Catatan Haji #4: Masjid Quba, Kebun Kurma dan Pesta Ruthab

Salah satu sudut Masjid Quba (foto: koleksi pribadi)
Selama di Madinah, sekitar 9 hari, yakni dari tanggal 29 Juli 2018 hingga 8 Agustus 2018, tentu bukan hanya Shalat Arba'in yang kami lakukan. Salah satu selingan yang menarik adalah mengunjungi berbagai destinasi menarik. Kunjungan ini ada yang dilakukan secara mandiri, ada yang difasilitasi maktab, ada juga yang merupakan program KBIH.

Berikut ini adalah beberapa tempat yang sempat kami kunjungi. Tapi, di bagian ini, saya hanya akan membahas kunjungan ke Masjid Quba dan Kebun Kurma saja, ya. Jangan khawatir, destinasi lainnya akan saya tulis di artikel selanjutnya.

Masjid Quba

Masjid Quba terletak di sebelah tenggara kota Madinah, tak terlalu jauh, hanya sekitar 5 KM, sehingga hanya butuh waktu sekitar 10-15 menit perjalanan menggunakan bus. Ketika Rasulullah SAW berhijrah dari Mekah ke Madinah, beliau sempat singgah di Quba dan mendirikan masjid di sana. Jadi, masjid yang pertama kali didirikan Rasulullah bukanlah Nabawi, tapi masjid ini. 

Sama dengan Masjid Nabawi, Masjid Quba juga didirikan pada tahun 1 Hijriyah, atau 622M. Terbayang kan, betapa tua masjid ini? Namun, sama dengan Masjid Nabawi, Masjid Quba mengalami beberapa kali renovasi. Dari sekadar masjid dengan bangunan sangat sederhana, saat ini Masjid Quba bisa menampung sekitar 20.000 jamaah.

Saya sempat kaget, begitu turun dari bus, beberapa anak kecil berlari dan memeluk para jamaah haji, termasuk saya. Mereka merayu kami untuk membeli jualan mereka, minyak kesturi dalam botol kecil. Pelukan tak dilepaskan kecuali kami sudah membeli jualan mereka. Haha, strategi yang bagus. 

Untungnya, mereka cakep-cakep dan bersih. Harga minyak kesturinya juga tidak mahal. 10 SR dapat 3 botol kecil. Saat saya membuka dompet, mereka minta dibayar rupiah, tapi maunya dengan lembaran 50rb-an. Yeiiy, saya rugi dong, Nak. Karena 10 SR kan sama dengan 40 ribu, bukan 50 ribu.
www.afifahafra.net
Masjid Quba (foto: koleksi pribadi)
Beberapa anak kecil lain, tampak malu-malu mendekati kami, menawarkan kurma segar yang masih berwarna merah atau kuning. Saya mengamati wajah mereka. Matanya sipit, kulitnya kuning. Tionghoa?

Mendadak saya teringat dengan kisah para penduduk China Muslim Uighur yang memang banyak melarikan diri dari negaranya karena mendapatkan perlakuan tidak adil dari rezim yang berkuasa. Merekakah itu, anak-anak pengungsi Uighur yang sedang mencoba membantu orang tuanya mencari tambahan nafkah di negara asing?

Kata Taqiyya Shams, pengurus FLP pusat yang menetap di Mekah karena masih kuliah pasca sarjana di Universitas Ummul Quro, memang banyak pengungsi Muslim Uighur yang dilindungi di Saudi. Berbeda dengan beberapa negara lain di Timur Tengah, misalnya Mesir, yang justru mendeportasi para Muslim Uighur yang mengungsi ke negaranya untuk mencari suaka.

Saat organisasi mahasiswa di Timur Tengah mengadakan lomba menulis tentang kisah sejatinya, lewat rekomendasi Taqiyya Shams, saya diberi kesempatan menjadi salah satu juri. Ada salah satu naskah yang ditulis mahasiswa asal Uighur tentang bagaimana rasanya mengalami tindakan represif dari rezim yang berkuasa. Saya memberi nilai tertinggi, dan ternyata memang tulisan itu menjadi juara pertama.

Untuk memahami permasalahan yang menimpa Muslim Uighur, sebelum saya menulis artikel tersendiri, Anda bisa baca di sini, ya.

Sambil menghela napas, menahan rasa iba yang mendalam, saya melangkah masuk ke Masjid Quba, khususnya bagian Muslimah untuk shalat di sana. Masjid ini memiliki keutamaan, salah satunya disebut dalam Al-Quran sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa.

