Afirmasi Positif dan Jalan Kesuksesan


Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa saat shalat, kita perlu mengucapkan bacaan-bacaan shalat kita? Mengapa tak cukup di batin saja? Bukankah ketika benak kita khusyuk, jiwa kita menyatu, itu sudah membangun kekhusyukan dan keterhubungan dengan Rabb kita? Mengapa pula ketika kita memiliki perasaan terhadap seseorang, misal rasa cinta, kita pun harus mengungkapkan perasaan tersebut?

Banyak orang berpikir, bahwa isi hati tak perlu diungkapkan. Cukup di batin saja. Karena apa yang berada di batin, pastinya akan tergambar dari sikap keseharian kita. Demikian cinta, konon tak perlu diucapkan, karena bahasa cinta itu bisa tertangkap oleh jiwa yang lembut. Cinta cukup melayang dari hati, dan akan tertangkap oleh hati.

Betulkah demikian?

Untuk menjawab hal tersebut, sebelumnya kita harus memahami, bahwa dalam diri kita terdapat dua jenis pikiran, yaitu pikiran sadar dan bawah sadar. Alam sadar bekerja berdasarkan panca indera. Otak merespon apa yang ditangkap panca indera, lantas mengolah dan membandingkan dengan apa yang sudah ada di memori. Setelah ada proses pengolahan dan perbandingan, otak akan memutuskan, respon spesifik seperti apa yang akan dikeluarka berdasarkan informasi tersebut.

Contohnya, Anda melihat makanan di atas meja. Pertama, mungkin bentuk makanan yang menarik dan baunya yang enak, akan merangsang otak kita. Lalu, tangkapan panca indera itu akan dibandingkan dengan memori otak, oh... saya pernah menyantap makanan seperti itu. Meski bentuknya menarik dan baunya lezat, tapi makanan itu sangat pahit dan sama sekali tidak enak. Maka, otak kita akan memberikan respon berupa lambung yang langsung mual karena menolak makanan tersebut.

Hal tersebut berbeda dengan pikiran bawah sadar, yang bekerja karena adanya perasaan, karakter, kebiasaan, memori jangka panjang, intuisi hingga kreativitas. Alam bawah sadar membuat kita bisa bersikap spontan, tanpa harus melakukan proses berpikir. Misalnya, saat saya bocah, karena mencongak alias menghafal perkalian satu sampai seratus, tanpa harus berpikir, saya langsung bisa menjawab pertanyaan guru.

Potensi alam bawah sadar kita ternyata luar biasa, karena menguasai hampir 90% pikiran kita. Kesuksesan hidup, menurut para pakar, lebih banyak disebabkan oleh alam bawah sadar. Anak yang biasa bangun pagi langsung ambil air wudhu, hingga tua dia akan terbiasa melakukan hal seperti itu. Demikian juga, anak yang terbiasa membaca, maka secara otomatis, dia akan membuka buku ketika ada kesempatan. Karena kesuksesan hidup lebih banyak dipengaruhi alam bawah sadar, kita harus berusaha agar mampu mengendalikan alam bawah sadar kita.

Nah, salah satu cara agar kita bisa mengendalikan alam bawah sadar adalah dengan melakukan afirmasi positif. Apa itu afirmasi?

Afirmasi adalah pernyataan yang kita ucapkan terus menerus dan berkali-kali. Para ahli menemukan fakta bahwa afirmasi positif ternyata mampu mengendalikan alam bawah sadar kita. Misal, setiap hari, sebelum berangkat kerja, kita berkata berulang-ulang kepada diri kita, “Hari ini aku sukses. Hari ini aku semangat. Aku pasti bisa. InsyaAllah!”

Afirmasi juga bisa bersifat negatif, misalnya, "Aku ini jelek, aku bodoh, aku pecundang!"

Menurut Claude Steele (1988), afirmasi positif mampu membuat seseorang memiliki dan menjaga citra integritas, prinsip dan kompetensi yang kuat pada dirinya. Dalam keadaan lemah, tertekan, atau jatuh, kita juga bisa bangkit kembali dengan melakukan afirmasi positif.

Sedangkan afirmasi negatif sebaliknya, bisa menghancurkan konsep diri yang berujung pada kegagalan hidup kita.

Dalam ilmu perdukunan, kita tentu mengenal japa mantra, yang pada prinsipnya sebenarnya merupakan sebuah afirmasi. Dalam ajaran agama kita, berdzikir, mengucap dan menghafal ayat-ayat Al-Quran, termasuk bacaan shalat, menunjukkan bahwa proses afirmasi pun merupakan hal yang sangat penting dalam penguatan kepribadian seseorang.

Dalam kehidupan sehari-hari, jangan pernah merasa malu untuk selalu melakukan afirmasi positif, misal mengucapkan “I love you” kepada pasangan kita, atau mengatakan kepada anak-anak kita, “Anakku, aku sayang kalian.” Dan bahkan kepada sahabat, kita pun dianjurkan untuk mengucapkan perasaan cinta kita karena Allah kita lewat kata-kata, “Aku mencintaimu karena Allah”, sebagaimana yang sering kita dengar dari sebuah hadist riwayat Abu Dawud berikut ini:

Ada seorang laki-laki berada di dekat Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kepadanya lewat seorang yang lain. Laki-laki yang di dekat Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam! Sungguh aku mencintainya.” Maka Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau sudah memberitahukannya?” Ia menjawab, “Belum” Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Beritahukanlah kepadanya!” Kemudian ia mengikutinya dan berkata, “Sungguh aku mencintaimu karena Allah.” Laki-laki itu pun berkata: “Semoga engkau dicintai Allah, yang karena-Nya engkau mencintaiku.”

Semua itu adalah bentuk dari afirmasi positif. Ya, karena tak semuanya cukup untuk sekadar dibatin.



Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Afirmasi Positif dan Jalan Kesuksesan"

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!