Yang Kesepian Di Tengah Keriuhan

Foto: freepik.com
Dunia benar-benar penuh dinamika. Saking dinamisnya, di zaman ini  segalanya jadi terbolik-balik. Misalnya, standar ketampanan berubah dari gagah perkasa menjadi  cantik ala cowok Korea. Dulu, kita diperkenalkan sosok lelaki sejati itu mirip Gatotkaca, otot kawat, balung wesi. Berkumis tebal melintang, dan badan macho. Sekarang, lelaki itu berdagu lancip, berbibir merah, lengkap dengan poni di dahi.

Sementara, kaum perempuan berlomba-lomba membesarkan lengan agar menjadi menjadi kekar. Bahkan ada yang sengaja memotong sangat pendek rambutnya, atau bahkan menggundulinya demi model terkini. 

Betapa banyak kita melihat orang-orang berkumpul mengerumuni meja makan di resto-resto, tetapi tangan, mata, hati dan pikiran mereka sibuk dengan benda segi empat di depan mereka. Yang jauh menjadi dekat dengan teknologi gadget, tetapi yang dekat menjadi jauh, karena setiap saat kita sibuk dengan gadget kita. Ada tapi tiada. Tiada tapi ada. 

Dan, orang pun mulai merasa sunyi, meskipun dia sebenarnya ada di keramaian. Bersedih, meski berlimpah kesenangan. Merana, di tengah gebyar hiburan malam. Menangis, tanpa tahu apa sebabnya. Ada perasaan tertolak, tetapi entah siapa. Ada perasaan tak akrab, tapi tak mengerti asal-muasalnya. 

Sebenarnya, kita berada di sebuah zaman seperti apa?

Sebuah survey menyebutkan, bahwa satu dari tiga orang merasa mengaku kesepian, meskipun sebenarnya dia banyak teman. Kontak di ponselnya terisi ratusan bahkan ribuan. Friendsnya di Facebook mencapai batas maksimal, followersnya di Twitter ribuan. Tetapi, dia tetap saja merasa sunyi.

Padahal, menurut riset dari University of New York, sebagaimana dilansir dari tirto.id, menyebutkan bahwa rasa sepi dan isolasi sosial, meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 29% dan stroke hingga 32%.  Efek buruk kesepian, menurut situs alodokter (24/1/201) juga berisiko mengganggu pencernaan, meningkatkan tekanan darah, dan menurunkan fungsi kekebalan tubuh. Banyak orang yang kesepian mengalami perubahan berat badan secara drastis. Wuih, seram juga ya, efeknya!

Sepi di tengah ramai, menunjukkan kegagalan kita di dalam membangun komunikasi yang intens dengan sesama. Masyarakat modern merasa mampu hidup sendiri dengan teknologi supercanggih. Malas untuk beradaptasi, Mereka memilih membangun tembok tinggi, mengunci gerbang hampir sepanjang waktu, dan berasyik masyuk dengan dirinya.

Interaksi yang terjadi pun kemudian menjadi sangat formal. Tidak ada persahabatan tulus, serta ikatan hati yang harmonis antara satu sama lain. Kebiasaan menyendiri juga membuat kecerdasan sosial seseorang menjadi buruk. Tidak peka, sulit mengendalikan diri, dan terlalu mudah membuat konflik serta ogah menciptakan solusi.

Hal itu diperburuk pula dengan jauhnya diri dari nilai-nilai spiritualitas. Tak ada waktu ‘curhat’ kepada Allah, bahkan sekadar untuk berdoa dan memohon kelembutan hati. Jiwa menjadi gamang, hati menjadi kosong, terjerat depresi.

Mengejar target serta prestasi memang penting. Tapi, mencoba membangun interaksi yang berkualitas dengan sesama, juga Yang Maha Tinggi, jauh lebih penting. Mulailah melempar senyum, salam, dan membangun persahabatan, juga waktu khusus untuk berkhalwat dengan Allah Azza wa Jalla. Lambat laun sepi itu akan pergi, bahkan ketika kita sedang sendiri.

Sesekali, letakkan gadget, terutama saat kita sedang bercengkerama dengan orang-orang tercinta. Pusatkan pikiran, indera dan alat komunikasi kita pada orang-orang di depan kita. Hadirlah di dunia nyata. Turunlah dari alam maya. Pandanglah mereka dengan segenap fokus kita.

Lambat laun, kita akan merasakan kehangatan itu menjalar ke seluruh tubuh kita. Kita tak lagi merasa sepi, sebab kita benar-benar ada dan bersama mereka. 

2 Komentar untuk "Yang Kesepian Di Tengah Keriuhan"

  1. setuju mbak, ini lagi latihan matikan data setiap habis isya'. biar bs ngobrol berkualitas dg anak. gara2 wifi dicabut sih, trus 3 dg tsel kompak lelet, haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, saya juga sama suami sepakat matikan WIFI saat malam

      Hapus

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

banner

Iklan Bawah Artikel