#CatatanHaji11: Mina, Lempar Jumroh, Indahnya Jamarat

Perjalanan menuju Jamarat di Hari Nahar (dokumen pribadi)
21 Agustus 2018 (10 Zulhijjah 1439H)
Matahari mulai menerangi Padang Pasir Muzdalifah, kelam sirna, tersibak cahaya kemerahan. Terasa jelas kini panorama Muzdalifah, tampak semakin indah. Usai shalat subuh, kami berbaris, antre di tepi jalan, menunggu bus yang akan menjemput kami. Alhamdulillah, setelah antre sekian lama, akhirnya bus yang mengantar rombongan kami sudah sampai. Kami menaiki bus dengan tubuh agak sempoyongan karena penat, lelah dan mengantuk.

Bus meluncur menuju Mina. Di depan gerbang Maktab 16, bus tersebut berhenti. Kami turun dengan tertib, dan berjalan menuju tenda. Menurut pembimbing haji, kami diminta istirahat dulu di tenda sebelum berangkat menuju Jamarat untuk melakukan aktivitas lempar jumroh.

Namun, memasuki tenda, saya sesaat terpana melihat tenda yang sudah semakin penuh. Saat tarwiyah kemarin, memang ada beberapa jamaah dari Kloter 39 yang belum bergabung di tenda tersebut, sehingga kami masih bisa berbaring dengan nyaman di tenda yang hanya dilapisi karpet, tanpa bantal apalagi guling itu. Tenda-tenda lain juga masih banyak kosong, karena tak semua jamaah haji mengikuti ibadah tarwiyah yang sifatnya sunnah dan tak difasilitasi Kemenag. Kekosongan itu membuat kami leluasa bisa menggunakannya.

Sekarang, semua tenda telah penuh. Bukan lagi penuh, tapi overload. Padahal, space antar tenda pun hanya menyisakan lorong sempit untuk berjalan. Di luar maktab, berbatasan langsung dengan jalan besar. Ruang kosong benar-benar telah menjadi 'barang superlangka' di Mina.

Kami hanya bisa duduk selonjor saja di dalam tenda. Memang ada yang diprioritaskan untuk bisa istirahat dengan lebih baik, yakni para ibu-ibu yang sudah sepuh dan jamaah yang sakit. Semalam suntuk berada di Muzdalifah yang terbuka, apalagi kaum pria hanya menggunakan pakaian ihram, telah membuat banyak dari kami yang jatuh sakit. Kami tak sampai hati berebut tempat dengan mereka. 

Mina Asli vs Mina Jadid


Lokasi sekitar Jamarat, 3 KM dari tenda kami (dokumen pribadi)

Rasa kantuk yang tadi begitu kuat saya rasakan, mengingat semalam nyaris tak memejamkan mata, hilang seketika. Di tenda yang overload, saya dan beberapa jamaah yang usianya relatif muda membunuh letih dengan bercakap-cakap santai dan menikmati makan pagi yang disediakan maktab.

Usai istirahat sejenak, pembimbing kami, Pak Thontowi mengumpulkan jamaah untuk bersama-sama berjalan menuju jamarat, yang berjarak sekitar 3 km dari tenda kami. Kok jauh banget? Ya, karena meskipun masih termasuk dalam daerah Mina (bukan Mina Jadid), lokasi maktab kami sudah di ujung Mina.

Apa sih, Mina Jadid itu? Jadi begini. Karena luas Mina terbatas, sementara jamaah haji terus saja bertambah, akhirnya para Ulama Arab Saudi berijtihad untuk melakukan perluasan wilayah Mina. Daerah baru itu namanya Mina Jadid, masih tersambung dengan Mina yang asli. Jarak Mina Jadid tentu semakin jauh dari Jamarat (lokasi lempar jumroh).

