Perlukah Mencantumkan Gelar di Undangan Pernikahan?


Sebenarnya, saya tidak pernah memikirkan ataupun mempersoalkan pencantuman gelar di manapun, termasuk di undangan pernikahan. Saya memang tipenya agak "cuek" ya, alias tak terlalu suka mengomentari apa yang dilakukan oleh orang lain. Bukan berarti saya tidak peduli sama urusan orang lain. Tetapi, saya khawatir terjebak pada penghakiman, padahal kan sebenarnya saya tidak tahu persis latar belakang urusan tersebut. Saya yakin, semua orang pasti punya alasan saat melakukan sesuatu, bukan?

Tetapi, suatu hari, seorang teman menanyakan komentar saya, tentang pencantuman gelar di undangan. Katanya sih, mau dijadikan sebagai bahan pembuatan konten, hehe. Baeklah... karena ditanya, jadinya saya pun menjawab. Masak ditanya diam saja, nanti dikira sedang sakit gigi (padahal nanyanya lewat medsos).

Perlukah mencantumkan gelar di undangan pernikahan? Misal, Dr. Werkudara bin Pandu Dewanata, ST, M.Sc, MBA, M.A (kebayang berapa usianya, menikah dan sudah punya gelar sepanjang ini, hehe) menikah dengan Dr. Arimbi binti Arimbaka, M.Hum. Gagah ya, rasanya? Para tamu undangan dipastikan akan berdecak kagum dengan gelar panjang tersebut. Apalagi jika yang menikah adalah Werkudara dan Arimbi beneran (candaaaa...).

Pada prinsipnya, saya mencoba berpikir positif. Pencantuman gelar dalam berbagai event kan memang sah-sah saja. Apalagi, untuk mendapatkan gelar tertentu, orang harus melakukan serangkaian upaya yang tidak mudah, sebagian malah berdarah-darah. Ada yang harus menempuh semester "bonus" hingga berlapis-lapis, ada yang nyaris DO, ada yang stres berat karena tak juga lulus-lulus. Kemarin, di media-media dikabarkan, ada mahasiswa bunuh diri karena belitan depresi akibat menggarap skripsi.

Semudah-mudahnya menempuh studi, seorang sarjana strata satu harus menghabiskan waktu 4 tahun, atau paling tidak 3,5 tahun (jika sangat jenius dan beruntung). Sarjana sastra dua paling tidak 3-4 semester. Nah, yang strata tiga nih, banyak yang sampai "botak sariawan". Terma botak sariawan ini sebenarnya khas mbak Helvy Tiana Rosa untuk menyebut sesuatu yang sangat sulit diperoleh sehingga memerlukan usaha tak ringan.

Dalam waktu berdekatan, tiga senior saya meraih titel doktor, ketiganya dari Universitas Indonesia. Bisa dibilang WOW. Ada Kang Irfan Hidayatullah, Mbak Helvy Tiana Rosa dan Mbak Intan Savitri. Saya tahu, mereka berjuang keras untuk meraih gelar tersebut. Kang Irfan malah spektakuler. Tahun 2005, ketika beliau terpilih sebagai ketua Umum Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena di Munas I FLP, beliau sudah berstatus mahasiswa S3. Tetapi, titel doktor baru beliau raih tahun 2019. Kabarnya ada berbagai macam peristiwa penuh lika-liku yang benar-benar melatih kesabaran.

Zaman saya kuliah di S1 dulu, ada istilah MA, alias mahasiswa abadi, untuk menyebut mahasiswa yang tidak kunjung lulus meski sudah hampir "overtime". Nah, kampus saya, Fakultas MIPA, dikenal banyak MA-nya. Wajar, jurusan sains memang agak sulit bisa lulus tepat waktu. Jadi, kalau kemudian berhasil diwisuda dan mendapat gelar S.Si, masak saat memakainya kemudian dicela?

Beda masalah kalau gelarnya diperoleh dari beli ijasah palsu, atau pura-pura kuliah, tapi tak pernah masuk, dan tahu-tahu wisuda. Adakah? Ya kali aja ada, hehehe.

