Takut Itu Mulia!

Suasana Italia saat terkena pandemi Corona
Virus Corona makin merajalela. Efeknya, banyak orang ketakutan dan panik. Beberapa waktu yang lalu, viral di media sosial, bagaimana terjadi panic buying di berbagai pusat perbelanjaan. Orang menimbun bahan-bahan makanan, mungkin khawatir kehabisan stok makanan. Saya sendiri merasakan juga. Gula pasir mendadak langka. Di minimarket langganan menghilang. Akhirnya saya tanya ke petugasnya.

"Mbak, kok nggak ada gula pasir?"
"Hm, ada mbak. Tapi ada di kasir. Satu orang cuma boleh beli satu saja," jawab petugas. "Soalnya khawatir ditimbun, mbak. Kasihan nanti yang butuh. Harganya tetap normal, kok, mbak...."

Saya sangat mengerti dan bahkan berterimakasih kepada manajemen minimarket tersebut. Memang begitulah seharusnya. Jangan sampai aji mumpung dilakukan. Mentang-mentang barang banyak dibutuhkan, lantas dijual dengan harga tak masuk akal.

Kembali ke soal corona ya. Munculnya SARS-NCoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19 telah membuat banyak orang resah, panik dan takut. Tetapi, di sisi lain, banyak juga yang justru seakan-akan menentang maut. Lalu, mereka justru melakukan teror terhadap orang yang merasa takut dan menjaga diri dengan ekstra.

Duh, jangan gitu, dong! Sebenarnya, takut merupakan satu hal yang manusiawi. Takut itu mulia. Bahkan takut merupakan salah satu unsur dari ibadah. Salah satu tujuan dari diciptakannya manusia adalah ibadah. Dalam Al-Quran disebutkan, wamaa khalaqtul jinna wal insa illa liya'budun. Dan tidaklah kami ciptakan jina dan manusia, kecuali untuk beribadah.

Jadi, beribadah merupakan tugas manusia sebagai hamba Allah. Saat belajar tauhid, kita mengenal satu konsep penting dalam beribadah. Yakni, bahwa ibadah merupakan penggabungan yang seimbang antara mahabbah (cinta), khauf (rasa takut) dan raja’ (berharap).

Raja', artinya berharap. Setiap hari kita berharap atas rezeki-Nya, berdoa meminta ini dan itu. Memohon semua yang bisa kita mohon. Berharap pahalaNya, surgaNya.

Khauf artinya takut. Takut akan azab Allah, takut akan siksa Allah, takut dengan neraka, takut dengan balasan perbuatan buruk.

Mahabbah adalah cinta. Kita beriman dan memilih agama ini karena kesadaran dan rasa cinta. Kita merasakan rahman dan rahimNya, mendampa ampunan-Nya, berharap ridho-Nya.

Jadi, jika kita runut dari penjelasan di atas, takut kepada-Nya merupakan salah satu aspek penting dari ibadah. Manusia harus punya rasa takut, tetapi takutnya tentu hanya kepada Allah SWT dengan segala kebesaran-Nya, dengan segala kekuatan-Nya, dengan segala kekuasaan-Nya. Sebaliknya, kita tidak boleh merasa sombong, arogan, merasa hebat, merasa kuat tak ada tandingan.

Salah satu bentuk kekuasaan Allah SWT adalah penciptaan makhluk-makhluk yang begitu dahsyat daya rusaknya. Salah satunya, SARS NCoV2.

Saat ini, seluruh penjuru bumi sedang dilanda pandemi SARS NCoV2 dengan penyakitnya yang disebut Covid-19. Di Indonesia, data terbaru (19/3/2020), menunjukkan angka positif sudah mencapai 309. Meninggal 25. Dengan demikian, prosentase antara jumlah kasus positif dan kematian di Indonesia adalah sekitar 8%, lebih tinggi dari Italia, Iran, bahkan China.

Korban dunia secara global mengalami kenaikan pesat. Beberapa negara seperti Malaysia, Italia, Perancis, dll akhirnya memutuskan lockdown total untuk mencegah semakin banyaknya korban.

Rasa panik, tercekam, takut dan sebagainya, menghinggapi kita semua. Sebenarnya, ini merupakan salah satu cara kita untuk merenungkan salah satu aspek ibadah: khauf.

Jika selama ini kita mendapatkan banyak nikmat, doa-doa terkabul, anak-anak tumbuh dengan sehat, lantas dada kita dipenuhi kesyukuran, itu adalah aspek raja'. Harapan-harapan kita telah banyak dikabulkan oleh-Nya.

Kini, giliran aspek khauf. Allah SWT berfirman, "Dan sungguh kami akan mengujimu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan dalam hal harta, jiwa, dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira terhadap orang-orang yang bersabar.” (Al Baqarah: 155).

Lihatlah dengan cerman! Surat Al-Baqarah: 155 tersebut menjelaskan bahwa ada lima jenis ujian yang mungkin dihadapi manusia, yaitu diselimuti rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, berkurangnya jiwa, serta kurangnya persediaan buah-buahan (bahan makanan).

Ujian tersebut harus ditempuh dengan kesabaran, dan bagi yang bersabar dan mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi roji'un (baik secara lisan, secara batin, dan diikuti dengan perasaan ridha dan sabar) Allah mengungkapkan berita gembira: "Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk" (Al-Baqarah: 157).

Jangan anggap orang yang takut dengan fenomena kebesaran Allah SWT sebagai penakut. Sebab,  rasa takut memiliki kedudukan yang tinggi, dan itu sangat penting untuk melunakkan dan menjaga hati. Tentu bukan sembarang takut. Bukan takut hantu, takut bangkrut, takut tak mendapat jabatan, takut duniawi. Tetapi rasa takut kepada Allah.

…Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran; 175).

Seorang ulama mengatakan, “Khauf adalah cemeti Allah yang digunakan untuk meluruskan orang dari jalan sesat menuju jalan yang benar."

Jadi, mari jadi pandemi corona virus ini sebagai cemeti untuk kita agar kembali ke jalan lurus. Mari kita anggap bahwa corona virus ini memang diciptakan dan diturunkan Allah SWT agar kita senantiasa tunduk dan tidak jumawa. 

Saat ini, kita tahu bahwa negara-negara besar supermaju pun merasakan ancaman yang berat karena corona virus ini. Kadang, rasanya memang musykil, di era supercanggih sekarang ini, ternyata masih ada penyakit infeksi. Uniknya, penyakit infeksi yang biasanya terjadi di negara2 dunia ketiga yang miskin dan terbelakang, sekarang terjadi di negara-negara besar, maju dan kaya, yang tentu memiliki tingkat kesehatan, kebersihan dan teknologi medis yang canggih.

Aneh juga, jika atlet-atlet yang memiliki imunitas sangat kuat dan tentu pola hidupnya pun sangat sehat, ternyata ikut terinfeksi penyakit ini.

Tak ada yang tak mungkin di dunia ini, jika Allah telah berkehendak. Jadikan kejadian pandemi corona ini sebagai sarana kita mendekat diri kepada-Nya.

Wallahu a'lam.

Kredit foto: theglobeandmail.com

Belum ada Komentar untuk "Takut Itu Mulia!"

Posting Komentar

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!

BELANJA DI TOKO KAMI YUK!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

BELANJA ONLINE DI TOKO KAMI

BELANJA DI TOKO KAMI YUK!

Iklan Bawah Artikel

banner