop sekali, keluar masuk rumah sakit dan bahkan harus bedrest beberapa bulan. Padahal usianya saat ini belum 40 tahun.

Sementara, nasib seorang dalang yang berlokasi di Jawa Timur juga mengenaskan. Setelah semalam suntuk mendalang, paginya dia tak langsung beristirahat, namun meminum segelas besar kopi hitam pekat ditambah ciu (sejenis minuman keras). Nyawanya langsung melayang, dan baru diketahui beberapa hari kemudian, karena dia hidup seorang diri di rumahnya.

Ya, kematian itu takdir, kita tak bisa menghindarinya jika memang saatnya tiba. Akan tetapi, bagaimana cara kematian mendatangi seseorang, mari kita ambil pelajaran, dan sebisa mungkin kita hindarkan... 

Saat membuat tulisan ini, saya baru menerima kabar kematian seorang pemuda berusia 28 tahun, sebut saja Joni. Dia menghembuskan nafas terakhir di sebuah rumah sakit di kota Solo. Banyak orang terkejut, karena selain bahwa dia masih muda, masih lajang, terlihat sehat, belumnya tak pernah sakit serius. Sampai akhirnya dia mendadak pingsan dan dilarikan ke ICU. Ternyata liver dan ginjalnya kena. Dia sempat cuci darah, namun tim medis tak bisa menyelamatkan nyawanya.

Joni tinggal di Solo, bekerja di Jakarta. Solo-Jakarta sering dia tempuh dengan menggunakan motor. Ya, saat ini, bermotor dengan jarak sejauh itu tentu memang menjadi trend di kalangan anak-anak muda. Meski capeknya tentu luar biasa. Dan sebagai obat capek, alih-alih tidur atau istirahat, Joni justru sering mengonsumsi berbagai merek minuman berenergi dan obat kuat. Dia jarang makan makanan bergizi, kadang malah mengabaikan rasa lapar, merasa cukup dengan berbagai suplemen. Saat puasa kemarin, bahkan nyaris tiap sahur dia hanya makan mie instan, alasannya jarang ada warung buka. Oh, Joni yang malang... jika kau menyadari bahwa kebiasaan tak sehatmu itu membuat nyawamu melayang, mungkin kau akan waspada sejak dahulu.

Saya tak menampik, bahwa kadangkala saya pun bisa bekerja dengan durasi yang cukup lama. Lembur, begadang, kejar deadline. Saking enjoy-nya, saya kadang tak merasakan kelelahan. Rasa mengantuk saya hilangkan dengan meminum kopi. Alhamdulillah, sejauh ini belum tergoda untuk mengonsumsi minuman berenergi. Saya bersyukur, punya suami seorang dokter yang selalu peduli soal kesehatan. Doktrin beliau "Kalau lelah, istirahat!"

Ya, suami saya begitu konsisten dengan soal itu. Meski sering keluar kota dengan jarak menyopir sampai ratusan bahkan ribuan kilometer, beliau selalu berusaha untuk tidak menggunakan suplemen, meski sekadar kopi. "Pokoknya kalau ngantuk, ya mampir pom bensin, tidur." Kadang, saya jengkel juga dengan hal tersebut. "Mas, kalau ngantuk, ngopi dooong," begitu rajuk saya. Tapi beliau selalu bersikeras dengan komitmennya. Walhasil, akhirnya saya dan anak-anak menjadi terbiasa dengan pola beliau. Sampai-sampai orang tua di rumah pun hafal. Pernah kami berangkat dari Solo bakda isya, harusnya jam satu atau dua malam sudah sampai rumah ortu, eh ternyata baru jam tujuh pagi sampai. Ya itu dia, berhenti berkali-kali untuk tidur, plus menyempatkan sarapan di alun-alun Kota Purbalingga dulu. Hehe... soalnya anak-anak kelaparan berat.

Memang sih, kehidupan para pekerja kreatif itu relatif rawan terhadap bahaya kelelahan. Karena biasanya kerja free lance, dan kerjanya sesuai passion, seringkali terlalu enjoy dan bersemangat mengejar deadline. Hasilnya, alarm dari tubuh kita yang berdering-dering, saat tubuh minta diistirahatkan, tak kita dengarkan, kalah oleh tuntutan target.

Mari sobat, jangan sampai hal yang menimpa sosok-sosok di atas itu terulang kepada kita. Jaga kesehatan baik-baik. Sayangi tubuh kita. Istirahatlah jika lelah, jangan paksa tubuh bekerja terlalu keras. Jangan tertipu "sihir bugar" yang dijanjikan obat-obat kuat itu....

Saya sepakat dengan rekan saya, Benny Arnas, salah satu penulis produktif yang "antilembur", bahwa menjadi seorang penulis itu memang harus total, jangan tanggung-tanggung. Artinya, ketika kita ingin terjun di profesi tersebut, menceburlah sekalian, yang berarti kita punya jam kerja sebagaimana pekerja kantoran. Dengan cara seperti itu, kita terhindar dari himpitan beban kerja yang berlebihan. Misalnya, kita harus ngantor di siang hari, dan malam hari lembur menggarap naskah. Kudu pilih salah satu... ya, itu pilihan beraaaat. Apalagi jika pilihan menjadi penulis jelas kalah penghasilan dibanding pekerjaan lainnya. Tapi tak ada salahnya mencoba... hehe.

Intinya, mari kita perhatikan tubuh kita. Sebab, tubuh kita juga punya hak yang harus ditunaikan.

Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "Karena Tubuhmu Punya Hak Atasmu"

  1. Saya udah nggak sanggup begadang lagi Mbak. Jadi, tentukan jam malam. Kalau bisa dicicil sebelum malam udah pas targetnya, sambung lagi besok. Soale kudu bagi waktu juga dengan urusan domestik kan yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya masih sanggup begadang sebenarnya, tapi pagi kudu diganti jatah tidurnya hehe *sami mawon

      Delete
  2. Iya..menulis termasuk pekerjaan melelahkan. Dulu begadang nulis tiap malam nyante aja. Sekarang 2 3 hari berturut begadang nulis udh lemes. Jadinya sekarang begadangnya buat nonton descendants of the sun, hehe

    ReplyDelete
  3. Dulu termasuk workaholic dan hobi begadang, tapi sekarang udah 'kalem', capek ya tidur. Sayangnya, penyakit insomnia kadang masih muncul :D Pengalaman pribadi, kerja berlebihan gak cuman pengaruh kesehatan badan tapi juga psikis alias suka stres

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kalau sudah bisa teratur tidur. Bagi yang hobi begadang, susah lho untuk mengembalikan pola seperti semula. Jam biologis sudah berubah sih

      Delete
  4. Aku sendiri susah tidur cepat Mbk, biasa tidur jam 12 malam setelah tugas domestik, jadi begadang bukan nulis hahaha... Tapi, emang gak berani ngoyo. Ulis dikejar target. Kalau DL paling seminggu sekali ngejar lomba aja. Sayang kalau bangun telat.

    ReplyDelete
  5. Saya sangat setuju dan sudah melihat banyak buktinya. Biasanya mereka beralasan memang butuh atau kepepet atau...yah...memang kondisi orang beda-beda.

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!