Oh Beratnya Menjalani Usia Dewasa Awal

Mamah-mamah muda itu tampak begitu ceria. Dengan gaya modis, tak ketinggalan make up dan aksesoris, mereka tertawa-tawa tanpa beban, ngobrol di restoran-restoran papan atas. Ceklek-ceklek-ceklek. Gambar-gambar mereka terekam dalam ponsel, dan sejurus kemudian, foto-foto mereka bertebaran di media-media sosial.

Ops, saya nggak sedang sinis sama mereka, ya. Sebab, sebagai sesama ibu, kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan saya, ciee...

Saya percaya, mereka memang ibu-ibu muda yang telah matang segalanya, "no problem mom" yang sudah melewati tahap kebutuhan fisiologi, safety, sosial, esteem hingga aktualisasi diri! Nah, kalau mengaca ke diri, kayaknya saya nggak bisa deh, se-enjoy itu menikmati hidup, dengan banyaknya "beban sosial" yang harus ditanggung. Oh, berarti kamu dong yang masih bermasalah dengan aktualisasi diri. Ya, bisa jadi! (nyengir kecut).

Tapi, begini ya, Saudara-Saudara... sejatinya, usia-usia dewasa awal adalah usia di mana kita dituntut untuk sangat serius. Ya, meski serius tak selalu bersinonim dengan muka cemberut, kening berkerut, serta kepala tertekuk di atas lutut, sebab, keseriusan bisa kok dijalani dengan jiwa yang tenang, santai, namun tetap on the track dan on progress.

Apa itu usia dewasa awal? Usia dewasa awal berkisar antara 18 sd 40 tahun. Mayoritas dari kita (pembaca blog ini), sepertinya masih berada di kisaran usia ini. Menurut Elizabeth Hurlock, masa dewasa awal adalah masa penuh masalah dan ketegangan emosi. Mengapa? Sebab pada periode ini, kita diharuskan menjalani beberapa status baru sekaligus--dengan segala hak dan kewajibannya. Apa saja?

Pekerjaan 
Kita mulai keluar dari sekolah dan bekerja, berinteraksi dengan dunia pekerjaan dan profesi. Banyak kalangan menganggap masa-masa dewasa dini adalah masa "peletakkan fondasi" dalam karir maupun bisnis. Gagal bersinar di periode ini, biasanya akan suram selamanya dan akan selalu berproblem dengan keuangan dan eksistensi terkait profesi.

Lingkungan Sosial
Kita sudah dianggap mandiri, lepas dari bantuan keuangan orang tua, dan dituntut mulai memiliki "posisi" di masyarakat. Seringkali, kita juga dituntut untuk ikut membantu keluarga, misalnya membantu membiayai sekolah atau ekonomi adik-adik yang belum mapan, karena usia orang tua yang semakin lanjut.

Pernikahan
Kita sudah memasuki usia pernikahan, dan berhadapan dengan proses pernikahan mulai dari proses mencari jodoh, ta'aruf, khitbah, walimah, dan proses adaptasi dengan pasangan dan keluarga besar pasangan. Kita harus mampu bersikap baik terhadap semuanya: pasangan, mertua, ipar, paman mertua... dan sebagainya.

Pengasuhan Anak
Kita juga kemudian menjadi orang tua, mulai memiliki keturunan, kadang baru punya satu anak tiba-tiba disusul kelahiran adiknya. Kita dituntut untuk menjadi orang tua yang baik, penuh perhatian dan mampu mempraktikkan program-program parenting yang baik. Tidak boleh mengabaikan hak anak, mencukupi kebutuhan fisik-psikis-spiritual mereka.

Ajaibnya, status-status itu menyatu pada usia dewasa awal dalam kisaran waktu yang sangat singkat. Tahu-tahu kita selesai kuliah, tahu-tahu kerja, tahu-tahu nikah, tahu-tahu berpisah dari ortu, tahu-tahu punya anak, tahu-tahu anak kita punya adik... 

Dan semua menuntut kesuksesan: pekerja/pebisnis yang sukses, anggota masyarakat yang sukses, istri/suami yang sukses, ibu/ayah yang sukses.

Semua menuntut kefokusan. Padahal, sebagian dari kita justru tak pernah mempersiapkan dengan sebenar-benarnya.

Banyak yang stres. Gagal semua dan porak-porandalah kehidupan dia sebagai manusia dewasa. Ada yang sukses sebagian, misal sukses di pekerjaan, gagal di kehidupan rumah tangga. Berat sekali mendapat vonis dari masyarakat. Ah, kamu memang ibu manager yang berprestasi, tapi lihat tuh, anakmu ingusan terus dan wara-wiri masuk rumah sakit. Salah sendiri sih, anak kamu serahkan pada pembantu yang hanya lulusan SD.

Atau sebaliknya, sukses mengelola anak-anak, tetapi ekonomi morat-morit gara-gara terbiasa pegang uang sendiri, mendadak harus resign dari pekerjaan dan menjadi ibu rumah tangga. Juga pandangan sinis orang-orang di sekitar. Katanya cum laude dari kampus bergengsi, lha kok akhirnya cuma jadi ibu rumah tangga. Nak, kamu ini ibu sekolahkan tinggi-tinggi, biaya mahal, tapi kok sekarang cuma ngurusi dapur, sumur dan kasur.

Pusiiiiiing!

Tenang, harap tenang! Jangan lari dari kenyataan. Saya juga tidak sedang menakut-nakuti, sebab itu memang hal yang harus kita hadapi. Jangan memandang remeh, jangan abai, tetapi juga jangan lebay.

Yang pasti, kita butuh amunis. Apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi hal tersebut? Kata Elizabeth Hurlock:

FISIK kita harus prima, sebab pada usia dewasa dini, begitu banyak peran yang harus kita kerjakan. Kita "tak boleh sakit" di usia tersebut.

MOTORIK harus bagus. Cekatan, prigel, multitasking.

MENTAL harus kuat, nggak boleh cengeng, nggak boleh manja. Termasuk harus bersandar pada nilai-nilai religius dan iman yang kuat.

MOTIVASI harus tinggi, tidak boleh gampang nglokro. Semua kesulitan, keruwetan harus diatasi dengan semangat tinggi.

MODEL PERAN/PANUTAN kita harus memiliki "model peran/role model" yang bisa diteladani dan menginspirasi kita untuk lebih baik.

Ayo, jangan pernah patah semangat meniti usia dewasa dini kita yang penuh dengan dinamika ini! Boleh-boleh aja kok, bernarsis ria dengan foto-foto "innocent", asal tetap terus menyadari bahwa di pundak kita masih banyak beban yang harus kita pikul, demi menyelesaikan "tugas-tugas perkembangan" itu dengan sukses.

Mari mencoba!

Referensi:
Hurlock, Elisabeth, B. 1980. Psikologi Perkembangan. Erlangga. Jakarta.

Subscribe to receive free email updates:

7 Responses to "Oh Beratnya Menjalani Usia Dewasa Awal"

  1. Assalamu'alaikum Bunda. Maaf mau tanya. Bunda dulu kuliahnya jurusan apa? Psikologi ya?
    Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikumussalam. Saya kuliah S1 di MIPA Biologi, lanjut S2 di manajemen :-D
      Nggak nyambung ya?

      Delete
  2. Menghela napas membaca artikel ini.
    Ya Allah, beri kami kekuatan.

    ReplyDelete
  3. Tampak happy dari luar, belum tentu happy juga di dalam hati, Mbak. Kadang-kadang itu strategi yang dilakukan seseorang agar dia terlihat 'normal' ^_^

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!