Jangan Terpesona Barat, Mari Meng-Indonesia!

Suatu hari, saya termenung ketika membaca sebuah artikel yang menuturkan tentang gaya hidup para perempuan ibukota, khususnya yang berada pada level sosialita. Dengan entengnya mereka bercerita tentang program perawatan kulit senilai berjuta-juta rupiah yang secara rutin mereka lakukan, demi mendapatkan kulit yang cling alias bening. Tak cukup menjadikan kulit putih, jika perlu mendekati kulit para bule, mereka juga mempermak penampilan dengan mencat rambut menjadi pirang, lens kontak warna biru, dan mereparasi hidung dan dagu sehingga terlihat lebih “oke”.

Bukan suatu hal yang baru memang, jika banyak di antara warga negara kita, khususnya yang banyak terlibat dalam “pergaulan antarbangsa” yang merasa inferior dengan penampilan yang “tidak standard” dan akhirnya mencoba menyesuaikan diri. Kebetulan, teknologi juga memfasilitasi, dan duit juga tersedia. 

Tak sekadar tampilan fisik, tetapi hal-hal yang sifatnya non fisik juga. Seorang kenalan pernah bercerita, bahwa dia bertemu dengan beberapa akademisi yang juga dikenal sebagai pengamat sosial-politik jebolan kampus barat. Ketika kenalan saya menyapa dengan bahasa Indonesia, mereka acuh tak acuh. Namun ketika kenalan saya mencoba nimbrung diskusi mereka yang dilakukan dengan bahasa Inggris, mereka langsung antusias. Ternyata, kemampuan berbahasa Inggris menjadi standard dengan siapa mereka bergaul dan berinteraksi secara lebih intens.

Begitu pula, secara sadar atau tidak sadar, pemikiran, gaya hidup, kurikulum, sampai solusi dari berbagai problematika dari ranah pribadi, keluarga hingga bangsa dan negara, banyak mentah-mentah kita import dari barat. Jika kita perhatikan, semakin hari, bangsa kita semakin menjauh dari konsep kenegaraan yang dikehendaki para founding fathers. Misalnya, jelas-jelas konsep ekonomi negara kita yang dirancang oleh Bung Hatta dan para pendahulu adalah ekonomi kerakyatan dengan koperasi sebagai sokoguru. Namun, kian hari kita bangsa kita semakin menjadi kapitalis, dimana kekuatan modal tak sekadar bergerak menguasai pasar, tetapi juga mendikte para pengambil keputusan. Para pemilik modal bergentayangan di ajang-ajang pemilihan umum, dan siap menggelontorkan dana besar atas nama sumbangan kampanye, bagi calon yang mau memperjuangkan kepentingan mereka.

Jelas-jelas dalam konstitusi, negara kita adalah negara berketuhanan, meski juga disebut bukan negara agama (teokrasi), akan tetapi, kian hari kita kian menuju sekularisme di segala aspek kehidupan. Persis seperti di barat, di mana agama dipurukkan hanya di ruang-ruang penyembahan secara vertikal (transedental), dan dijauhkan sejauh-jauhnya dari ruang profan. 

Tampaknya, kita memang telah begitu terpesona dengan jerat memikat dari dunia barat. Para akademisi lulusan barat bergelar master dan doktor, tanpa sadar telah menjadi agen-agen yang menyebarkan pemikiran tersebut tanpa mencoba melakukan filtrasi. Kenyataan ini secara telak membenarkan postulat Ibnu Khaldun tentang sindrom bangsa yang kalah, yakni bangsa yang kalah akan mengikuti bangsa yang menang. Secara de jure, kita memang merdeka, namun secara de facto, kita dijajah secara peradaban.

Apakah salah mengikuti apa yang menjadi standard barat? Tak semua yang dari barat itu buruk, tetapi semestinya harus ada proses filtrasi. Soal fisik misalnya, mengapa orang Indonesia berkulit gelap? Karena Indonesia negara tropis, dan Allah telah begitu adil dengan memberikan melanin yang lebih banyak sebagai tameng menghadapi radiasi sinar matahari. Namun, sebagian dari kita justru “mengelupas” melanin tersebut dengan aneka program whitening. Bangsa kita telah memiliki pranata sosial sendiri yang berbasis kearifan lokal, namun kita justru hancurkan. Para pemuda di desa-desa dibuai dengan pesona metropolis, lalu berhamburan ke kota-kota besar, dan tinggallah orang-orang tua dengan sawah-sawah mereka yang terbengkalai. Padahal negara kita memiliki potensi agraris yang sangat tinggi, namun justru diabaikan. Fakultas-fakultas pertanian semakin sepi peminat, dan mungkin pada saatnya akan bubar.

Mari menjejak kaki ke bumi, dan sejenak lupakan barat. Menjadilah Indonesia dengan segenap kebanggaan sebagai bumiputera. Pelajari berbagai potensi yang ada, dan mari kelola bangsa kita dengan kekhasan yang memang telah Allah SWT berikan kepada kita.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jangan Terpesona Barat, Mari Meng-Indonesia!"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!