Catatan Haji #6: Menuju Mekah, Labbaika Umrotan!

Suasana dekat Ka'bah
Akhirnya, genap 8 hari lebih kami berada di Madinah. Sebagai jamaah haji gelombang pertama, seperti saya sampaikan di catatan terdahulu, kami memang lebih dahulu ke Madinah, baru setelah selesai Shalat Arbain kami beranjak menuju Mekah.

Senin sore, 8 Agustus 2018, usai shalat Asyar, kami naik bus menuju kota kelahiran Nabi Muhammad SAW itu. Sejak dari hotel, para pria sudah menggunakan baju ihram, yakni dua kain tanpa berjahit yang dibelitkan di bagian bawah dan atas. Sementara, kaum perempuan menggunakan pakaian bebas namun harus syar'i, lengkap dengan kaos kaki. Kami sudah bersiap untuk melakukan umrah yang merupakan rangkaian dari ibadah haji. 

Saat meninggalkan Madinah dan menatap Masjid Nawabi dari kejauhan, perasaan haru biru mendesak-desak kalbu. Ada perasaan kehilangan. Delapan hari, rasanya hati telah begitu lekat dengan kota ini. Ya Allah, laa haula walaa quwwata illa billah. Entah kapan lagi kami bisa kembali ke Kota Nabi ini. Menyerap hawa sucinya, tunduk sujud bermunajat, sembari merasakan aroma wangi yang menguar dari setiap sudut masjid.

Selamat tinggal, Madinahku... tak butuh waktu lama untuk jatuh cinta kepadamu.
Bahkan, dalam pandangan pertama, hatiku sudah menempati satu sudut di kotamu. 

Miqot di Dzul Hulaifah

Sekitar seperempat jam naik bus dari kota Madinah, kami turun di Masjid Dzul Hulaifah. Orang Indonesia lazim menyebut sebagai Bir Ali. Tempat yang berlokasi di Lembah 'Aqiq ini merupakan miqot (tempat niat umroh/haji) bagi jamaah yang berasal dari Madinah. Kami turun untuk shalat sunnah mutlak 2 rakaat dan melafalzkan niat umroh. "Labbaika umrotan!"

Setelah berniat umrah, berarti kami sudah dalam keadaan ihram. Ada beberapa larangan dalam ihram seperti mencukur rambut (termasuk rambut ketiak, kumis, jenggot dan sebagainya), menggunting kuku, menggunakan wewangian, berburu, memakai baju berjahit (bagi pria), memakai penutup kepala (pria), menutup wajah, melakukan khitbah dan aqad nikah, melakukan jimak, bercumbu atau bermesraan dengan pasangan.

Dalam perjalanan dari Dzul Hulaifah, kami melafalzkan kalimat talbiah, "Labbaikallahumma labbaik, labbaikalaa syarikala labbaik innal hamda wa ni'mata lakawal mulk, laa syarikalaak...."

Awalnya, kami bersemangat terus menerus bertalbiah. Lama-lama, mengantuk dan tertidur. Kami terbangun di peristirahatan di tengah padang pasir, untuk shalat maghrib dan isya yang sekaligus dijamak qoshor. Sayang, tempat peristirahatan kurang tertata. Air menggenang di tempat wudhu, masjid kecil yang ada juga sangat kotor, sehingga akhirnya kami memilih shalat di luar. Di sana tersedia beberapa lembar karpet yang sepertinya memang sengaja disediakan untuk shalat.

Sampai di Mekah

Jarak antara Mekah dan Madinah sebenarnya cukup jauh, mencapai sekitar 450 KM. Namun, karena lalu lintas lancar, jalan-jalan luas, lempang, mulus dan sepi, bus bisa melaju dengan kecepatan tinggi. Sekitar jam 12 malam, kami sudah sampai di Mekah.


Perjalanan menuju Mekah
Bus merapat di pelataran hotel Raudhah Al Aseel, dengan kode 405. Hotel langsung menyatu dengan trotoar, dan tak ada pagar yang menjadi pembatas. Saya mendapat tempat di kamar 405 bersama Bu Harsini dan Laela, puteri beliau. Ya, hanya bertiga, karena kamar kami termasuk kecil. Kamar lain ada yang dihuni 5 bahkan 6 jamaah. Kamar kami berada di lantai 11 dari total 15 lantai. Eh, tapi ini belum termasuk 5 lantai lainnya seperti masjid hotel, restoran, ruang service dan sebagainya. Di sini, kami jelas tak sanggup naik turun tangga, tak seperti saat di Madinah. Pernah saya mencoba turun dari lantai 11 ke ruang masjid, kaki langsung gemetaran, padahal baru turun, lho, bukan naik.

