The Power of “CUEK”: Antara Blur dan Fokus

Bagaimana perasaan Anda jika suatu hari ketika sedang pergi bersama suami tercinta, tiba-tiba melihat sebuah tragedi kecelakaan. Anda sudah mewek dan ingin segera turun dari mobil dan menolong si korban. Tapi suami Anda melarang. “Sudah ada polisi yang mengurus, Abi sudah ditunggu banyak orang.”

Mungkin Anda akan menganggap suami Anda kejam. Akan tetapi, apa reaksi Anda jika setelah membersamai suami ke suatu tempat, ternyata memang sudah ada ratusan orang yang sedang menunggu dokter yang hendak memeriksanya dalam sebuah ajang bakti sosial. Dokter yang mereka tunggu adalah suami Anda itu.

Bagaimana perasaan ketika mengetahui ada sepasang suami istri terjebak di hujan badai di sebuah rumah gubuk yang jauh dari tetangga. Mereka berdua sama-sama kelaparan, sama-sama butuh makanan, tetapi hanya ada satu nasi bungkus. Apa reaksi Anda jika melihat ternyata dengan cueknya si suami memakan habis semua nasi bungkus itu?

Suami kejam! Tak berperasaan. Well, sangat masuk akal, logis.

Tetapi, apa reaksi Anda jika kemudian melihat si suami itu lari menerjang hujan, melintas jarak berkilo-kilometer, tetapi sejam kemudian datang membawa makanan yang cukup untuk beberapa hari? Lalu suami itu berkata, “Maaf, Mi..., jika makanan itu hanya kumakan separuh, Abi tak punya tenaga yang cukup untuk melakukan ini semua.”

Sekarang, saya ingin bertanya, bagaimana jika dalam kasus di atas, si suami tidak bisa bersikap CUEK?

Cuek, biasanya identik dengan sesuatu yang buruk. KBBI menerjemahkan cuek sebagai masa bodoh, alias tidak acuh, tidak menaruh perhatian. Orang yang tidak pedulian terhadap orang lain, biasanya disebut sebagai si cuek. Lawan dari cuek adalah penuh perhatian.

Tetapi, ketahuilah... dalam kehidupan, cuek itu kadang penting, dan terlalu penuh perhatian adakalanya kontraproduktif.

Para pakar manajemen sering mengajari kita skala prioritas. Bukankah itu berarti mereka mengajari kita untuk perhatian pada satu masalah, dan mencueki masalah yang lain? Dan karena kita juga dianjurkan fokus, berarti yang harus kita perhatikan seksama, secara mendetail, justru lebih sedikit, sementara yang harus kita “cueki” itu banyak.

Hm, oke... ada yang  merasa keberatan dengan istilah cuek, sudah terlanjur bermakna negatif alias terpeyorasi. Oke, bagaimana jika saya memakai istilah lain, yaitu BLUR

Terkadang, dalam memandang kehidupan, kita perlu memakai teknik "blur", mengaburkan kedetilan, sehingga pemandangan tampak nyaman dan teduh di mata. Sebab, teknik "contrast" itu bikin mata pedih dan waktu kita akan habis untuk mengamati satu per satu dengan detil. Cuek membuat sesuatu menjadi blur, sementara terlalu perhatian membuat semua tampak detil, kontrasnya terlihat jelas, alias fokus.

Menjadikan sesuatu menjadi lebih teduh itu memang nyaman. Buktinya, kalau berada di pantai, atau padang pasir yang sangat panas, manusia senang memakai kaca mata hitam. Bukankah kacamata hitam itu aslinya menghilangkan kedetilan, karena membuat pemandangan menjadi lebih "blur"?
Ini bukan soal mengubur dan mengabur fakta... ini soal bagaimana kita memaafkan kesalahan-kesalahan yang sebenarnya kecil untuk konsen pada urusan-urusan besar.

Saya suka merasa kasihan kepada para detail-ers (bukan detailer obat ya, hehe), karena begitu mudah menghamburkan energi untuk memikirkan sesuatu dengan begitu mendalam, sementara itu tidak berkaitan langsung dengan kebaikan dan produktivitas kita.

Saya kasihan dengan para perfeksionis yang seharian bete, makan tak enak, tidur tak nyenyak akibat bertengkar dengan pasangan untuk sebab sepele: pasangan meletakkan handuk basah di kasur. Atau salah menaruh garam ke kopisusu.

Saya iba dengan para perfeksionis yang melihat bentuk tulisan miring sedikit saja, hidup serasa terkoyak dari harmoni. Pesan whatsapp atau BBM yang tak segera dibaca dianggap sebagai musnahnya segala asa.

Saya juga (pernah) menjadi detail-ers, saya juga (pernah) menjadi perfeksionis. Meski ya kadang ada hal-hal tertentu yang lupa atau lalai, alias tidak perfeksionis 100% (perfeksionis yang tidak perfect, catet yaa). Tetapi setelah merasakan "the power of CUEK" eh, “the power of ‘BLUR’” yang begitu nikmat, saya jadi ketagihan untuk menge-blur beberapa perkara.

Kadang, hidup memang akan terus berjalan dengan atau tanpa adanya kita. Dan kadang, permasalahan itu akan selesai tanpa kita perlu repot-repot menyelesaikan, alias sirna seiring waktu. Al waqtu juz'un minal 'ilaaj, kata pepatah. Waktu adalah bagian dari penyelesaian. Atau, kadang kita harus melihat sesuatu masalah dikerjakan oleh begitu banyak orang, sementara di tempat lain, kita bisa lebih banyak berkontribusi karena keberadaan kita sangat diperlukan.

So, kita perlu cuek dan meng-blur hal pertama, dan sangat perhatian dengan hal kedua.
Mungkin, kita perlu meniru cara kerja kamera. Kita akan mengatur fokus hingga mencapai kedetilan tertentu pada hal-hal yang kita memang merasa mampu dan berkaitan dengan hidup kita. Sementara, untuk hal-hal lain, kita perlu percaya kepada saudara kita yang diberikan kapasitas sesuai dengan bidangnya.

Jadi, mari kita nikmati "kecuekan" dan "keterbatasan" kita sebagai cara untuk survive dan menikmati hidup. Mari mainkan hidup kita dengan teknik kamera, sehingga kita tahu, kapan kita menge-blur, dan kapan memainkan fokus.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "The Power of “CUEK”: Antara Blur dan Fokus"

  1. Keren tulisan ini, saya suka cara mbak Afifah membahasnya euy:) Jadi merasa jleb juga ya sbg orang yang (kadang) perfeksionis :P makasih mbak, coba aj nge-blur2 sejenak utk bbrp hal, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah... kadang hidung harus realistis ya
      Karena kita memiliki keterbatasan-keterbatasan, sementara hidup harus memiliki prestasi, jadi mari kita fokus

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!