''Sesungguhnya Masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalam masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.'' (QS At-Taubah: 108).

Dalam sebuah hadist shahih disebutkan:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءَ، فَصَلَّى فِيهِ صَلَاةً، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ

Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian datang ke Masjid Quba’, kemudian dia mendirikan shalat di sana, maka dia mendapatkan pahala umrah (HR. Ibnu Majah dan lainnya).

Sayang, karena keterbatasan waktu, kami tak sempat lama-lama di masjid ini. City Tour di Madinah memang sangat dibatasi waktu, karena setidaknya sejam sebelum shalat Dhuhur, sebaiknya kami sudah sampai kembali ke Madinah untuk persiapan shalat fardhu berjamaah di Masjid Nabawi. Jika tidak, maka program shalat Arba'in kami bisa gagal.

Kebun Kurma 

Kebun Kurma (foto: koleksi pribadi)
Madinah adalah penghasil kurma yang sangat terkenal. Harga kurma dan berbagai hasil bumi di sini jauh lebih murah daripada di Mekah, sehingga bagi yang ingin memborong aneka jenis kurma, sebaiknya berbelanjalah di Madinah. Bayangkan, satu kilogram kurma Ajwa (kurma nabi), bahkan bisa saya peroleh dengan harga hanya SR 50 atau Rp 200.000,- saja.

Selama di Madinah, saya mengunjungi 2 buah kebun kurma. Pertama, saya tidak tahu namanya, karena tidak ada papan nama, atau saya yang tidak menemukannya, kali, hehe. Kebun itu ada di dekat Masjid Quba, dan kami datangi pada city tour yang difasilitasi oleh Maktab. Kebun kurma ini, maaf, agak kurang terurus, meski asyik juga melihat kurma sedang berbuah dengan buah yang segar.

Kebun Korma Abu Faisal (foto: koleksi pribadi)

Berbeda dengan kebun kurma kedua, namanya Kebun Korma Abu Faisal, milik orang Malaysia. Kebun ini bersih, dan memiliki show room yang bagus serta tertata rapi. Aneka jenis kurma, baik segar maupun masak, curah maupun kemasan, serta aneka produk lainnya dijual dengan harga di bawah pasaran. Tentu saja ibu-ibu "kalap" berbelanja di sini. Saya juga, sebagian uang saku saya habiskan di sini, tapi ya masih ada batasan sih, maksudnnya dibatasi isi dompet yang memang nggak tebal, hehe.

Pesta Ruthab

Kurma muda di Show Room Kebun Kurma Abu Faisal
Di pusat kurma inilah, saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri, serta mencicipi hingga puas (malah makan hingga kenyang, sih), apa itu ruthab. Di Indonesia, paling banter kita hanya bisa mendapatkan kurma masak (tamar). Sangat jarang kita bisa mendapati kurma segar atau ruthab di Indonesia. Wajar saja, kalau tidak dimasukkan ke freezer, jelas kurma ini akan berubah menjadi matang saat dalam perjalanan.

Ruthab memiliki dua jenis warna, ada yang merah, ada juga yang kuning. Hanya dengan SR 10, kita bisa membeli seplastik ruthab yang benar-benar baru petik dari pohon. Rasanya segar, agak sepat namun cukup manis. Sekali makan, saya langsung suka dengan ruthab. Wah, pesta ruthab deh saat itu. Seplastik ruthab hampir saya habiskan sendirian, eh bareng suami ding...

Efek bagusnya, beberapa jamaah yang mengalami konstipasi, banyak yang kemudian bisa ke belakang untuk BAB. Kandungan serat ruthab memang tinggi, sementara, menu yang kami santap selama di Madinah sangat minim sayuran.

Kurma muda ini punya khasiat luar biasa, di antaranya kaya dengan antioksidan semacam beta karoten, lutein dan zeaxanthin.Menyantap kurma ini bisa membuat kulit menjadi halus, awet muda dan terhindar dari kanker, sebab antioksidan bekerja melawan terbentuknya radikal bebas yang bisa merusak jaringan tubuh.

Menurut referensi yang saya baca, kurma muda juga memiliki aktivitas estrogenik, sehingga bisa meningkatkan kesuburan. Pantas saja, kurma muda banyak dipakai dalam program kehamilan. Berminat mencoba?

BERSAMBUNG

0 Response to "Catatan Haji #4: Masjid Quba, Kebun Kurma dan Pesta Ruthab"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

banner