The Power of 'Ukhuwah'


Medan perang Yarmuk masih membara. Sisa-sisa pertempuran, masih menguarkan aroma yang tajam. Di antara korban yang berjatuhan, Hudzaifah Al-Adwiy dengan seteko air di tangannya, mencari kemenakannya di antara jajaran pasukan yang telah gugur. Di padang pasir yang sangat panas, kebutuhan mendasar para korban yang terluka salah satunya adalah air.

Beberapa saat kemudian, Hudzaifah mendapati kemenakannya tergeletak di atas padang pasir. Dia masih hidup, meskipun terluka sangat parah. Hudzaifah pun menawarinya minum. Si kemenakan mengangguk setuju. Tetapi, baru saja ia hendak minum, tiba-tiba terdengar suara erangan dari sebelahnya. Ternyata pemilik suara itu adalah Hisyam bin ‘Ash yang juga dalam keadaan terluka parah. 

“Air… air…,” erang Hisyam. 

Melihat kondisi Hisyam yang mengenaskan, si kemenakan pun memberi isyarat kepada Hudzaifah untuk lebih dahulu memberi minum Hisyam. Hudzaifah pun mendekat kepada Hisyam dan hendak memberinya minum. Akan tetapi, saat Hisyam hendak minum, terdengar pula suara erangan di sebelahnya. Seperti sang kemenakan, Hisyam memberi isyarat agar Hudzaifah lebih mendahulukan orang yang tengah mengerang di samping Hisyam itu.

Hudzaifah menurut. Ia mendekat ke orang tersebut. Namun, innalillahi... orang itu ternyata telah meninggal dunia. Hudzaifah pun kembali kepada Hisyam. Ternyata, Hisyam juga sudah syahid. Begitu juga kemenakan Hudzaifah. Ketiganya telah syahid, tanpa ada satu pun yang berkesempatan meneguk air, karena mereka mendahulukan saudaranya.

Membaca untaian peristiwa yang melibatkan orang-orang shalih terdahulu, memang selalu menggetarkan jiwa. Praktik-praktik pelaksanaan akhlaqul karimah, begitu indah tergores di lembaran sejarah. Salah satunya adalah bagaimana mereka berukhuwah. Apa yang dilakukan oleh para syuhada dalam Perang Yarmuk di atas, adalah tingkatan ukhuwah tertinggi yang disebut sebagai itsar—yaitu mendahulukan kepentingan saudaranya.

Definisi Ukhuwah
Ukhuwah secara bahasa berasal dari kata akhun yang berarti saudara. Ukhuwah adalah perasaan kasih sayang, saling menyayangi, mendukung, memberikan pembelaan, mendoakan, saling menasihati, sebagaimana yang terjadi ketika ada ikatan persaudaraan. Menurut Islam, persaudaraan diikat karena adanya kesamaan aqidah. 

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat Al-Hujuraat: 10, innamal mu’minuuna ikhwah,  yang artinya “Sesungguhnya setiap mukmin itu bersaudara”. Ayat tersebut menunjukkan, bahwa ikatan persaudaraan di dalam Islam bukanlah karena hubungan darah, kesamaan hobi, kesamaan asal daerah atau hal-hal lainnya. Akidahlah yang menjadi penyatu. Hal tersebut terbukti ketika Rasulullah SAW menyatukan dua suku di Madinah, ‘Aus dan Khazraj.

Dua suku tersebut adalah musuh bebuyutan, yang selalu bersaing memperebutkan hegemoni, bahkan juga pernah sampai pada kontak senjata alias berperang. Ketika Mush’ab bin Umair datang ke Madinah untuk mengawali dakwah Islam sebelum hijrah, ada sebagian masyarakat Madinah yang berislam, baik dari suku ‘Aus maupun Khazraj, namun rivalitas antarmereka masih kuat. Mereka tak sudi untuk makmum shalat jamaah kepada orang yang tidak sesuku, sehingga kedua suku itu pun spontan menunjuk Mush’ab sebagai imam mereka.

Namun, luar biasa! Kedatangan Islam dan keimanan yang tumbuh subur di dalam dada mereka, membuat mereka akhirnya bersatu dan saling berkasih sayang karena-Nya. Allah SWT berfirman terkait dengan kisah mereka.

“...Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, maka Allah menyatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah sebagai orang-orang yang bersaudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya...” (QS. Ali Imran: 103).

Manfaat Ukhuwah
Ada satu perkataan yang indah dari As-Syahid Imam Hassan Al-Banna tentang ukhuwah sebagai berikut: “hati dan jiwa ditautkan dengan akidah. Akidah adalah hubungan yang paling ampuh dan berharga. Ukhuwah adalah saudara iman, dan perpecahan adalah saudara kufur. Kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan. Persatuan tidak akan terwujud tanpa Ukhuwah. Adapun ukhuwah yang paling rendah ialah berlapang dada, dan yang paling tinggi adalah mengutamakan orang lain (itsar)”.

Pernyataan Imam Al-Banna di atas menunjukkan, bahwa ukhuwah adalah modal terpenting dari persatuan umat. Oleh karena itu, Imam Al-Banna pernah ditanyai oleh serombongan orang, mana yang lebih benar, shalat tarawih 11 rakaat atau 23 rakaat? 

Jawaban Sang Imam sangat indah, “Tarawih hukumnya sunnah, sedangkan menjaga ukhuwah dan persatuan hukumnya wajib.”

Allah SWT berfirman, "Dan berpeganglah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dengan berjama’ah dan janganlah kamu bercerai berai." (QS. Ali Imran: 103).

