Yuk, Suburkan Pohon Cinta yang Mulai Layu

Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada saya, bagaimana cara agar pohon cinta dalam rumah tangganya kembali subur. “Kian hari, kami merasakan kehambaran, perasaan garing, jenuh. Kehidupan rumah tangga seperti sekadar menjalani rutinitas belaka. Boro-boro cinta, bertemu dia saja kadang malas rasanya.”

Perasaan jenuh, cinta yang mulai menipis, rutinitas yang menjemukan, memang momok bagi sepasang suami-istri yang telah lama menikah. Sebab, hampir sebagian besar pasangan mengalami hal ini. Ada yang berhasil membangkitkan kembali perasaan cintanya, namun banyak pula yang gagal. Di antara yang gagal, ada yang terus bertahan, meski dengan pondasi cinta yang rapuh, ada pula yang kemudian mencoba-coba cari selingan dengan selingkuh, atau bahkan memilih bercerai.

Jangan pernah mengabaikan perasaan cinta yang mulai redup. Seyogyanya, baik suami maupun istri harus sama-sama mengupayakan, agar tanaman cinta yang layu tersegarkan kembali. Bangunan cinta yang megah, memang membutuhkan serangkaian proses dan langkah-langkah aktif kita. Ketika usia pernikahan sudah semakin bertambah, kita tak bisa lagi mengandalkan falling in love, namun standing in love, begitu kata Menurut Erich Fromm dalam buku The Art of Loving. 

Jatuh cinta, atau falling in love adalah gejolak cinta yang muncul karena faktor hormonal. Dia muncul tak terduga-duga dan menimbulkan sensasi indah luar biasa. Tetapi, falling in love tak bisa diandalkan untuk melanggengkan kehidupan rumah tangga. Falling in love hanya bisa menjadi modal bagi kita untuk melakukan standing in love, alias membangkitkan rasa cinta dengan sikap aktif kita.

Menurut Erich Fromm pula, ada 4 komponen cinta yang perlu senantiasa kita kuatkan. Empat hal tersebut adalah care (perhatian, kepedulian), knowledge (pengetahuan, pemahaman), respect (penghargaan, penghormatan) dan responsibility (tanggung jawab). Sedangkan menurut Robert Stenberg, agar cinta kita sempurna, kita harus memiliki passion (gairah), intimacy (perasaan akrab) dan commitment (komitmen) kepada pasangan. Ketiga hal tersebut harus dimiliki dengan dosis yang sama, sehingga membentuk segita sama sisi. Teori Stenberg itu sering dikenal dengan the triangular theory of love.

Teori Fromm dan Stenberg tersebut bisa kita implementasikan dalam  beberapa langkah sederhana berikut ini.

Pertama, pahamilah, pelajari karakter pasangan Anda, dan berilah respon sebagaimana yang dia butuhkan. Tak kenal maka tak sayang, begitu kata pepatah. Jangan berdalih dengan kata-kata, "masak sih tak kenal, lha kami udah belasan tahun menikah..." 

Sebab, karakter itu bisa berkembang. Menurut para pakar kepribadian, karakter terbagi menjadi dua, yakni karakter primer yang merupakan bawaan sejak lahir, dan karakter sekunder, yaitu karakter yang terbentuk karena faktor lingkungan, pergaulan, gaya hidup dan sebagainya. Meski anda merasa telah mengenal pasangan Anda selama puluhan tahun, bukan berarti proses pengenalan dan pemahaman itu berhenti, sebab karakter itu sifatnya dinamis.

Pelajarilah bagaimana lingkungan kerja, pergaulan dan dengan siapa pasangan Anda menghabiskan waktu, khususnya saat di luar rumah. Pahami perubahan karakternya, dan berilah respon sesuai kebutuhan. Misal, suami Anda telah memiliki karir yang baik, dia dipromosikan di kantor, dan posisinya kini manajer. Seorang manajer pasti memiliki lingkungan dan kebutuhan yang berbeda dibandingkan dengan saat masih staf. Anda harus awas. Dengan posisi barunya, suami harus beradaptasi, dan lambat-laun karakternya pasti berubah. Perlakukan dia sebagai seorang manajer. 

Mungkin dia membutuhkan pakaian yang lebih bagus, dasi bermerek, atau sepatu yang lebih berkelas. Jika Anda memahami karakter dan kebutuhannya, maka rasa cinta akan semakin merekah.

Kedua, bersikaplah lebih peduli, penuh perhatian, tanpa harus KEPO dan selalu rewel dengan apa yang tengah dia kerjakan, yang ditindaklanjuti dengan aksi nyata. Misal, suatu saat, dia mungkin pulang kerja dalam kondisi penat. 

Tawarkan padanya secangkir susu hangat, pijatan yang menyegarkan, dan kata-kata yang menghibur dan mungkin humor yang tidak garing. Dengan proses pengenalan pada kebutuhan dan karakternyanya, sebagaimana tersebut di poin pertama, anda semestinya tahu, bagaimana cara memperlakukan dia. Jadikan Anda sebagai orang yang paling tahu, berapa takaran gula, kopi dan creamer yang paling pas untuk cangkir kopinya, apa warna kesayangannya, bagaimana cara dia memakai jam tangan, menu apa yang paling dia suka saat sarapan pagi, dan sebagainya.

Ketiga, bersikaplah sebagai seorang sahabat yang baik untuknya. Anda mungkin partner yang baik saat melayani kebutuhan biologisnya, tetapi, nilai Anda akan lebih tinggi di matanya jika Anda mampu menjadi sahabat yang baik untuknya. Sediakan telinga untuk mendengar curhatnya, dampingi dia saat menjalankan hobinya, berilah kejutan-kejutan manis untuknya, dan cobalah masuk ke dalam dunianya. Dia suka politik, tak ada salahnya Anda belajar politik. Dia suka liga Inggris, Anda bisa mulai duduk manis di sampingnya sambil bersama-sama menonton siaran sepak bola, dan seterusnya.

Keempat, bersikaplah penuh tanggung jawab dengan menjalankan kewajiban-kewajiban Anda, serta memberikan hak-haknya. Bukan sebaliknya, selalu menuntut hak dan abai terhadap kewajiban. Sebab, seromantis apapun Anda, jika zalim, alias tidak mau menjalankan kewajiban serta memberikan hak, maka rasa cinta akan sulit sekali tumbuh. Ibarat benih yang ditaburkan di atas batu karang.

Kelima, hargai dan hormati pasangan Anda. Sikap respek ibarat gaung yang kembali kepada Anda. Apa yang anda berikan, itulah yang akan Anda tuai. Sikap respek bisa dilakukan dengan senantiasa menjaga perasaannya, tidak menghinanya, tidak men-judge atau melabelinya dengan sesuatu yang buruk (misal, ah kamu ini memang pemalas, kamu boros, kamu pelit, dan sejenisnya), serta senantiasa membela dan menjaga kehormatannya, khususnya saat bersama orang lain. 

Mari kita lakukan hal tersebut dengan konsisten dan dengan intensitas yang cukup memadai. Semoga pohon cinta yang mulai layu, lambat laun segar kembali, dan tumbuh kian rindang memayungi kehidupan kita semua.

Suka dengan tulisan-tulisan Afifah Afra, dan ingin berinteraksi secara langsung?
Yuk, like page AFIFAH AFRA, follow akun twitter @afifahafra79 dan Instagram @afifahafra79

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Yuk, Suburkan Pohon Cinta yang Mulai Layu"

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!