Menyedot Perhatian Pembaca Sejak Paragraf Pertama Pada Sebuah Cerpen

Paragraf pertama merupakan kunci dari kesuksesan sebuah cerpen. Ada beberapa alasan.

Pertama, banyak pembaca kita merasa malas untuk menikmati sebuah cerpen, sehingga dia perlu dientakkan dengan “sihir” yang dilakukan seawal mungkin.

Kedua, jika cerpen kita diikutkan dalam sebuah seleksi, seringkali cerpen kita harus berjuang melawan ratusan, bahkan ribuan lawan. Terbayang kan, betapa capek juri kita saat mencoba membaca satu persatu. 

Nyatanya, banyak juri hanya membaca paragraf pertama, tengah dan akhir. Begitu menarik, maka akan membaca hingga habis.

Singkat kata, bagaimana membuat paragraf pertama yang menarik?

Awali dengan Ledakan
Awalilah cerpen anda dengan ledakan (bang), sehingga begitu melihat sekilas, pembaca akan tertarik. Cerpen itu mirip sebuah presentasi, dimana audiens harus terlebih dahulu diikat perhatiannya sehingga akan ‘tersihir’ dan mau menurut ke arah mana ia akan ‘dibawa’ oleh presenter.

Anda bisa lihat kalimat pertama dari cerpen ‘Ikan’ tulisan Moch. Irfan Hidayatullah berikut ini!

Kehitaman itu tampak pada segala keputihan ruang.

Lihatlah, betapa Kang Irfan telah memberi sebuah pengantar yang cukup menarik. Ia menggambarkan sebuah kontras dan menjadikannya sebagai stimulator yang membuat pembaca tertarik untuk mengikuti cerpen itu lebih lanjut.

Langsung Masuk Pada Konflik
Punggung dari sebuah cerita adalah konflik. Terkadang, pembaca sering malas membaca pendahuluan yang bertele-tele, namun bergairah saat dihadapkan pada konflik.

Contoh: “Pagi ini aku membuka pintu apartemen, dan kulihat sebuah benda teronggok di depan pintu. Aku tersentak. Benda itu ternyata mayat!”

Jangan Menggunakan Diksi yang Terlalu Mainstream
Lupakan pendahuluan semacam ini untuk sebuah cerpen: “Pada suatu hari, di sebuah desa, matahari bersinar dengan cerah. Awan tak sepotong pun mengotori birunya langit. Burung-burung beterbangan… dst.”

Kalimat Multifungsi
Untuk membuat sebuah cerpen yang menarik, karena ruang yang sempit, kita wajib menyeleksi kata-kata yang akan kita ambil. Jika memungkinkan, rangkailah kata-kata sedemikian rupa sehingga kalimat yang dihasilkan, memiliki multifungsi. Hal ini juga berlaku pada paragraph pertama.

Coba lihat kalimat ini!

Muak aku melihat wajahmu yang terbalut make-up murahan, mirip wajah ondel-ondel yang sedang menari di tengah lapangan itu!

Dari kalimat tersebut, kita bisa mendapati beberapa hal! Pertama, karakter si kamu yang pesolek namun berselera murahan. Kedua, karakter si aku yang ‘tampaknya’ punya atau merasa punya selera yang tinggi. Ketiga, kita bisa menjelaskan bahwa setting cerita itu terjadi di sebuah lapangan di mana tengah berlangsung pertunjukan ondel-ondel.

Nah, bagaimana, sangat menghemat ruang, bukan? Bayangkan jika untuk menjelaskan ketiga hal tersebut, anda membutuhkan 3 paragraf... cerpen akan menjadi penuh lanturan dan tidak fokus. Bisa jadi, ketika anda mengakhiri pembukaan dan masuk ke konflik, ternyata anda sudah menuliskan berlembar-lembar halaman sendiri.

Contoh paragraf pertama cerpen: Perempuan yang MengandungBola Api karya Afifah Afra:

Ruang operasi semakin beku. Bukan sekadar karena pendingin ruangan, tetapi juga karena sejuta tanda tanya telah melebur ke aliran darah para manusia berpakaian dan masker serba putih yang berada di ruang tersebut. Gunting, pisau bedah dan peralatan canggih yang sedianya akan membantu mengeluarkan jabang bayi, tergeletak di tempatnya masing-masing. Sementara, perempuan yang perutnya menggelembung sebesar bola basket itu masih tergeletak tak sadarkan diri setelah bius total mematikan kesadarannya untuk sementara.

Yuk, diskusi!

0 Response to "Menyedot Perhatian Pembaca Sejak Paragraf Pertama Pada Sebuah Cerpen"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

banner