Nah, status hukum Mina Jadid ini masih kontroversial. Masih ada sebagian kaum muslimin yang menganggap bahwa Mina Jadid bukanlah Mina, sehingga tidak sah. Karena itu, banyak jamaah haji yang memilih tidur di jalanan Mina asli, dengan alas tidur seadanya, tikar, kardus, matras dan sebagainya. Kebanyakan dari negara asing. Mayoritas umat Islam Indonesia tidak mempermasalahkan status hukum Mina Jadid.

Lempar Jumroh Hari Nahar

Pintu masuk menuju lokasi Jamarat (dokumen pribadi)
Ada 2 jenis lempar jumroh dalam ibadah haji, yang pertama yang dilakukan pada hari nahar. Hari nahar adalah hari kepulangan ke Mina, yakni 10 Zulhijjah. Hari nahar ini bersamaan dengan hari raya Idul Adha. Bagi kaum Muslimin yang tidak berhaji, pada hari tersebut mereka shalat Idul Adha dan diikuti dengan penyembelihan qurban. 

Bagi umat muslimin yang berhaji, mereka berada di Mina, tidak shalat Idul Adha, tetapi melakukan lempar jumroh Aqabah sebanyak 7 kali. Pada jumroh di hari nahar ini, yang dilempar hanya tiang Jumroh Kubro dengan 7 batu yang telah dipersiapkan sejak dari Muzdalifah. Dua tiang jamarat lain yaitu Ula dan Wustho ditutup. Tetapi, ada juga jamaah haji yang mungkin manasiknya kurang banyak, mencoba menembus kedua tiang tersebut, namun langsung diingatkan para petugas. 

Perjalanan menuju Jamarat sendiri sangat mengasyikkan, meski juga melelahkan. Karena lokasi tenda Maktab 16 berada di ujung Mina (Mina End), maka jarak menuju Jamarat cukup jauh, sekitar 3 km lebih. Jadi, perjalanan pulang-pergi menuju Jamarat menempuh jarak sekitar 6-7 km

Tetapi, karena kami berjalan bersama-sama, sambil bersenandung kalimat talbiyah, maka rasa lelah seakan tak terasa. Apalagi, bukit-bukit di Mina, serta pucuk-pucuk tenda yang memutih, serta lautan jamaah haji yang tumplek blek dengan berbagai ragam suku bangsanya, merupakan pemandangan yang sangat menarik. Kami juga melewati terowongan Mina yang legendaris. Terowongan sangat panjang dan sejuk. Terbayang deh, kalau lewat jalur di luar sana, panasnya luar biasa. Karena pernah terjadi tragedi yang memakan korban jiwa begitu banyak, Terowongan Mina telah dibuat menjadi satu jalur saja.

Sampai di tenda, jamaah kemudian melakukan cukur rambut dan mengganti pakaian ihram dengan pakaian biasa. Kaum lelaki rata-rata mencukur rambutnya sampai habis alias gundul. Kalau perempuan cukup memotong sedikit rambutnya. Ini disebut sebagai tahalul pertama. 

Tahalul pertama membuat jamaah halal melakukan beberapa hal yang dilarang saat ihram, kecuali berjimak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Jika kamu telah melontar jumrah dan telah bercukur maka telah halal bagimu parfum dan segala sesuatu kecuali jimak” (Hadits Riwayat Abu Dawud).

Usai bercukur, sebagian dari kami alias perwakilan, diminta untuk menyaksikan penyembelihan qurban (hadyu). Penyembelihan hadyu ini tidak sama dengan yang terjadi di Indonesia. Hadyu di sini sebagai konsekuensi karena jamaah haji Indonesia melakukan ibadah haji model tamattu (yakni dengan mengerjakan umroh dulu sebelum haji). Haji dengan model tamattu dan qiran (haji dilaksanakan bersamaan dengan umroh), mewajibkan menyembelih hadyu dan harus disembelih di hari nahar di Mina, usai melakukan jumroh aqabah dan tahallul awal.

