Boleh Poligami, Asal...

Saya bersyukur, berada di sebuah grup Whatsapp yang terdiri dari orang-orang hebat. Ada kandidat P.Hd, ada Ustadz, ada psikolog, dosen, dan yang jelas... semua penulis. Ya, mereka adalah sahabat-sahabat saya di BPP (Badan Pengurus Pusat) Forum Lingkar Pena. Grup ini sangat dinamis. Jangan harap ada guyon-guyon tak bermakna, atau sekadar posting ecek-ecek, sebab hampir semua diskusi kami cukup memeras otak dan memaksa buka-buka referensi.

Seperti diskusi tadi pagi. Temanya, POLIGAMI. Ehm... tema yang selalu gayeng dibicarakan. Tetapi menjadi kian segar jika para peserta diskusinya adalah para penulis. Baiklah, saya coba ringkas beberapa diskusi tersebut ya. Awalnya, ada seorang dari kami memposting berita tentang "Nikah Massal 14 Pasangan Poligami yang Didukung Istri Pertama."

Lalu, seorang teman (DIA LELAKI, CATAT, YA!) menyebutkan, "Saya tak suka poligami, melanggar prinsip kesetiaan. Cinta itu utuh, tak terbagi.Lelaki yang berpoligami adalah lelaki yang hasratnya belum terdidik."

Wah, bisa bayangkan, betapa ramainya bahasan setelah itu. Tetapi, uniknya, para lelaki di grup saya ternyata sepakat dengan teman yang tak suka poligami tersebut. Gus Awy misalnya, seorang cendekiawan dari Qism Nasyroh Hai-ah as-Shofwah al-Malikiyyah, Arab Saudi, mengatakan bahwa poligami itu sebenarnya solusi, tetapi saat ini, orientasi poligami kebanyakan hanya soal seks. Menurutnya, dalam memahami ayat tentang poligami, perlu difokusikan pada "Wa in khiftum alla ta'dilu" (dan jika kamu khawatir tidak bisa berlaku adil)..  jangan hanya dibaca fankihu maa thoba lakum (maka nikahilah perempuan  (lain) yang kamu senangi)-nya saja. (Silakan cek QS. An-Nisa': 3).

Beberapa teman yang menentang poligami, khususnya jika hanya berdasarkan orientasi seks, biasanya mendasarkan pendapatnya pada berbagai ajaran filsafat. Sementara, kita tahu, para filsuf, misalnya Plato, banyak meminggirkan seks saat membahas cinta. Demikian juga para psikolog, misalnya Maslow. Dia mendudukkan seks sebagai kebutuhan fisiologis, sementara cinta ada di kebutuhan ketiga. Seks bukan sinonim dari cinta. Eric Fromm juga agak meminggirkan seks, meski tidak sama sekali meniadakan.

Dalam pandangan saya, kedudukan seks dalam cinta, khususnya pernikahan yang syah, sangatlah penting. Seks, biasanya diasosiasikan dengan mawaddah. Sementara, cinta yang cenderung platonis, filial, kasih-sayang, diasosiasikan dengan rahmah. Mawaddah dan rahmah, sebenarnya saling mendukung. Mawaddah bisa menguatkan rahmah, rahmah bisa menguatkan mawaddah. 
Secara fisiologis, lelaki dominan mawaddah... karena anatomi fisiologi organ reproduksinya mendukung ke arah itu. Termasuk hormonalnya. Perempuan sebaliknya. Dominan rahmah. Karena perempuan dekat dengan anak-anak, dan sifat keibuan akan muncul, itulah asal muasal rahmah. 

Itu bakat alamiahnya. Namun, dalam perkembangan waktu, setelah menikah, idealnya baik lelaki maupun perempuan mengupayakan keduanya. Lelaki mengupayakan rahmah, perempuan mengupayakan mawaddah.

Tapi perempuan memiliki keterbatasan dalam mawaddah. Sedang lelaki tidak. Kelak, saat menopause, secara alamiah perempuan akan mengalami penurunan hasrat seksual, sementara lelaki tidak. Padahal seks, kata Maslow, masuk kebutuhan fisiologis.  Jadi, Islam memberikan kelonggaran dengan poligami. Dengan berbagai syarat yang berat.

Seks, dalam balutan iman, bisa jadi ibadah. Orang menikah karena ingin mensucikan diri, takut zina. Maka jadi ibadah. Poligami dalam kerangka seks pun menurut saya tidak masalah selama hasrat yang mendorong benar-benar dalam rangka pensucian diri. Bukan legitimasi selingkuh.

Poligami boleh dengan syarat kedua belah pihak sudah mencapai tahap Psychological Well Being (PWB). Kondisi dimana keduanya sudah matang secara kejiwaan. Tahu mengapa harus begini dan begitu. Kondisi semacam inilah yang akan mampu menimbulkan sifat ADIL. Tetapi, terkadang, lelaki yang sudah sampai tahap PWB justru mungkin berkurang minatnya pada poligami, khususnya yang berorientasi pada seks. WHY, karena lelaki yang sudah di tahap PWB itu SADAR BETUL apa risiko-risiko, kompensasi, efek, dan berbagai permasalahan yang akan dia hadapi. Dia sadar betul, bahwa poligami tanpa pertimbangan yang matang, senangnya hanya sesaat, repotnya seumur hidup. Dia mampu mengukur kapasitas diri, dan enggan merusak diri sendiri dengan bermain-main di area yang dekat sekali dengan jurang kezaliman.

