Izinkan Saya Ngefans Pangeran Muhammad bin Salman


Ceritanya, saya sedang ngefans dengan seorang pria. Oya? Pria? Ya, seorang pria yang tampan, muda, dan tajir. Tetapi, bukan karena ketampanan, kemudaan dan tajirnya itu yang membuat saya harus memberikan 4 jempol saya kepadanya. Jauh itulah, kalau buat saya, hehe. Secara, saya kan ibu yang baik, manis, suka menolong dan rajin menabung (abaikan yang ini ya…, serius!).

Jadi, apa yang menyebabkan saya ngefans dengan pria tersebut? Sesuatu yang sangat dahsyat—setidaknya di mata saya. Tahu kan, Sobat semua, mengapa Raja Salman melakukan perjalanan ke berbagai negara awal tahun ini? Perjalanan yang heboh karena sarat publikasi. Sayangnya, publikasinya lebih banyak pada Raja Salman menginap di mana, apa makanan paginya, berapa duit yang dikeluarkannya, sampai juga, berapa sih istri Raja Salman? Esensi perjalanan itu malah kurang tersentuh. Atau, mungkin kita memang lebih menyukai sesuatu yang sensasional ya? Tuh, ibu-ibu muda malah salah fokus ke sosok pangeran-pangeran Arab-nya yang konon mengalahkan pada foto model.

Jadi, begini, ya Sobat… baru-baru ini, Kerajaan Arab Saudi baru meng-create apa yang disebut dengan Visi 2030. Intinya, pada tahun 2030, Arab Saudi diharapkan sudah bisa lepas dari ketergantungan terhadap minyak bumi, dan mulai mengakar di sektor-sektor bisnis lainnya. Jadi, Arab Saudi ingin melakukan diversifikasi, begitu, lho. Sebenarnya, Gross Domestic Product (GDP) alias produk domestik bruto (PDB) sudah sangat tinggi, yaitu Rp 8.550 triliun. Bandingkan dengan Indonesia, yang menurut data BPS pada tahun 2016 “hanya” Rp3.086,6 triliun!

Sayangnya, GDP tersebut didominasi dari sektor minyak. Padahal, minyak bumi adalah sumber daya yang suatu saat akan habis. Maka, Arab Saudi pun berbenah. Mereka mencanangkan Visi 2030 yang menurut berbagai pihak dinilai “Sangat ambisius”. Sobat tahu, berapa nilai investasi yang akan mereka tanamkan di proyek-proyek diversifikasi itu?

Untuk membiayai proyek tersebut, Arab Saudi melepaskan 5% saham mereka di Saudi Aramco. Cuma lima persen? Hei, jangan salah! Lima persen saham Saudi Aramco sendiri, nilainya mencapai US$ 2 triliun lho. Berapa kalau dirupiahkan? Dengan kurs dolar AS saat ini yang sekitar 13.000, nilai tersebut mencapai Rp 26.000 Trilyun! Hampir 13 kali lipat APBN negara kita.

Proyek Arab Saudi ini banyak yang menilai terlalu ambisius. Tetapi, saya pribadi menilai, ini keren! Bayangkan, Saudi yang sudah mapan di zona nyaman, kemudian mengeluarkan kebijakan yang sangat jenius. Raja Salman, memang menjadi the top of decision maker dalam proyek ini, tetapi, sosok yang paling berperan adalah pria yang saya sebut di paragraf pertama tadi. Siapa dia? Tak lain adalah Pangeran Muhammad bin Salman.

Muhammad bin Salman adalah putera dari Raja Salman, sekaligus deputi Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi. Usianya masih muda, karena lahir pada 31 Agustus 1985, lebih muda 6 tahun dari saya. Meski masih muda, Muhammad telah dipercaya menjadi menteri pertahanan Arab Saudi. Sebelum itu, Muhammad sempat berkarir di Saudi Aramco.

Muhammad Salman adalah arsitek dari Visi Arab Saudi 2030. Dia jelas sosok yang sangat visioner. Ini yang bikin saya ngefans. Gebrakan-gebrakannya jelas berisiko. Inilah yang kemudian menjadi bahan tudingan-tudingan miring. Ada yang bilang Muhammad sedang “berjudi” dengan mempertaruhkan masa depan Arab Saudi. Ada yang bilang Muhammad adalah sosok yang jauh dari akal dan sangat berbahaya. Bill Law, misalnya, seorang jurnalis dari Inggris, mengkritik ambisi berlebihan Muhammad bin Salman. Sejumlah media yang anti Arab, juga banyak memberikan gambaran negatif untuk Muhammad bin Salman.

Kalau menurut saya, namanya perubahan—apalagi revolusioner, pasti akan menyebabkan pro dan kontra. Tetapi, Muhammad bin Salman sudah berada di track yang benar. Yang akan menjadi tantangan terbesar dia, sebenarnya bukan serangan dari lawan, tetapi, apakah dia bisa melakukan efisiensi besar-besaran mengingat perilaku para bangsawan Arab saat ini dinilai boros dan berlebihan? Juga, bisakan Muhammad bin Salman membawa masyarakat Saudi untuk lebih banyak menguasai teknologi, kerja keras sesuai passion, dan membuka diri terhadap berbagai kemajuan zaman?

Kunci dari membangun bisnis yang mendunia dan menghasilkan provit yang maksimal sebenarnya hanya dua: efektif dan efisien. Semoga Muhammad bin Salman bisa membawa Arab Saudi meraih sukses bersama Visi 2030-nya.

Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Izinkan Saya Ngefans Pangeran Muhammad bin Salman"

  1. kalau keluarga pangerannya baik dalam sikap, perilaku dan tampilan tentu lebih nge fans lagi ya mbaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dari info yang saya dapat, keluarga inti Raja Salman rata2 lebih baik akhlak dan pemahaman agamanya, termasuk Pangeran Muhammad bin Salman.

      Delete
  2. Wah, ada info ini jadi terbuka nih wawasan tentang pangeran Arab

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!