Indahnya suasana di Jamarat sedikit gigis saat kami kembali harus berhadapan dengan suasana tenda yang overload. Kali ini, kami benar-benar sudah sangat lelah dan butuh berbaring meski sebentar. Karena kondisi memang sangat penuh, akhirnya kami (jamaah yang usianya relatif muda, hehe), melakukan semacam 'shift' untuk tidur. Satu jam tidur, nanti bergantian yang dengan yang lain. Lumayanlah, bisa mengurangi rasa lelah dan kantuk.

Dalam kondisi semacam itu, kami berusaha semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan membaca Al-Quran dan berzikir. Kondisi crowded semacam itu sangat rentan memicu cekcok, serta sikap-sikap yang tidak diharapkan. Dan memang beberapa letupan-letupan sempat terjadi di antara para jamaah.

Untungnya, saat malam, sebagian jamaah pria dengan penuh keikhlasan memberikan separuh tempatnya kepada jamaah wanita. Hijab pembatas antara space pria dan wanita (kami satu kloter diberi satu tenda, disekat-sekat dengan hijab), dimajukan. Para pria kemudian belusukan masuk ke tenda-tenda lain yang masih ada sisa ruang, atau tidur di luar tenda. Luar biasa pengorbanan para bapak tersebut.

Pemberian space itu tidak sepenuhnya membuat kami mampu tidur dengan leluasa. Kami masih harus berdesak-desakan. Namun, setidaknya kami bisa berbaring. Lumayan, bisa tidur pulas untuk menyiapkan energi esok harinya.

Namun, masalah di tenda bukan hanya space yang overloaded. Juga keberadaan sarana MCK yang sangat kurang. Satu maktab terdiri dari sekitar 3000 jamaah, dan hanya tersedia sekitar 60 kamar mandi. Bayangkan, betapa antrenya. Enam puluh kamar mandi ini lumayan, sebab berdasarkan cerita dari jamaah maktab lain, malah ada yang kamar mandinya lebih sedikit lagi, sehingga bisa antre kamar mandi sekitar sejam.

Menyiasati hal ini, saya biasa melakukan bersih-bersih justru ketika malam hari, sekitar jam 10 malam, saat yang lain sudah mulai terlelap. Mandi, keramas, ganti pakaian, dilakukan menjelang tidur, lucu juga sih. Tapi ya itu realitanya. Saat bangun sekitar jam 3 malam, kami tinggal wudhu dan sikat gigi, yang bisa dilakukan di tempat wudhu, jadi tak perlu antre kamar mandi.

Masalah sanitasi juga bisa bikin kepala pusing, khususnya buat yang punya standar kebersihan tingkat dewa. Sampah-sampah berserakan, dan menggunung. Pampers dewasa menumpuk di kamar mandi. Banyak jamaah lanjut usia yang menggunakan pampers dewasa, dan mungkin agak bingung bagaimana cara membersihkannnya. Saran saya, tidak perlu marah-marah. Minta saja plastik kepada petugas haji, dan kumpulkan itu sampah, pampers, tisu, pembalut dan sebagainya. Lalu buang di tempat sampah terdekat.

Jijik? Sementara, hilanglah! Ini sarana berburu pahala luar biasa besar, Non!

Kebiasaan serobot antrean juga sering--sangat sering terjadi. Siap-siaplah menahan diri, ketika sudah antre lama, mendadak ada seseorang (biasanya sudah sepuh) langsung menyerobot antrean dengan tampang tak bersalah. Netizen maha baik yang suka protes, sebaiknya ambil napas panjang dan tahan diri untuk tidak marah-marah.