Keterangan di pintu kamar hotel saya
Hanya sebentar kami di hotel. Meletakkan tas tenteng di kamar, berwudhu, dan sekadar eksplorasi sesaat. Kami akan langsung menuju Masjidil Haram untuk melakukan thowaf, sa'i dan tahalul. Ketua rombongan (Karom) 4, yakni rombongan kami, Pak Yuni Wartono sudah siap di ruang lobi bersama 45 anggota rombongan. Oh, ternyata tak hanya rombongan 4 yang akan melanjutkan ibadah umroh malam itu juga, tetapi juga rombongan 5. Mereka mayoritas berasal dari KBIH Mandiri.

Ceritanya begini... regu saya, yakni regu 1 rombongan 4, merupakan regu peralihan. Ada 7 dari jamaah KBIH Aisyiah, ada 5 dari KBIH Mandiri. Sementara, rombongan 1-3, semoga dari KBIH Aisyiah. Sedangkan rombongan 4-5, mayoritas KBIH Mandiri.

Karena kami sudah satu bis dengan mereka, akhirnya aktivitas kami mengikuti mereka. Namun hanya untuk umroh kali ini saja. Selanjutnya, nanti kami akan bergabung dengan KBIH Aisyiah.

"Ayo kita langsung umrah malam ini juga, biar besok subuh sudah selesai dan bisa langsung istirahat. Kita akan dipandu muthowif saat umroh," ujar Pak Yuni.

Kami meluncur menuju Masjidil Haram yang terletak sekitar 3,5 km dari hotel. Jalan kaki? Oh, tentu tidak. Ada bus shalawat nomor 9, namanya Saptco, yang disewa pemerintah Indonesia yang akan membawa jamaah menuju Al Haram.

* * *

Suasana sa'i
Tak mudah ternyata, mengelola sekitar 90 orang yang sedang kelelahan akibat perjalanan lumayan jauh dari Madinah. Sampai Masjidil Haram, rasanya masih jetlag. Banyak yang bolak-balik kamar mandi. Maka, saat hendak menuju tempat thowaf, kami sudah mendekati subuh dan mathaf (tempat thowaf) di floor alias lantai 1 yang tepat di bagian Ka'bah, sudah ditutup. Padahal saat itu baru jam 3 malam, sementara subuh mendekati setengah lima.

Kesempatan menunggu kami gunakan untuk qiyamul lail, yang dilanjutkan shalat subuh di masjid tersebut. Baru setelah itu kami bisa beranjak menuju mathaf.

Beginilah suasana Mathaf saat Musim Haji (foto saya ambil dari roof top)
Luar biasa penuh tempat thowaf di lantai 1 pagi itu. Kami berdesak-desakan dengan puluhan ribu jamaah lainnya. Kadang begitu macet sehingga kami benar-benar terdorong dari belakang oleh jamaah negara lain yang (mohon maaf) agak kurang sabar dan ingin segera menyelesaikan thowafnya.

Mencium Hajar Aswad? Ah, sangat sulit. Kami hanya memberi isyarat dengan melambaikan tangan saat melewati sudut tersebut sambil berkata, "Bismillahi allahu akbar!"

Setelah berdesak-desakan sekitar hampir sejam, akhirnya kami selesai thowaf, dilanjut shalat sunnah  dan sa'i. Jam 8 pagi, rangkaian umroh kami akhiri dengan tahalul, mencukur rambut bagi pria, dan beberapa helai rambut bagi wanita.

Kami terduduk di lantai area Marwa. Rasanya sungguh lelah dan mengantuk. Tetapi, lega dan bahagia. Umroh wajib sudah berakhir, dan untuk beberapa lama, kami akan menetap di Hotel Raudhah Al-Aseel untuk menunggu wukuf di Arafah dan rangkaian ibadah haji lainnya.

Labbaikallahumma labbaik!

BERSAMBUNG


0 Response to "Catatan Haji #6: Menuju Mekah, Labbaika Umrotan!"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

banner

Iklan Bawah Artikel

banner