Cinta, Semangat dan Rahasia Itu Lebur di Semangkok Sup Kaki Kambing

Mungkin Anda bertanya-tanya tentang maksud dari judul posting saya kali ini. Langsung saya jawab ya pertanyaan tersebut. Judul itu merupakan rangkaian dari 4 novel yang secara beruntun diterbitkan oleh Indiva Media Kreasi tiga bulan terakhir ini.

Keempat novel tersebut adalah "Bukan Cinta Semusim" (karya Maya Lestari GF), "Fighting, Songsengnim!" (judul aslinya "Semangat", karya Nuraisah H), The Secret of Room 403 (karya Riawani Elyta) dan terakhir "Cinta dalam Semangkok Sop Kaki Kambing" (Ifa Avianty). Maya Lestari GF dan Riawani Elyta mungkin sudah tak asing lagi di mata pembaca Indonesia.

Apalagi Ifa Avianty, yang merupakan salah satu penulis generasi Annida dan Ummi. Sedangkan Nuraisah H bisa dikatakan merupakan pendatang baru. Meski begitu, gebrakan Nuraisah termasuk mantap dalam kacamata saya. Sebab, karyanya masuk dalam 6 besar novel terbaik Lomba Menulis Novel Inspiratif Indiva (LMNI) 2014, menyisihkan sekitar 200an judul novel yang bertanding dalam lomba tersebut.

Jika dahulu Indiva termasuk cukup produktif menerbitkan novel, dua tahun terakhir, kami memang cukup selektif memilih naskah novel. Ya, terus-terang, pasar novel yang sedang "tertutup mendung" alias lesu, menjadi pertimbangan utama. Tetapi, untuk menghentikan sama sekali, kami tak akan tega. Sebab, sejarah Indiva, dari mulai berdiri hingga merangkak menjadi "bocah" berusia 9 tahun, tak pernah dilepaskan dari novel. Kami memiliki idealisme tersendiri untuk menjadi bagian dari pengembangan kesusastraan Indonesia, khususnya dalam dunia fiksi.

Jadi, novel terus kami terbitkan. Bahkan, kami juga menggelar Lomba Menulis Novel Inspiratif (LMNI) Indiva. Nah, tiga novel yang saya sebut pertama adalah juara-juara favorit LMNI. Sedangkan Mbak Ifa, meskipun tidak termasuk dalam juara favorit, kami terbitkan mengingat tulisan-tulisan beliau yang khas, penuh humor namun tetap dimuati pesan, memiliki tempat tersendiri di hati para penggemarnya.

CINTA
Kata ini saya ambil untuk mewakili judul novel "Cinta Segala Musim" karya Maya Lestari Gf. Novel ini dirangkai oleh diksi yang rapi, kalimat-kalimat yang indah dan puitis, namun tetap mudah dicerna. Konflik dibangun oleh karakter Rampak dan Rae (pemilihan namanya saya suka, mengingat tak semua penulis bisa memilih nama tokoh dengan sedemikian "anggun").



Rampak adalah seorang developer yang bangkrut, begitu bangkrutnya sampai-sampai mereka harus meninggalkan semua kemewahannya dan menetap di sebuah rumah kecil dengan segala keterbatasannya. Rae, dia ada dalam kebimbangan. Keluarganya berharap dia kembali untuk mencerap segala kemudahan hidup. Namun Rae memilih untuk setiap pada sosok yang diikat dalam mitsaqon ghalidza: sang suami.

Di tengah guncangan yang melimbungkan Rae memutuskan untuk menghadapi semuanya. 
Jika Rampak tak menyerah,dia pun tak ingin kalah.

Namun, justru di lingkungan kumuh, bergaul dengan masyarakat pinggiran, Rae dan Rampak justru mendapatkan "kemuliaan hidup" yang selama ini mereka abaikan. Ya, mereka mendapatkan kesempatan untuk berbakti kepada lingkungan. Rampak menemukan ide untuk membangunkan rumah-rumah sederhana namun sehat kepada masyarakat miskin di sekitar mereka.

Novel ini tak sekadar membicarakan asmara yang nyaris porak-poranda. Tapi juga idealisme dan kritik sosial. Lewat Rampak dan Rae, Maya seperti hendak mengkritik para developer yang hanya memburu penghasilan besar dengan menjadikan rumah sebagai bagian industri belaka. Industri telah menganak tirikan orang tak mampu. Mereka hanya peduli pada kalangan berdompet tebal. Sebuah realita yang memang kita dapatkan di masyarakat kita, bukan?

SEMANGAT
Nuraisah H, ternyata tak kalah piawi dengan para seniornya dalam meracik novel yang akhirnya diberi judul "Fighting, Songsengnim!" ini. Novel ini mengkisahkan seorang pendidik bernama Fatima yang bekerja di sebuah sekolah international untuk masyarakat Korea.

Zona nyaman Fatima seketika terenggut. Di tahun kelimanya bekerja, dia dimutasi ke sekolah cabang. Terpaksa tinggal jauh dari calon suami serta sahabat. Dia dihadapkan pada lingkungan dan rekan baru. Segalanya mendadak canggung dan asing baginya. 