Lempar Jumroh Hari Tasyrik

Menikmati lezatnya Al-Baik, sekitar 1,5 KM dari Jamarat (dokumen pribadi)
Lempar jumroh yang kedua dilakukan pada hari tasyrik. Berbeda dengan jumroh di hari nahar, lempar jumroh di hari tasyrik dilakukan tiga kali tiap harinya, yaitu melempar jumroh di tiang jumroh sughro/'ula, jumroh wustho dan jumroh kubro/aqabah, masing-masing 7 batu, jadi total 21 batu per hari.

Bagi yang melakukan nafar awal (pulang lebih awal), lempar jumroh hari tasyrik hanya dilakukan pada tanggal 11 dan 12 Zulhijjah. Sedangkan yang nafar tsani (pulang gelombang kedua), lempar jumroh tasyrik ditambah menjadi 3 hari yakni 13 Zulhijjah. 

Nafar awal atau tsani sendiri adalah pilihan. Sangat bergantung pada situasi dan kondisi dari jamaah haji. Bagi jamaah yang sudah lelah, sepuh, sakit dan sebagainya, nafar awal tentu lebih baik. Saat itu, karena suami saya adalah ketua regu, dan di regu saya ada beberapa manula, kami memutuskan melakukan nafar awal. Tanggung jawab mengawasi anggota regu, mengalahkan keinginan pribadi untuk tetap berada di Mina hingga 13 Zulhijjah. Sedih juga sebenarnya...

Perjalanan menuju Jamarat di Hari Tasyrik (dokumen pribadi)
Pada hari tasyrik ini, kami berjalan menuju jamarat bakda shubuh. Jadi suasana masih sangat sejuk. Melewati jalan menanjak, dengan bukit-bukit menjulang serta pucuk-pucuk tenda memutih yang ditimpa sinar matahari yang kemerahan, membuat suasana menjadi begitu indah.

Pada jumroh hari tasyrik ini, semakin banyak jamaah yang mewakilkan (badal) lempar jumroh pada jamaah lain. Saya sendiri juga membadalkan lempar jumroh seorang jamaah. Caranya, kita lempar jumroh dulu untuk kewajiban kita, yakni 7 butir batu, setelah itu baru melakukan lempar jumroh jamaah lain yang kita badalkan.  Dua kali lempar jumro (14 butir batu) di tiang jumroh ula, lalu beranjak ke tiang kedua (jumroh wustho), melempar 2 x 7 butir batu, dan seterusnya. Kalau kita membadalkan 2 jamaah, berararti masing-masing tiang kita melempar 21 butir, dan seterusnya.

Umumnya jamaah yang sudah sepuh atau sakit, dan sudah tak kuat lagi berjalan kaki menuju jamarat. Ya, memang tak ada alternatif selain jalan kaki. Ada memang, jasa sewa kursi roda, tetapi tentu sangat mahal. Dengar-dengar tarifnya mencapai 500 riyal saudi (saat itu kursnya 1 SR sama dengan Rp 4.000, ya maklum sih, jarak tenda ke jamarat cukup jauh.

Butuh persiapan fisik untuk naik haji, tetapi yang paling penting adalah jalan kaki. Bagus lagi jika jalan kaki di waktu siang di bawah panas terik mentari. Sebab, itulah yang akan banyak terjadi di tanah suci, khususnya saat menjalankan ibadah haji. Berbeda dengan umroh, yang hanya terfokus di Masjidil Haram, dan penginapan pun biasanya dekat dengan masjid, prosesi Haji jauh lebih berat dan membutuhkan kesabaran sangat ekstra.

Saya dan suami pernah merasakan jalan kaki di bawah suhu yang nyaris mencapai 50 derajat celcius di jam 13. Saat itu, usai lempar jumroh tanggal 11 Zulhijjah, kami melanjutkan perjalanan menuju Sisyah untuk bertemu dengan beberapa kawan dari kota lain yang berhaji di tahun tersebut. Jarak lokasi pertemuan sekitar 1,5 km dari Jamarat, jadi nambah jarak lagi kalau dihitung dari tenda kami. Pulangnya, kami harus berjalan kaki sejauh sekitar 5 km lebih (karena pakai acara tersesat segala, hehe) di bawah matahari yang sangat terik membakar. Saya benar-benar sudah merasa nyaris tak kuat saat itu.

