Sudah Terbit Balada Cinta Isvara, Ini Behind The Scene-nya!


Alhamdulillah, di awal 2020, salah satu novel saya terbit, Balada Cinta Isvara. Novel ini adalah buku saya yang ke-66. Jika saya mentargetkan bisa menulis 100 judul buku seumur hidup (syukur-syukur diberikan kekuatan untuk menulis lebih banyak lagi), berarti saya masih berhutang 34 judul buku lagi. Hm, sebuah pekerjaan yang berat, terlebih, semakin lama terjun dalam dunia kepenulisan, justru saya merasakan bahwa menulis sebuah buku itu semakin berat. 

Mau tahu alasannya? Saya sulit bisa segesit dulu, saat usia baru 20-an, di mana saya bisa bergadang bermalam-malam, lembur di depan komputer. Membaca buku pun bisa begitu keranjingan, tanpa ada yang mengganggu. Sekarang, dengan semakin banyaknya amanah, waktu untuk menulis menjadi semakin sedikit. Bertambahnya jumlah anggota keluarga, juga membuat saya harus berbagi, mereka kan butuh kehadiran saya juga.

Meski begitu, saya berharap bahwa menulis masih menjadi jalan hidup saya. Karena itu, setiap hari saya mencoba tetap konsisten menulis. Saya bersyukur, saat ini saya masih menjadi kontributor di beberapa majalah, sehingga setiap bulan ada yang mengejar-ngejar deadline. Hal ini membuat saya akhirnya "wajib" menulis. Saya juga merasa beruntung, ada di sebuah komunitas kepenulisan yang terus saja memberikan motivasi untuk terus berkarya. Cemeti-cemeti terus diayunkan. Akhirnya, sampai detik ini, saya masih berada di dalam jalur kepenulisan.

Nah, terkait dengan novel Balada Cinta Isvara ini, ada satu kata pengantar pendek yang ikut dimuat dalam novel tersebut. Silakan disimak, ya!

* * *


Menulis buku bukan hal baru bagi saya. Setidaknya, sejak buku pertama diterbitkan pada tahun 2000, sudah 20 tahun saya berkecimpung di dunia perbukuan. Satu demi satu buku terlahir, semua memiliki kisahnya sendiri-sendiri, dan ini adalah buku ke-66 yang saya tulis. Akan tetapi, buku di tangan Anda ini memiliki keistimewaan tersendiri yang sepertinya sayang jika tak dibagikan kepada pembaca sekalian. Apalagi jika Anda adalah penulis pemula yang sedang berjuang di belantara kepenulisan.

Manuskrip buku ini, sudah saya tulis sekitar 10 tahun silam. Awalnya, saya mengirimkan ke sebuah penerbit, dan ternyata ditolak. Alasannya menarik. Kata editornya, ceritanya bagus, tapi tak sesuai dengan kondisi “kekinian”. Saya tak paham, apa yang dimaksud dengan kondisi kekinian itu? Apakah karena novel saya ini sarat dengan idealisme? Konflik sosial, dalam hal ini buruh-majikan terbaca sangat dominan dalam novel ini? Entahlah....

Beberapa kali, oleh editor penerbit tersebut, saya diminta mengubah dan memoles jalan cerita, dan saya lakukan. Tetapi tetap saja tertolak, hehe.

Kok tidak diterbitkan sendiri? Bukankah saya bekerja sebagai pimpinan di sebuah penerbit, dan ikut menjadi owner pula?


Begini, bagi saya, kontrol atas kualitas karya itu penting. Karena itu, meskipun saya punya penerbit sendiri, saya tetap secara periodik mencoba mengirim beberapa karya saya untuk dinilai tim redaksi penerbit lain. Beberapa penerbit yang bersedia menerbitkan karya saya saat saya sudah bergabung di Indiva Media Kreasi, antara lain Republika (novel Nun, Pada Sebuah Cermin), dan Elex Media (Kesturi dan Kepodang Kuning). Saya khawatir menjadi besar kepala dan tak mau berbenah, jika terus menerbitkan buku-buku saya di penerbit yang saya kelola.

Naskah buku ini pun akhirnya saya revisi dan saya kirim ke penerbit lain. Alhamdulillah, dinyatakan memenuhi syarat. Surat perjanjian sudah dikirim, cover sudah dibuat, eh ... berbulan-bulan tak juga terbit. Ternyata, penerbit tersebut mengalami permasalahan dengan keuangan dan memutuskan untuk tidak menerbitkan naskah ini.