Jadi, ketika seseorang meraih sesuatu dengan berdarah-darah, dan kemudian menggunakan sesuatu itu sebagai sebuah atribut, menurut saya kok oke-oke saja. 

Dalam hal-hal tertentu, gelar bahkan dibutuhkan sebagai sebuah jaminan kredibilitas. Di forum-forum ilmiah, diskusi, seminar dan sebagainya, gelar yang melekat membuat orang percaya bahwa dia memiliki spesialisasi tertentu yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Suatu hari, sebuah cuitan melintas di lini masa Twitter. Isinya kurang lebih begini: "teman saya memiliki gelar panjang, tetapi tak pernah mencantumkan. Dia malu, karena apa yang dia pelajari di bangku kuliah selama bertahun-tahun, ternyata bisa diperoleh dengan mudah di Google".

Saya tak terlalu setuju dengan pendapat tersebut. Ada banyak hal yang tak bisa didapatkan di Google. Saat saya memulai menyusun tesis, ada pergantian pembimbing utama. Saat menghadap ke pembimbing baru, ternyata proposal tesis saya dirombak habis, nyaris memulai dari nol. Saya agak frustasi saat itu, karena sebenarnya di pembimbing sebelumnya, proposal itu sudah 90%. 

Bete, kan? Saat itu, saya belajar menyemangati diri, dan alhamdulillah bisa move on. Proses menyemangati sendiri itu tidak mudah, lho!

Hal-hal semacam itu, jelas tak bisa didapatkan di Google, kan? Saya juga tak yakin, Google bisa memberikan informasi perkuliahan secara mendalam, sedalam buku-buku referensi. Atau seperti analisis para profesor di dalam ruang perkuliahan. Beda kasus jika sang dosen mengambil bahan ajar dari comot Google, hehe.

Kembali ke tema di atas, ya... Jadi, perlukah gelar dicantumkan? Perlukah nama kita menjadi lebih panjang karena ditambah sederet gelar?

Sekali lagi, untuk acara-acara resmi, acara-acara formal dan kegiatan-kegiatan yang memerlukan pertanggungjawaban ilmiah, saya kira pencantuman gelar itu bahkan sangat perlu. Tetapi kalau undangan pernikahan?

Hm... gimana ya? Sayangnya saya lupa, dulu saat pernikahan, di undangan saya tercantum gelar nggak, ya? Hehehe. Saya khawatir kalau saya bilang nggak perlu mencantumkan, dan ternyata dulu saya mencantumkan, kan namanya tidak konsisten. Tetapi seingat saya sih, kayaknya tidak mencantumkan. Mohon koreksi kalau salah.

Tetapi, sepertinya mencantumkan gelar di undangan pernikahan sepertinya tak wajib, ya. Apalagi kalau sekadar demi kebanggaan, wow, ini lho saya sudah S3, ini lho suami saya master luar negeri. Nah, kalau sekadar sebuah selebrasi bahwa saya sudah menempuh jalan panjang untuk mendapatkan gelar, ya silakan saja, hehe.

Mencantumkan gelar atau tidak di undangan bukan sebuah "halal-haram", terlalu jauh itu, mah. Kalau mau mencantumkan gelar, ya silakan. Tak usah dinyinyiri. Tak mencantumkan gelar ya, monggo. 

Lebih baik mana? Susah ya, mendeteksi, karena ini sudah persoalan hati. Mencantumkan gelar mungkin dituduh sombong. Namun, tak mencantumkan gelar juga bukan berarti terbebas dari penyakit hati, lhoh. Penginnya terlihat tidak sombong, tetapi dalam hati membatin, "Wah aku benar-benar rendah hati, titelku doktor, tapi nggak dicantumin di undangan." 

Kalau gitu, kan sami mawon, alias sama saja.

Belum ada Komentar untuk "Perlukah Mencantumkan Gelar di Undangan Pernikahan?"

Posting Komentar

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

banner

Iklan Bawah Artikel