Namun, di titik ini pula Fatima menemui pendewasaan. Di tengah liukan kisah cintanya dengan Angga yang tak jua berujung di pelaminan, Fatima terpanggil untuk terlibat lebih jauh dalam permasalahan salah satu anak didiknya. Satu tindakan yang lantas membuatnya bersinggungan dengan Lee Jun Ho. 

Seperti judulnya, "Fighting!" alias semangat, novel ini mengkisahkan suka duka Fatima dalam meniti berbagai problematika yang harus dia hadapi selaku pendidik. Ada saat-saat di mana Fatima ingin meninggalkan semuanya dan kembali ke zona nyaman, namun di saat seperti ini, seperti ada yang memanggil-manggilnya dan memberinya motivasi: "Semangat, Wahai Guruku!"

RAHASIA
The Secret of Room 403, karya Riawani Elyta, mengisahkan tentang seorang penulis top yang mendadak menerima tugas tak biasa. Dia diminta menuliskan biografi ayah seorang tokoh yang memiliki ambisi politik di negeri ini, tak tanggung-tanggung: menjadi presiden.

Simak sinopsis novel ini:

Aliff larut dalam kesibukannya menulis skenario sinetron. Kala dia berencana untuk rehat sejenak, Goerge datang menawarkan sebuah proyek. Proyek yang menariknya menuju sebuah titik pencerahan. Proyek yang juga menariknya pada pusaran tragedi masa lalu. 

Berbekal sebuah bundel misterius, Aliff dititahkan menulis novel biografis tentang sosok dari kalangan militer, ayah dari salah satu bakal calon presiden yang akan berlaga di pilpres mendatang. Kejanggalan demi kejanggalan dia temukan. Naluri dan nuraninya terhenyak. Terlebih saat Revi, gadis sederhana yang dia kenal di tengah liburan, menunjukkan sebuah buku catatan dengan tulisan tangan yang persis sama dengan tulisan dalam bundel itu. 

Hanya satu petunjuk yang ditemukan: 403.

Novel ini menarik, karena berbagai permasalahan politik kemudian dikemas sedemikian rupa, dan berpusat pada sebuah sebuah misteri tentang kamar nomor 403. Kamar ini menjawab segala kebingungan Aliff, namun juga menjadi awal Aliff untuk terlibat konflik yang mengancam jiwanya.

SEMANGKOK SUP KAKI KAMBING
Akhirnya, romantisme idealis, semangat membara sang pendidik, dan klimaks sang penulis yang terjebak dalam intrik politik, ditutup dengan hidangan yang manis, semangkok kisah konyol besutan Ifa Avianty: Cinta Dalam Semangkok Sup Kaki Kambing. Novel ini memang mengawali dibukanya lini RomCom (Romantic Commedy) di penerbit Indiva. Sadar bahwa masyarakat kita mungkin begitu banyak dibebani problem sosial yang kian berat, Indiva tak ingin menarik para pembaca pada kumparan konflik yang makin membuat depresi, meski hanya lewat cerita.

Maka, lini RomCom pun diterbitkan. Ifa Avianty, dengan segala kekhasan gaya berceritanya, dipilih menjadi pendahulu. Dari sinopsisnya saja, "corak" novel ini bisa ditebak.

“Mbak, saya pesan sop kaki kambing sama nasi. Jangan lupa cabe rawit yang banyak, terus dikasih acar timun. Minumnya es teh dua gelas, sama es batu yang banyak. Jangan gede-gede es batunya. Terus minta kerupuk kulit satu bungkus. Oh, ada empek-empek kan, Mbak? Waktu dulu saya ke sini ada soalnya.”
Brrrr. Kwek, kwek, kwek.
Si mbak tampak mencatat dengan tergesa sambil mengangguk.
“Mbak, Mbak, saya minta pergedel dua potong.”
Astaga. Ini beneran dia punya peliharaan naga di perutnya kali ya.
....
Stephanie si Putri Ketimun yang kerap patah hati, Awy sang Pangeran Naga yang dimabuk asmara, dan Gandhi si jejaka nerdy. Inilah kisah yang diduga cinta segitiga.

Namun, jangan khawatir. Meski genre-nya RomCom, novel ini cerdas dan juga sarat pesan, lho. Banyak orang bisa nulis komedi, tapi komedi yang cerdas dan manis, mungkin hanya beberapa yang bisa, Ifa Avianty adalah salah satunya.

Novel-novel ini sangat layak Anda koleksi. Dapatkan di toko-toko buku terdekat Anda ya?

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Cinta, Semangat dan Rahasia Itu Lebur di Semangkok Sup Kaki Kambing"

  1. Wah, pengiiiin bgt beli 4 novel ini. Bisa dibeli dimana, Kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa ke penerbitnya langsung 0819-0471-5588
      Atau ke Toko Buku Afra 0878-3538-8493
      atau ke Gramedia

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!