Aku Hanya Ingin Berbagi, Apakah Salah?

Sore itu saya menemukan dua raut wajah yang tak ramah. Anis dan Rama. Mereka cemberut dan tampak sedang saling memendam kesal. Tak seperti biasanya. Saya turun dari mobil, menghampiri mereka yang sedang saling membuang muka.

“Ada apa nih? Kok sepertinya sedang bertengkar?” tanya saya.

Mereka diam seribu bahasa.
“Ditanya kok diam? Ayo, bilang ke Ummi. Kalian sedang ada masalah apa?”
“Mbak Anis peliiit!” teriak Rama tiba-tiba. Dia bangkit, menghentakkan kaki, meraih tasnya dengan kasar, lalu berlari menuju mobil. Pintu mobil dia banting.

“Rama marah kenapa?”
Anis menghela napas panjang. “Dia minta es tehku.”
“Lalu, kenapa tak kamu kasih?”
“Aku haus sekali. Dan dia kan juga punya voucher buat beli sendiri.”

Jawaban Anis masuk akal. Di sekolah mereka memang tak ada uang saku, adanya voucher. Tiap hari, saya dan suami memberi mereka 4 lembar voucher. Satu lembar senilai Rp 1000,- Sampai sore, mereka masih cukup dana untuk membeli beberapa potong snack dan segelas es teh. Sebab, mereka juga mendapat jatah makan siang dari katering.
Sesampai di dalam mobil, Rama masih cemberut. 

“Kamu kenapa sih, Sayang? Kan kamu bisa membeli es teh sendiri kalau Mbak Anis tak ingin berbagi. Uangmu cukup, kan?”

“Berbagi itu bagus. Tapi mbak Anis peliiit! Mbak Anis nggak masuk surga!” teriak Rama lagi. Lalu dia menangis. 

“Aku tidak pelit!” suara Anis meninggi, tidak diterima dibilang pelit. “Aku mau berbagi jika kamu memang tidak punya uang buat beli es teh.”

Rama diam, berusaha mengatasi tangisnya. Namun isaknya tak juga pergi. “Rama kenapa tidak mau beli es teh?” tanya suami saya—ayahnya anak-anak yang sedang sibuk menyetir.
Lama dia tak menjawab. Kami mendeteksi sesuatu yang aneh.

“Vouchermu habis ya?” tanya saya.
Dia mengangguk. 
“Kau habiskan semua? Biasanya kamu menyisakan buat jajan sore?”

“Tadi... tadi aku berbagi dengan temanku, Mi. Ada temanku nggak bawa voucher, padahal pas olahraga. Aku sangat kasihan. Jadi dua lembar voucher itu kuberikan padanya,” jawab Rama, lirih.
Ya Rabb. Saya menghela napas panjang, lalu saya dekap bocah usia 9 tahun itu erat-erat.

“Oo, begitu?” Anis menatap Rama, berubah sikap. “Tetapi, kenapa kamu nggak bilang ke aku tadi?”
Rama hanya menunduk. Tetapi saya tahu, apa yang tengah dia pikirkan. Mungkin dia tak ingin riya. Dia tak ingin kebaikannya diketahui orang lain. Dia memang begitu anaknya.

Mendadak suamiku menghentikan laju mobilnya di depan sebuah minimarket.
“Karena Rama sudah berbuat baik, sekarang Rama boleh beli jajan di sini. Maksimal dua jenis ya?” kata beliau.

Mata Rama membelalak. “Benar, Bi?”
“Iya, benar.”
“Mbak Anis dan Dik Ifan?”
“Boleh, masing-masing satu.”

“Horeee...” mereka menghambur turun dari mobil.

Saya hanya bisa menatap mereka dengan dada sesak karena rasa haru.

Catatan: Pernah dimuat di Majalah Ummi

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Aku Hanya Ingin Berbagi, Apakah Salah?"

  1. anakku juga pernah, menabung selama 3 hari untuk membeli bola plastik seharga 5000 rupiah. Saat ada pelajaran olah raga dibawa ke sekolah. Sesampai di sekolah ternyata diminta oleh temannya, dan dengan ikhlasnya dia berikan... Emaknya kasihan, tapi mau melarang malah takut nanti anaknya jadi pelit...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, jangan dilarang. Berarti dia sedang belajar memberi dengan sesuatu yang berarti

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!