Intinya, dia sadar betul, ADIL ITU SANGAT BERAT.

Kalaupun dia kemudian berpoligami, mungkin ada pertimbangan politis atau rasa iba dan ingin melindungi janda-janda mujahid. Hal inilah yang terjadi pada rasulullah. Jika mau, Rasulullah tentu sudah merasa cukup puas dengan Aisyah yang muda dan cantik. Nyatanya di sirah kita lihat dalam soal hati Rasul cenderung ke Aisyah. Dan istri lain pun beberapa memberikan jatahnya kepada Aisyah, misal Saudah.

Jadi, PWB adalah syarat mutlak. Kalau sama-sama masih kekanak-kanakan, poligami akan menjadi kontraproduktif. Saya setuju dengan pendapat Kang Topik Mulyana, "Saya coba tarik asumsi pake teori Bordieu: Jika belum sampai tahap PWB, Poligami itu rentan dengan kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik merupakan celah bagi kekerasan verbal. Kekerasan verbal adalah pintu masuk kekerasan fisik."

Diskusi kian menarik ketika Mbak Sinta Yudisia ikut ambil bagian. Menurutnya, kebanyakan permasalahan poligami pada akhirnya berujung pada masalah ekonomi dan psikologis. Ekonomi bisa diatasi. Yang berat adalah masalah psikologis. 

Mbak Sinta setuju, bahwa hanya yang sudah tahap PWB-lah yang bisa berpoligami dengan "relatif" tanpa masalah. PWB--Psychological Well Being, menurut Ryff (1989), adalah kondisi seseorang yang telah matang dan sejahtera secara psikologis, mampu beraktualisasi diri (berdasarkan teori Maslow), atau seseorang yang telah "berfungsi penuh" (Teori Rogers), atau kalau dalam istilah pendidikan zaman Orba dahulu: "menjadi manusia seutuhnya". Kalau dalam konsep agama, orang yang sudah muhsin, alias sampai tahap ihsan.

Menurut Ryff (1989), PWB itu meliputi enam dimensi sebagai berikut:

1. Penerimaan diri (Self-acceptance)
2. Hubungan positif dengan orang lain (Positive relations with others)
3. Otonomi(Autonomy)--alias punya internal locus of control, alias bisa mengendalikan diri
4. Penguasaan Lingkungan (Environmental Mastery)
5. Tujuan Hidup (Purpose of Life)--memiliki tujuan hidup, visi dan misi yang jelas
6. Pertumbuhan Pribadi (Personal Growth)--senantiasa mengembangkan diri untuk semakin baik

Orang semacam inilah, yang menurut saya mampu bersikap ADIL. Sebab, adil artinya seimbang, proporsional. Menurut Al Ghozali adil adalah keseimbangan antara sesuatu yang lebih dan yang kurang. Menurut Ibnu Miskawaih keadilan adalah memberikan sesuatu yang semestinya kepada orang  yang berhak terhadap sesuatu itu. Bahkan, emosi saja tidak boleh membuat kita bersikap tidak adil. "Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan." (Al-Maidah: 8).

Lawan kata dari ADIL adalah ZALIM. Untuk bisa seimbang, alias adil, orang harus terlebih dahulu stabil. Tidak mengalami kelaparan ego. Adil adalah hal paling mendasar bagi seseorang untuk bisa berbuat ihsan.

Ihsan dan adil, adalah buah dari kematangan pribadi seseorang, yang bisa dijabarkan secara psikologis dengan 6 dimensi tersebut. Hal tersebut dibuktikan dengan pengalaman empiris Mbak Sinta (yang memang berprofesi sebagai psikologi). Saat mendampingi klien yang "heboh" alias bermasalah dalam berpoligami,  ternyata sebabnya selalu berhubungan dengan adanya aspek dari 6 dimensi PWB tadi yang lemah, misalnya aspek personal growth, dan positive relations wiht other--khususnya komunikasi di aspek kedua. Suami istri tidak bisa jujur tentang poligami. Akibatnya sumbatan terjadi di mana-mana. Dan poligaminya pun jadi penuh masalah.

Jadi, sebenarnya poligami itu boleh, asal ADIL. Al-Quran adalah kitab suci dengan karakteristik bahasa ringkas, namun maknanya mendalam dan sangat luas. Apa definisi ADIL dalam ayat tersebut? Tentu di tafsir-tafsir sudah dijelaskan. Anda lebih layak merujuk ke sana. Dimensi Psychological Well-Being hanya salah satu upaya kami yang dha'if untuk membantu menjelaskan bagaimana ADIL itu, khususnya dalam perspektif psikologis.

Wallahu a'lam bish-showab.
__________________________________________
BUKU BARU
#DearHusband













Baca di sini!

Yuk, Segarkan Kembali Ikatan Pernikahan Kita!



Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Boleh Poligami, Asal..."

  1. Tiap senior FLP berdiskusi hanya bisa diam sambil muter-muter otak tidak jarang istilah yang digunakan belum pernah denger sebelumnya hehehe. TApi suka caranya membedah tiap bahasan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga kadang gak ngerti dan baru dengar istilah2 baru, hehe

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!