Tentu saya kecewa dengan penolakan tersebut. Rasanya sepertinya seorang pengantin yang gagal akad nikah, padahal gedung sudah disewa dan baju pengantin sudah dijahit. Hehe, lebay, ya.... 

Bertahun-tahun, naskah ini saya biarkan begitu saja di folder komputer saya. Tak saya sentuh sama sekali. Bahkan, begitu melihat judulnya saja, rasanya semangat saya seperti diterpa gelombang tinggi.
Sampai akhirnya, suatu saat saya bersih-bersih folder di komputer. Naskah ini saya klik, saya baca lagi hingga selesai. Hai, rasanya kok muncul semangat baru! Naskah ini tidak jelek, batin saya. Juga sarat pesan kebaikan. Kalau soal kualitas sih, saya kira semua orang punya standard sendiri-sendiri. 

Saya menyadari bahwa sebagai penulis, saya masih berusaha terus memperbaiki karya-karya saya.
Akhirnya, saya kembali mengobrak-abrik naskah ini. Sengaja saya tak mengubah setting waktu, yakni sekitar tahun 2010-an. Karena banyak hal yang pastinya harus dirombak habis-habisan jika harus disesuaikan dengan setting sekarang. Jika ada beberapa konteks cerita yang agak berbeda dengan masa kini, mohon dimaklumi, ya. 

Lewat bantuan Mas Ali Muakhir, salah satu sosok yang pernah membidani lahirnya buku-buku saya awal tahun 2000-an dahulu, saat saya memulai berkecimpung di dunia kepenulisan, akhirnya buku ini bisa hadir di hadapan Anda. Terimakasih sebesar-besarnya saya sampaikan kepada beliau, seorang tokoh perbukuan yang sangat rendah hati, meski ilmu dan karyanya sangat berjibun.

Terimakasih saya sampaikan pula kepada suami tercinta, Mas Ahmad Supriyanto yang sejak pernikahan hingga sekarang terus memberikan dorongan positif sekaligus segala fasilitas yang membuat saya mantap menjejak dan menapaki dunia literasi. Juga keempat anak saya, Anis, Rama, Hanifan, Fatihan, bagi saya, mereka adalah mata air ide yang tak pernah kering.

Penghargaan sebesar-besarnya saya sampaikan pula kepada seluruh pengurus dan anggota Forum Lingkar Pena, yang selalu konsisten berjuang menggiatkan literasi di seluruh penjuru negeri. Semoga buku ini memberikan manfaat buat Anda semua.

SPEK BUKU
Judul: Balada Cinta Isvara
Penulis: Afifah Afra
Penerbit: Multikreasindo
Halaman: 400 hal
Ukuran: 14 x 21 cm
Harga asli: Rp 90.000
Harga promo: Rp 70.000
Silakan order ke Angga di SINI.

Setelah melanglang buana ke berbagai negara, Isvara kembali ke tanah air dengan membawa idealisme melambung tinggi. Meski sang ayah adalah pemilik kerajaan bisnis Eureka Media, toh dia justru memilih mengembangkan karir di salah satu perusahaan milik ayahnya yang nyaris bangkrut. Sebuah percetakan di luar kota. Di percetakan tersebut, Isvara berhadapan dengan ribuan buruh yang digaji dengan upah rendah di bawah UMR, serta manajemen yang kejam dan sewenang-wenang.

Saat itulah, dia bertemu sosok beralis lebat bermata tajam: Ayyash Abdurrahman, ketua serikat buruh percetakan tersebut. Ayyash jelas mewakili para buruh yang terzalimi. Peluru demi peluru terlontar. Kebencian demi kebencian menguar. Tak disangka, dari balik konflik yang melelahkan, ternyata mengalun denting-denting asmara yang hinggap begitu saja.

Bisa juga order ke sini!


Belum ada Komentar untuk "Sudah Terbit Balada Cinta Isvara, Ini Behind The Scene-nya!"

Posting Komentar

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!

BELANJA DI TOKO KAMI YUK!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

BELANJA ONLINE DI TOKO KAMI

BELANJA DI TOKO KAMI YUK!

Iklan Bawah Artikel

banner