Lelaki yang Cuma Bisa Bikin Anak dan Kabur, Nggak Ada Bedanya Sama Kucing Garong!

foto: pinterest.com
Malam itu, pintu kamar saya digedor-gedor. Saya spontan kaget dan melirik jam. Pukul 1 malam. Mungkin anak saya Ifan turun dari atas dan ingin tidur gabung ibunya. Sebelum saya bangun, suami saya ternyata lebih dahulu bangkit dan membuka pintu.
“Meoooong!” tiba-tiba terdengar suara seekor kucing. “Meooooong!”
“Darimana dia masuk?” suami saya kaget.
“Mungkin pintu kamar di atas terbuka,” duga saya.

Pelan suami saya mengeluarkan si kucing dari rumah. Bukan kami tidak suka kucing. Tetapi, Cacha, nama kucing yang datang malam-malam ini, statusnya entah milik siapa. Katanya sih punya tetangga seberang jalan. Dia sebenarnya cantik, dengan rambut berwarna putih, cokelat dan abu-abu. Tapi, dia senang berguling-guling di luar, dan kami tak tahu kebersihannya.

Cacha sering main ke rumah, karena anak-anak rajin memberi makanan. Satu lagi… dia sedang hamil. Pernah suatu hari kami temui si Cacha sedang tidur di dalam almari kamar kami. Tampaknya, dia sedang survey, tempat yang enak buat melahirkan.

Ini masalahnya! Saya pernah trauma dengan kucing melahirkan. Dulu, saya pernah nyaris dicakar oleh kucing yang melahirkan di lemari kamar Simbah. Konon, kucing yang baru melahirkan, galaknya minta ampun. Nah, mengingat anak-anak saya masih kecil, ada juga bayi 16 bulan, saya khawatir jika bayi saya, saking sukanya sama kucing yang menurutnya lucu, dengan lugu mendekati si kucing dan tiba-tiba kena cakar. Kan barabe!

Kami, dengan menyesal akhirnya mengeluarkan si kucing ke teras, dengan “suapan” sepotong ayam. Tapi, suara meongan si Cacha kok semakin keras. Terus menerus. “Abi, jangan-jangan dia melahirkan,” ujarku. “Mungkin dia gedor kamar kita karena mau lahiran di lemari. Coba dilihat, Bi!”
“Wah, ngantuk aku, Mi…” ujar suamiku. Saya sendiri sebenarnya juga ingin keluar. Tapi, si bayi Fatihan menahan langkah saya dengan tangisnya. Akhirnya, kami sukses tertidur.

Paginya, ketika hendak shalat subuh di masjid, suami saya berteriak. “Eh, si Cacha lahiran di teras. Awas, banyak darah.”

Saya pun keluar. Di teras, darah berceceran, bercampur cairan—mungkin ketuban. Di pojok, di belakang kursi, Cacha meringkuk dengan lima ekor bayi kucing yang mungil. Rasa iba di benak saya langsung merebak. “Ya ampuuun, Cha, benar, kamu lahiran di sini.”

Kami ribut mengambil kardus dan tumpukan kain bekas. Saya salah duga, ternyata Cacha tidak galak. Dia tampak sangat letih, mungkin kehabisan tenaga saat bersalin. Dengan mata mengantuk, dia menyantap beberapa potong tulang dan menyeruput nyaris separuh wadah air yang kami disediakan. Lalu dia memindah bayi-bayinya ke kardus yang lebih hangat dan empuk.

Tiga hari, si Cacha dan anak-anaknya ‘mondok’ di ‘rumah bersalin’ teras rumah. Selama ini, saya tak melihat ada kucing lain menengok, termasuk si kucing jantan. Siapa bapaknya? Kok, istrinya melahirkan, dibiarkan saja. Masak nggak ada keinginan sama sekali untuk mengetahui bagaimana keadaan anak-anaknya?

“Bapaknya nggak tanggung jawab, ya, Mi?” ujar anak saya, Anis.
“Namanya binatang, ya kayak gitu.” Suami saya, ayahnya anak-anak nyengir.
“Tapi burung nggak gitu. Kucing nggak kayak burung, kalau baru punya telur, yang betina menjaga telur-telurnya, dan burung jantan mencari makan. Ini kok, nggak tanggung jawab ya?” ujar Anis lagi.
“Manusia yang kayak gitu juga ada, kok,” timpal saya. “Bikin anak di mana-mana, tapi nggak tanggung jawab.”

Perlu Anda ketahui, Anis saat ini sudah hampir 13 tahun, dan sudah baligh. Menurut saya, dia sudah saatnya diajak ngomong 'dewasa'. Tentu dengan dosis yang proporsional.
“Ada, manusia yang kayak kucing?” Anis heran.
“Bahkan lebih dari kucing. Bikin anak, nggak mau tanggung jawab, dan malah merongrong istrinya.”
“Kalau gitu, lelaki seperti itu lebih buruk dari kucing garong, dong!”

“Iya, makanya, hati-hati ya kalau besok ketemu lelaki. Cari yang seperti burung, yang bertanggung jawab dan sayang sama istri. Jangan yang seperti kucing garong. Istrinya dibiarkan sendiri mengurus anak-anaknya, eh dia malah asyik kesana kemari.”

Mendadak, saya merasa lelah menyadari makna percakapan yang sekilas ringan namun sebenarnya berat itu. Kian hari, jumlah lelaki yang tak bertanggung jawab memang semakin berjibun saja jumlahnya. Para perempuan, saat ini banyak yang tak hanya mengurusi kehamilan, kelahiran dan juga pengasuhan anak, tetapi juga ikut berjibaku mencari nafkah.

Saya bertemu ibu A. Suaminya kabur dari rumah, meninggalkan istri dan anaknya yang saat itu masih 3 tahun. Sampai sekarang, suaminya belum juga kembali, padahal si anak sebentar lagi masuk SMP. Ibu A pun akhirnya merantau untuk menjadi pembantu rumah tangga.

Saya bertemu ibu B. Suaminya pergi dan tak kembali, meninggalkan 4 anak kecil tanpa sepeserpun menafkahi. Ibu B, dengan susah payah membiayai 4 bocah itu sendiri. Setelah anak-anak besar dan bisa mandiri, ekonomi keluarga membaik. Dan tiba-tiba si bapak datang dan merongrong kebahagiaan rumah tangga mereka dengan memeras keluarga itu.

Saya bertemu ibu C, D, E, F dan seterusnya. Kasusnya hampir sama.

Lelaki yang cuma bisa bikin anak dan lalu kabur, benar-benar nggak ada bedanya dengan kucing garong! Anda setuju?

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Lelaki yang Cuma Bisa Bikin Anak dan Kabur, Nggak Ada Bedanya Sama Kucing Garong!"

  1. kucing garong, :( jauhkan sifatku seperti itu. kasihan nanti wanita nya

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!