Nafar Awal

Trik menyiasati terik matahari, masker dan payung (dokumen pribadi)
Seperti yang saya sebutkan di atas, kami memilih nafar awal, meski hasrat hati sangat ingin menginap semalam lagi dan pulang tanggal 13 Zulhijjah. Ada beberapa alasan, salah satunya karena faktor bahwa suami saya ketua regu dan bertanggung jawab terhadap anggota regu kami, yang sebagian sudah sangat kepayahan. Kedua, tanggal 13 Zulhijjah bertepatan dengan hari Jumat. Suami saya ingin shalat Jumat di Masjidil Haram, dan itu sangat sulit dilakukan jika harus nafar tsani.

Akhirnya, setelah melakukan lempar jumroh yang perjalanannya dilakukan sejak bakda subuh, tanggal 12 Zulhijjah, kami meninggalkan Mina sekitar jam 8 pagi. Bus yang membawa kami kembali ke Mekkah, telah siap membawa kami meninggalkan Mina.

Ada rasa sesak dan haru saat kami harus pergi meninggalkan tempat yang telah beberapa hari kami tempati itu.

Entah kapan lagi kami bisa datang ke sini untuk melakukan prosesi Haji, mengingat daftar antre haji reguler begitu panjang. Padahal, untuk mendaftar lagi, kami harus menunggu 10 tahun. Ditambah antrean yang rata-rata 20 tahun, jika ada kesempatan, kami harus menunggu 30 tahun lagi. Masjidil Haram dan Masjid Nabawi mungkin masih bisa kami datangi lagi saat ibadah umroh, tetapi, Mina hanya bisa didatangai saat Haji. Kalaupun tidak musim haji dan datang ke sana, Mina hanyalah sebuah padang yang sepi.

Tapi setidaknya, saya sangat bersyukur, karena diberikan kesempatan Allah SWT untuk berhaji di usia yang masih relatif muda, 39 tahun. Ini sebuah nikmat yang tiada tara.

Bus berjalan pelan. Saya menatap ke sebelah, menyaksikan tenda-tenda yang berjajar memutih. Selamat tinggal, Mina!

7 Komentar untuk "#CatatanHaji11: Mina, Lempar Jumroh, Indahnya Jamarat"

  1. Netijen maha benar kalo naik haji harus bersabar ya mbak 😂? Jangankan pas haji, pas mudik lebaran aja toilet umum kadang sampahnya meluber juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, yang sering ditekankan oleh pembimbing memang sabar dan sabar

      Hapus
  2. Masyaa Allah, saking banyaknya jama'ah haji sampai diperluas Mina nya ya Mbak. Cuma tidur di jalanan itu apa gak dingin ya, yang saya tahu di sana kalau malam dingin sekali

    BalasHapus
  3. MasyaAllah, beruntung banget bisa berkunjung ke tanah Suci, btw aku mau baca dari episoe pertama dulu biar ceritanya lebih nyambung serta komplit

    BalasHapus
  4. Ya Allah Mb perlu energi Ekstra ya pergi berhaji ini masyaAllah, apalagi saat berada di momen puncak pelaksanaanya, Arafah 💕

    BalasHapus
  5. Ya, Mba butuh tenaga yang luar biasa untuk ibadah ini yah. Semoga kami kelak juga pergi dalam kondisi sehat dan kuat sehingga bisa beribadah maksimal

    BalasHapus
  6. Masya Allah terharu dan merinding bacanya mbak, butuh tenaga besar ya untuk menjalankan ibadah ini apalagi medannya tidak familiar dengan kita..semoga bisa dimudahkan ke Tanah Suci aamiin

    BalasHapus

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

banner

Iklan Bawah Artikel