Jadi, ukhuwah adalah sebuah perkara yang sangat penting dan menjadi syarat terbentuknya masyarakat Islam yang kuat dan beradab. Jika kita telisik, Islam memang sangat menganjurkan umatnya untuk bersatu. Bahkan ibadah-ibadah ritual pun, dianjurkan untuk dilakukan secara berjamaah. Misalnya, shalat wajib, jika dilakukan berjamaah, pahalanya jauh lebih besar ketimbang dilakukan secara munfarid. Dengan senantiasa melakukan interaksi dengan sesama muslim, perasaan kasih sayang akan terbentuk, sebab, kasih sayang hanya akan terjalin jika kita saling mengenal dan saling memahami.

Mari Saling Mencintai, Wahai Akhi, Ukhti
Ukhuwah adalah perasaan saling menyayangi antar sesama muslim yang terjalin karena Allah azza wa jalla. Rasa cinta kepada saudara karena Allah, bahkan dikait-kaitkan dengan kekuatan iman, sebagaimana tercantum dalam hadist “Laa yu’minu ahadukum hatta yuhibbu liakhiihi maa yuhibbu linafsihi.... Artinya, tidak sempurna iman seseorang, sebelum ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika kita mencintai seorang akhun karena Allah, maka kita dianjurkan untuk mengungkapkannya. 
Anas r.a. berkata: “Ada seseorang duduk di samping Nabi. Tiba-tiba ada seseorang berjalan, maka orang (yang duduk di samping nabi) itu berkata: ‘Ya Rasulullah, sungguh aku mengasihi orang itu.’ Nabi bertanya, ‘Sudahkah kau beritahukan kepadanya?’ Orang itu menjawab, ‘Belum.’ Bersabda Nabi, ‘Nah, beritahukanlah kepadanya.’ Maka ia pun mengejar orang tersebut dan dikatakanlah kepadanya, ‘Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.’ Orang itu pun menjawab, ‘Semoga Allah mencintaimu karena kau mencintaiku karenanya.’” (HR Abu Dawud). 

Demikian juga yang tercantum di sebuah hadist qudsi: “Pada hari kiamat, Allah akan berfirman: ‘Di manakah orang yang berkasih sayang karena kebesaran-Ku? Kini Aku naungi mereka di bawah naungan-Ku, pada saat di mana tiada naungan kecuali naungan-Ku’”. (H.R. Muslim).
Bagaimana cara membangun ukhuwah Islamiyah yang kuat? Salah satunya adalah dengan memberikan hak-hak sesama umat Islam. 

Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Hak dan kewajiban orang muslim terhadap sesama muslim ada lima: Menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, mendatangi undangan dan menyambut doa terhadap orang yang bersin.” (Bukhari & Muslim).

Sementara, di hadist lain, Rasulullah bersabda, “Engkau tidak akan masuk sorga hingga beriman. Dan kamu tidak akan beriman sebelum berkasih-sayang kepada sesama. Maukah kau aku tunjukkan sesuatu yang jika kamu kerjakan akan timbul kasih sayang di antara kamu? Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

Demikian juga, saling menjenguk saudaranya yang terkena penyakit, juga akan membangkitkan perasaan saling mencintai. 

Tiada seorang Muslim yang menjenguk sesama muslim di waktu pagi, melainkan akan didoakan oleh 70.000 malaikat hingga sore. Dan jika menjenguk di waktu sore, didoakan 70.000 malaikat hingga pagi dan mendapat jaminan buah-buahan yang terketam di sorga.” (HR. Tirmidzi).

Termasuk juga mengantar jenazah, Abu Hurairah r.a. berkata: “Bersabda Rasulullah SAW, ‘Siapa yang menghadiri jenazah hingga dishalatkan, akan mendapatkan pahala seqiroth. Dan siapa yang menghadirinya hingga dikubur, maka mendapat pahala 2 qirath’. Ketika ditanya, ‘apakah 2 qirath?’ Jawabnya: ‘Sebesar 2 bukit yang besar-besar’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di tengah kondisi umat yang tercerai-berai, penguatan ukhuwah Islamiyah menjadi sangat penting. Mari dimulai dari kita, kemudian lingkungan terkecil di sekitar kita, sehingga akhirnya menyebar ke masyarakat luas.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Paket Samara Hanya Rp 120.000 Dapat 3 Buku
Bebas Ongkir untuk Pulau Jawa
Pemesanan: Okivia (0822-4529-1766) atau Angga (0878-3538-8493)





Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "The Power of 'Ukhuwah'"

  1. Suka sekali. Semoga ukhuwah ini tetap terjaga Ya Allah :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin Ya Rabb
      Terimakasih ya, sudah berkunjung

      Delete
  2. yap... selain semakin mempererat persaudaraan, ukhuwah juga dapat mempertebal keimanan, mendatang rezeki, dan membantu menghilangkan stress. Itu yang saya rasakan kak ^^

    ReplyDelete
  3. Ukhuwah selalu terjaga, insyaAllah Indonesia akan tetap aman terkendali dan tentunya islam akan berjaya

    ReplyDelete
  4. Ukhuwah sebuah kata sederhana yang bermakna dalam. Terlebih butuh komitmen untuk dapat mewujudkannya :)

    ReplyDelete
  5. Semoga selalu terjaga dalam ukhuwah. Terima kasih tulisannya, Mbak Afra. Saya kembali teriris rasanya membaca kisah pembuka tulisan ini.

    ReplyDelete
  6. Dahsyat banget ukhuwah ini mba , bisa meruntuhkan negara juga

    ReplyDelete
  7. sepakat dengan kalimat "ukhuwah adalah modal terpenting dari persatuan umat"
    Alhamdulilah bertemu Mbah Afra dalam ukhuwah heheh

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!