Kegagalan Itu Pedih, Jendral!

Suatu hari, saat membutuhkan jasa taksi, saya berjalan kaki sekitar 200 meter dari kantor ke pangkalan taksi. Ada tiga perusahaan taksi mangkal di sana, sebut saja taksi merah, taksi biru dan taksi putih. Taksi biru adalah best brand taxi di kota saya. Predikat best brand itu sudah saya buktikan berkali-kali lewat pelayanannya yang ramah dan profesional. Dua kali ponsel saya tertinggal di taksi biru, dan ternyata dikembalikan oleh sang sopir, adalah beberapa pengalaman berinteraksi yang membuat antara saya dan si taksi biru terbangun sebuah emotional attachment. Jadi, bisa Anda bayangkan, kan, taksi mana yang akhirnya saya pilih?

Ya, saya hampir melangkah menuju ke taksi biru, sampai sebuah pemikiran mendadak terlintas di benak. Haruskah saya selalu menaiki taksi biru? Tidakkah saya mencoba membangun pengalaman dengan taksi lain? Jika semua orang berpikiran seperti saya, maka taksi biru akan selalu unggul, uang mengalir ke mereka, keuntungan naik, dan mereka kemudian sejahtera. Tetapi, bagaimana dengan nasib taksi lainnya? Tak ada penumpang, pemasukan jeblok, lalu gulung tikar?

Sesaat saya termenung, sampai kemudian dibuyarkan oleh sapaan seorang bapak berbatik merah. “Monggo mbak, taksinya!” dia menawarkan taksi merahnya. Ramah, dan senyumnya tampak tulus. Tak banyak pertimbangan saya memutuskan naik taksi merah tersebut.

“Pakai argo, kan, Pak?” Tanya saya kepada sopir.
“Iya mbak.”
“Harus begitu,” ujar saya. “Dan argonya harus jujur. Saya pernah naik taksi yang argonya bergerak sangat cepat, hingga saya harus membayar ongkos dua kali lebih mahal daripada biasanya.”

Saya tidak bilang kepada si bapak bahwa brand taksi curang itu sama dengan taksinya. Namun si bapak langsung tanggap. “Ya itulah Mbak, ada sebagian dari kami yang suka ugal-ugalan. Mereka bikin jelek citra perusahaan. Sekarang sudah mulai ditangani manajemen, kok. Tapi, meski aturan sudah bagus, ya kami masih sulit bersaing.”

Sepanjang jalan, saya terus merenung, sembari sesekali berbincang dengan si bapak. Dunia usaha, seringkali memang merupakan sinonim dari sebuah kompetisi alias persaingan. Kadang persaingannya biasa-biasa saja, namun ada juga yang ketat, bahkan sangat ketat. Namanya persaingan, pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Yang menang bersorak, jaya, hidup dalam gelimang harta. Yang kalah terpuruk, bangkrut, tertimbun hutang.

Kita bisa saja mengatakan, ya… itulah bisnis.

Tetapi, jika kita pernah merasakan terpuruk, bangkrut, kehabisan modal—atau setidak-tidaknya menyaksikan orang-orang terdekat kita berjatuhan tak mampu bersaing, tentu kita tak bisa sekadar berkata, “memang begitulah bisnis.” Ada ceruk empati terbangun, mungkin kecil, mungkin besar.
Saya pernah menjadi “korban” bangkrutnya bisnis orang tua. Semuanya habis, ludes, bahkan rumah pun hendak disita oleh bank. Saat itu, hidup seperti mimpi buruk. Kuliah saja saya harus dibantu oleh kakak saya yang memilih tidak melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi karena bekerja di Jakarta. Karena itu, jika mendengar cerita-cerita kebangkrutan, hancurnya sebuah bisnis, gagalnya bersaing, saya suka merasa miris.

Kegagalan itu pedih, Jendral!

Gagal bersaing, bisa disebabkan oleh dua hal. Pertama faktor eksternal, yaitu situasi yang memang tidak bisa diprediksi sebelumnya, seperti orang tua saya. Usai pensiun PNS, beliau beternak ayam, dan ayam-ayam itu mati terkena virus flu burung yang saat itu memang menggila. Kedua, bisa jadi faktor internal, seperti malas berinovasi, tak memiliki attitude baik—seperti taksi curang yang saya sebut di atas, atau memang faktor kelemahan diri yang tak juga diperbaiki. Seringkali, faktor eksternal berkombinasi dengan faktor internal. Ancaman tidak segera diantisipasi karena secara internal dia merupakan pribadi yang malas berubah.

Memang menyebalkan juga, melihat orang-orang terdekat kita yang tak segera memiliki usaha-usaha perbaikan diri saat mengetahui bisnisnya dalam masalah. Jangankan perbaikan, malah dia petantang-petenteng terus bergaya seolah-olah menjadi orang superkaya, memamerkan hutangnya yang berjibun, dan terus menipu diri sendiri dengan berbagai mitos bisnis yang keliru.

Tetapi, jika kita melihat adanya sosok-sosok yang berusaha keras mengendalikan bahtera bisnisnya yang nyaris oleh diterpa badai, tak salah kita ulurkan tangan untuk membantunya. Bukankah begitu semestinya?

“Mbak, sudah sampai,” ujar si sopir taksi merah. Saya mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan menyerahkan kepadanya sambil berucap terimakasih. Taksi merah ini pelayanannya tak seburuk yang saya bayangkan. Jadi, tak mengapa jika suatu saat saya memakainya lagi. Bukan berarti saya meninggalkan si taksi biru. Saya tetap hormat pada usaha-usaha manajemen taksi biru untuk membuat usahanya berkelas dan profesional. Tetapi, saya juga merasa perlu membantu—sekecil apapun—perusahaan yang sedang berusaha keras untuk bangkit dengan berbagai perbaikan sistem manajemennya.

Itu saya. Bagaimana dengan Anda?

Subscribe to receive free email updates:

5 Responses to "Kegagalan Itu Pedih, Jendral!"

  1. iya, iya, baru keingetaannn...cara mikir kita mesti dari sisi yg sebaliknya juga ya...

    ReplyDelete
  2. Wah, dua kali ketinggalan hape itu lagi mikirin apaa? :p

    ReplyDelete
  3. Wah, sama mbak, saya juga pernah ngalamin jadi "korban" bangkrut, hehe, rasanya emang pedih. Tapi kita jadi selalu belajar selangkah lebih berempati pada siapapun :)

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!