Gradasi Emosi

Tempo hari, saya pernah mendiskusikan perihal tulisan anak-anak yang tak mengenal "gradasi emosi", yang jika tak diedit, bakal berpengaruh kurang baik terhadap pembacanya. Contohnya, si anak menggunakan kata yang sama untuk musuh bebuyutan dengan adik kesayangan yang sedang berselisih paham.

"Brengsek kamu!" bentak Nino sambil melotot ke adiknya yang merusak mainan kesukaannya. Coba resapi, perkataan dan sikap itu mungkin sama dengan apa yang dilakukan Nino jika bertemu musuh besarnya. Itu artinya, Nino tak mampu membedakan, mana musuh, mana adik.

Mestinya, kalimatnya bisa diedit menjadi semacam ini, "Ayolah dik, jangan bersikap seperti itu, aku sedih nih mainanku kamu rusak lagi," ujar Nino, mukanya sedikit cemberut, mencoba menahan marah. Para pengasuh atau mentor sekolah menulis untuk anak-anak, mungkin bisa menekankan hal ini, demikian juga para editor di penerbit-penerbit yang memiliki lini buku yang ditulis oleh anak-anak.

Nah, akhir-akhir ini, saya menyaksikan fenomena yang agak mirip dengan kasus di atas, tetapi menimpa orang dewasa. Kejadiannya di sosmed. Ya, saya amati, ternyata sosmed hampir tak mengenal gradasi emosi, gradasi kemarahan, gradasi kekecewaan. Maka, ketika saya mendapat share tausiah dari Ustadz Achmad Satori Ismail, saya seperti terentak, lalu mangut-mangut.

"Dalam suasana konflik sekalipun, generasi terbaik ummat ini tetap mampu membedakan mana musuh sesungguhnya dan mana saudara yang hanya sekadar berselisih paham. Sikap inilah yang kemudian mampu menutup celah adu domba yang akan dilakukan oleh musuh, mapun 'orang lain di tengah kita.'"

Ya,baru sekadar berbeda sikap dan pilihan saja, kita tega memaki-maki saudara kita dengan makian seolah-olah saudara kita adalah seorang penjahat besar, penjilat nomor satu, ahli neraka dan sebagainya. Padahal, bisa jadi saat itu dia hanya sedang di gerbong lain, atau memiliki sikap sendiri yang menurutnya benar. Mungkin saja saat malah hari dia juga shalat tahajud, berdoa, memohon petunjuk, sementara kita justru malah terlelap, lalai dan ogah mendekat kepada Allah SWT.

Kemudian, jika kita melihat di sekitar kita, ternyata banyak juga orang-orang yang tak memiliki gradasi emosi. Misal, hanya karena melihat istri ngobrol dengan tetangga, kemudian palu godam melayang dan istri dihajar hingga babak-belur, seakan-akan dia adalah musuh besar. Hanya karena uang beberapa puluh ribu, rekan ditikam hingga mati. Hanya karena diganggu saat tidur lelap, anak diceburkan ke kolam.

Sebenarnya gradasi emosi ini terkait dengan kemampuan mengendalikan diri. Gradasi emosi itu bentangan warna dari putih hingga hitam. Di antara dua warna tersebut, kita akan menemukan berjenis-jenis abu-abu, mulai dari abu-abu sangat terang mendekati putih, hingga abu-abu pekat mendekati hitam. Jika kita mampu mengendalikan diri, kita akan bisa bersikap secara tepat tergantung jenis gradasinya. Namun, banyak di antara kita masih belum mampu menahan gelegak emosi, hingga sering sekali kita terjebak pada penilaian hitam dan putih. Ibarat sopir, kita belum mampu memainkan gas, kopling dan rem dengan baik. Mau jalan malah nabrak. Mau menurunkan laju kecepatan, malah ngerem dan berhenti total.

Yah, hidup memang membutuhkan berbagai softskill. Mungkin berat ya, menguasai soft skill khususnya pengendalian diri ini. Lebih gampang belajar hard skill. Tetapi, dengan latihan yang terus menerus, insya Allah kita akan bisa berkembang menjadi lebih bijak dan terkendali.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Gradasi Emosi"

  1. Semakin ke sini zaman semakin bahaya emang ya kak Afifah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, butuh diademkan...
      Dan saling mengingatkan

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!